Semoga Tersampaikan
Kira-kira 2 tahun lalu banyak hari yang aku lewatkan di kamar, tidak ingin bertemu orang dan berinteraksi dengan manusia lainnya kecuali dengan diri sendiri. Kegiatanku setelah bangun tidur: makan, mandi, duduk didepan cermin dan mengajak ngobrol apa yang dipantulkan di cermin itu. Menjelang sore hingga petang aku akan meringkuk di atas kasur. Tengah malam aku terbangun lalu duduk kembali di depan cermin. Mengobrol dengan tatapan kosong hingga lelah kemudian tidur kembali. Apa yang terjadi denganku?
Suatu hari, malam yang biasanya aku habiskan dengan meringkuk dan meneteskan air mata tanpa sadar. Aku duduk menyandar di tepi kasur, memegang handphone. Scroll sosial media yang sudah lama aku tinggalkan karena aku sudah bosan melihat orang-orang yang aku kenal foto ceria berlatarkan gunung, kota besar, dan pantai. Selain tiga hal itu, ada foto-foto balita dengan caption puitis dari orang tuanya. Aggrh, aku muak!
Jempol kananku berhenti pada seorang publik figure yang tak asing bagiku, Kang Maman. Lelaki berumur tanpa rambut. Aku tahu sosoknya lewat tulisan-tulisan yang dulu aku nikmati di koran dan seingatku waktu aku masih sekolah menengah, aku sempat nonton talkshow yang membahas aksi sosialnya. Beliau, mengirim beberapa buku (ratusan) ke pelosok wilayah Indonesia, berkardus Al-Qur’an dan kitab lainnya untuk dibagikan ke perpustakaan, komunitas literasi, sekolah, tempat ibadah dan tempat-tempat dimana masyarakat daerah mudah mendapatkan produk literasi. Kang Maman, membuat video singkat give away untuk mendapatkan bukunya yang berjudul “…dan janda itu ibuku”. Rupanya sekarang beliau bekerja sama dengan UMKM dan JNE. Paket give away-nya tak hanya buku beliau, tapi juga ada produk UMKM yang waktu itu berupa kain batik.
Tersenyum aku melihat informasi itu di Instagram. Panjang umur orang baik ucapku dalam hati dan senyumku semakin melebar mengetahui perjuangan dan kepedulian beliau akan literasi yang akhirnya didukung oleh pihak lainnya. Pasti Kang Maman sangat terbantu atas kerja sama dengan perusahaan pengiriman seperti JNE. #JNE bersama Kang Maman seperti dua kawan yang tiba-tiba bertemu di jalan dan ternyata punya tujuan sama, jadilah mereka bergerak bersama #JNE35BergerakBersama. Entah kenapa, aku di malam hari dengan rambut berantakan dan baju yang lupa kapan terakhir aku ganti mengembangkan senyum tanpa henti. #ConnectingHappiness, itu yang aku rasakan melihat postingan Kang Maman saat itu.
Jariku menuju kolom komentar dan mengetikkan sesuai instruksi Kang Maman untuk mendapatkan buku gratis tersebut. Aku bercerita tentang pejuangan Pak Lek dan Bu Lekku, orang tua yang masih bekerja di masa senjanya. Aku taruh kembali handphone-ku di dalam lemari, aku tutup dan kunci lalu kembali meringkuk menghadap tembok dengan dua tangan mendekap di dada. Aku menjalani hari-hari seperti biasa, seperti orang yang masih bernafas namun hidup seperti zombie yang tak punya hati.
Tak sampai seminggu, handphone-ku berbunyi. Memberitahukan kalau aku menjadi salah satu pemenang give away. Alisku terangkat, pun wajah dan pipiku. Saat itu juga, aku melangkah keluar kamar. Merasakan hangatnya matahari yang sudah lama tidak dirasakan oleh kulitku. Aku merasakan jantungku berdebar, membayangkan aku dikasih buku oleh Kang Maman. Aku menatap matahari sambil menyepitkan mata. Setelah ratusan hari, aku sadar kembali bahwa aku manusia.
