Aku bertemu dengannya lagi setelah 10 tahun berpisah.
Dahulu, kami berteman sangat akrab. Setiap hari bertemu, bercerita banyak hal, main, berkelana ke tempat antah – berantah, minta antar jemput, atau sekedar meminjam uang, “nanti gue balikin”
Setelah itu, karena kesibukan masing – masing, kami mulai berpisah. Pertemuan yang awalnya setiap hari, berubah menjadi sekali seminggu, sekali dalam tiga bulan, kemudian berganti menjadi sekali setahun, kemudian tak pernah lagi bertemu.
Waktu itu aku percaya, ya wajar saja. Memang masanya yang telah habis.
Aku menghabiskan waktu 10 tahun dalam kesibukan. Berpikir bahwa aku semakin berubah, bahwa aku yang dulu sudah tak ada lagi. Hingga aku bertemu dengannya lagi.
Kalian tahu bagaimana perasaanku saat bertemu dengannya?
Aku seperti masuk dalam mesin waktu, mundur ke 10 tahun lalu.aku kembali memakai hoodie lusuhku sambil makan dengannya di salah satu kedai favorit kami. Kami membicarakan banyak hal. Obrolannya seperti meneruskan obrolan kemarin yang tertunda hanya karena ketiduran.
Rasanya seperti terhipnotis.
Aku selalu percaya bahwa diriku yang sekarang adalah manusia yang sudah tumbuh dan berubah. Kupikir diriku 10 tahun yang lalu sudah mati, digantikan dengan versiku yang sekarang. Seolah aku tak bisa lagi kembali ke masa itu. Seolah satu-satunya hal yang harus kulakukan adalah terus tumbuh, maju dan berkembang.
Tapi ternyata, kita tidak bisa benar – benar meninggalkan diri kita yang lama. Kita hanya menyesuaikan diri dengan apa yang terjadi dengan hidup kita. Makin banyak diterpa, makin sering juga kita menyesuaikan diri.