Hari ini hujan di hari Jumat, seperti biasa scrolling instagram dan nggak sengaja baca postingan salah satu penulis “Azhar Nurun Ala”. Katanya - Kita nggak tahu apa yang kita perjuangkan akan menghasilkan kebahagiaan atau tidak, tetapi kita bisa memilih selalu bahagia di prosesnya.
Menjadi bahagia itu tidak mudah, apalagi seiring masalah yang satu demi satu muncul dan satu demi satu pula terselesaikan. Apakah ini dialami oleh semua manusia ? Bagaimana mereka bisa bertahan dan menjadi bahagia dengan versinya masing-masing ?
Saya sendiri belum menemukan jawabannya, sampai saat ini hal yang ingin sekali bisa terwujud dan mungkin bisa membuat saya bahagia adalah bisa bersama-sama dengan suami dan anak. Bagi si pemendam perasaan rasanya saya butuh suami untuk bisa mendengarkan cerita tiap malam. Bagi si tukang bingung, rasanya butuh kamu buat bisa meyakinkan keputusan yang saya ambil tepat.
Saat memutuskan menikah, raga dan rasa ini langsung bergantung dengan mu, sangat berat bila harus dilalui dengan jarak. Mungkin kamu juga merasakan hal yang sama. Tidak setiap hari bisa bermain dengan anak, yang sekarang tiap di video call selalu menghindar entah kenapa. Saya rasa salman sudah mulai bertumbuh batinnya.
Dan yang paling berat bagiku, berusaha bahagia didepan anak. Dan bagimu mungkin berusaha kuat didepan istri dan anak. Sungguh mungkin ini jalan Allah yang harus kita tempuh, tapi kalau lelah bolehkan kita istirahat sejenak ?
Sebentar, menulis ini pun saya tidak kuat menahan air mata
Plot twist memang, seperti perasaan saya sekarang. Pikiran bercabang gatau darimana harus disusun.
Kembali lagi seperti kata diatas, ingin rasanya bahagia di prosesnya juga. Karena saya tidak mau melewatkan momment yang nantinya akan saya sesali, kita nggak tau yang namanya waktu kapan akan berakhir, yang ingin saya lakukan melakukan sebaik-baiknya waktu yang ada sekarang bersama.
Dan akhirnya ada kesempatan untuk bersama, Lowongan Pekerjaan di kota ini terbuka. Saya yakini ini jalan Allah agar kita bisa bersama, kalau di sia-siakan, apakah kita sanggup menunggu lebih lama lagi ?
Memang berat berhenti disaat kebutuhan membangun rumah masih banyak, tapi apakah salah bila sekarang kita coba andalkan janji Allah “ Bahwa rezeki itu dimanapun tempatnya, pasti juga segitu”. Apakah salah bila kita berjuang dari nol disini dan bersama sama mencapai Ridho-Nya dan memperbaiki tingkat keimanan kita bersama tanpa berjarak.
Kangen, masa dimana menghabiskan waktu berdua berargumen makanan dan gimana caranya berhemat, bertengkar masalah jemput dan menunggu lama. diakhiri jamaah berdua, jabat tangan setelah sholat, baca al-quran bareng, hujan hujanan ke majelis taklim, bangunin sholat dan saling bercanda.
Allah mudahkan urusan dan mimpi kami, lindungi kami dari rasa gelisah dan sedih. Bahagiakan kami dan tunjukkan jalan terbaik untuk kami. aamiin