Kamar yang berserakan bungkus makananan, baju kotor, dan buku-buku yang entah kenapa aku turunkan semua dari rak. Aku mulai merapikannya, heran bisa menghabiskan banyak waktu di tempat berantakan dan kotor. Aku duduk di depan cermin, bukan sedang berdialog tapi tanganku sibuk bersolek. Wajah pucatku, aku berikan warna merah, bibir yang kering aku berikan pelembab dan aku sisir perlahan rambut kusutku. Kini aku kembali ke ruang kerjaku. Hidup selayaknya manusia hidup. Bertanggung jawab atas diri sendiri.
Beberapa hari kemudian, tok-tok-tok. Pintu rumah diketuk dan setelahnya ada suara pakeeeeet. Aku berlari, ada seorang kurir dengan menyodorkan satu bungkus coklat padaku. Memastikan nama yang tertera pada paket. Aku mengiyakan, lalu dia memberikannya dengan senyum. “Tidak ada biaya tambahan, Mas?” Tanyaku. Lalu dijawab “Tidak ada mbak” sambil tersenyum kemudian berlalu. Kurir paket itulah manusia pertama yang berinteraksi denganku setelah aku lepas dari kamar yang kotor dan bau. Ternyata manusia tidak semenakutkan itu, masih ada yang ramah dan memberikan senyum di tengah wajahnya yang berkeringat karena matahari siang. “Terima kasih, Mas”
Aku masih ingat saking senangnya aku mendapat kiriman dari Kang Maman, bungkus yang bertuliskan pengirim dari Kang Maman itu aku simpan selama beberapa bulan berikutnya. Hahaha, terkesan jorok tapi amplop cokelat pembungkus buku itu berhasil menghiburku saat hari-hari tidak baik-baik saja. Cukup melihat amplop cokelat dengan label pengirim, aku sudah merasa “aku ada di dunia ini”. terkesan konyol memang, tapi itu yang aku rasakan. Lantas, bagaimana dengan bukunya? Bungkusnya disimpan lalu bukunya diabaikan begitu saja? Tentu tidak!
Aku dulu seorang anak yang rela jalan kaki untuk hemat ongkos angkot pulang sekolah untuk bisa menabung beli buku, saat kuliah memangkas uang makan untuk bisa dialihkan jajan ke toko buku. Begitu punya uang sendiri sedikit demi sedikit kamarku penuh dengan buku. Mendapat buku secara gratis dan dari orang yang dikagumi, rasanya seperti anak kecil yang diperbolehkan makan permen oleh ibunya. Buku …dan janda itu ibuku, pada saat itu menemaniku di malam hari. Tidak lagi aku meringkuk di atas kasur, aku menikmati buku Kang Maman di pojok kamar dengan segelas susu cokelat hangat.
Tahun ini aku sempat mengulas sedikit di sosial media: thread, mengenai buku …dan janda itu ibuku.
Sudah lama tidak main sosial media, aku kira aku hanya ikan kecil diantara banyak ikan besar di laut. Tak akan ada yang menyadari tulisan dan segala hal yang aku posting. Aku salah! ternyata masih ada manusia yang meresponku. Postingan sederhana tersebut mendapat komentar
Aku tahu ada lomba #JNEContentCompetition2026, 2 hari sebelum batas akhir pengiriman. Aku meraih kertas di meja, menulis kembali tentang apa yang sudah membantuku kala itu. 15 Juni 2026, aku pindahkan coretan tanganku ke laptop. Semoga tulisan ini tersampaikan. Terima kasih untuk konsistensi Kang Maman mengirim buku, berkat usahanya bisa menyelamatkan satu orang keluar dari gua dan tersenyum kembali. #JNEBeragamCerita yang terjadi pada hidupku.










