"Jika setiap langkah dalam hidup harus menunggu ketika sudah siap, barangkali tidak ada seseorang yang benar-benar bisa memulai apa pun."
Kehidupan tidak berjalan menunggu ketika kita siap.
Waktu terus berlalu, kesempatan selalu datang dan pergi, dan berbagai fase kehidupan akan silih berganti menghampiri. Kita lah yang kemudian belajar menjadi siap sembari menjalaninya.
Sebab ketika ditanya tentang kesiapan, yang sering kali terpikirkan adalah berbagai kekhawatiran yang dikedepankan. Takut gagal, takut salah, takut kecewa dan mengecewakan, dan segala ketakutan menghadapi hal-hal yang belum diketahui. Padahal hidup memang tidak pernah menawarkan kepastian.
Itulah kenapa kita diajarkan untuk mengimani takdir.
Bahwa tidak semua hal harus dipahami terlebih dahulu sebelum dijalani. Hidup ini kan tidak ada simulasinya. Kita tidak bisa berlatih terlebih dahulu untuk setiap fase yang akan datang.
Kendati demikian, bukan berarti kita akan menjalani hidup dengan tangan kosong. Kesiapan tetap harus diusahakan melalui ilmu, ikhtiar, dan berbagai bekal yang bisa kita kumpulkan sebagai modal, lalu berserah kepada-Nya atas hal-hal yang berada di luar kendali.
Bagi aku sendiri, kesiapan itu sifatnya relatif. Barangkali kita sudah siap dalam satu aspek, tetapi belum siap dalam aspek lainnya. Bahkan setelah melakukan persiapan terbaik sekalipun, tidak ada jaminan bahwa kita akan siap seratus persen.
Seiring dengan itu semua, yang membuat seseorang mampu menjalani kehidupan bukanlah perihal telah siap sepenuhnya, tetapi adalah karena terus belajar, berusaha, dan percaya bahwa Sang Maha Penyayang akan mencukupkan apa yang belum dimiliki hari ini.
---



















