Kami sedang duduk-duduk, menikmati kopi sambil membicarakan hal tidak penting selepas menuntaskan monthly sales and evaluation meeting.
Aku turut bergabung dalam ruangan yang saat siang dihuni tujuh orang, tapi malam ini hanya kami bertiga.
Sudah jadi kebiasaanku, membawa selimut khusus yang akan membalut kaki hingga pinggangku jika duduk berlama-lama di ruangan orang-orang yang menamai mereka seruangan sebagai āmanusia badakā. Sebuah selimut ketebalan medium berwarna hitam bergambar babi merah muda.
Tak lama, Ucup terdengar bersuara.
āDenger nih denger. Ternyata, pikiran yang sehat adalah tidak berbicara buruk tentang orang lain.ā
Ucup tampak bangga dengan pencerahan yang baru saja ia lempar ke tengah meja.
Kuhela napasku panjang.
Kalimat sederhana ini, apakah perlu kutambahkan ke dalam beban pikiranku?
Bani, yang biasanya paling bawel kalau urusan menguliti kebijakan kantor kami, hanya mengangkat alis. Ia melirikku, lalu melirik selimut tebal yang membungkus pinggangku.
"Cup,ā sahutku akhirnya, dengan suara agak serak karena terlalu banyak bicara di rapat sebelumnya. "Pikiran sehat itu kemewahan. Di ruangan kalian yang suhunya mirip kutub utara ini, gue lebih fokus ngejaga kaki gue biar ga membeku daripada memikirkan itu."
Ucup tidak menyerah. Ia memperbaiki posisi duduknya, menatap kami berdua dengan binar mata filosofis yang menurutku agak kelebihan dosis untuk jam delapan malam. "Maksud kalimat itu tuh, racun di kepala kita itu berkurang kalau kita nggak sibuk nyari celah orang. Coba bayangin, peace of mind."
Bani terkekeh. Kupikir dia sudah lelah, ternyata masih kuat menimpali setelah rapat tiga jam sebelumnya, sambil menyesap kopinya yang pasti sudah dingin total. "Oalah cup, kalau kita nggak nyari celah orang, rapat tadi sore cuma hening cipta."
"Tapi kan kita nggak ngomong buruk tentang seseorang." Potongku cepat.
āKalau pikiran sehat standarnya adalah berhenti gibah, kayaknya kita berdua udah masuk kategori pikiran sakit sejak hari pertama kerja di sini, Cup." Lanjut Bani.
Ucup dan Bani saling tatap.
Bani kemudian tertawa lebih kencang, suaranya bergema di ruangan yang mulai sunyi itu. "Pokonya, bicara buruk itu relatif. Kalau gue bilang si bos pelitnya nggak ketulungan, itu bukan ngomongin buruk ttg bos, itu observasi data lapangan."
"Pelit libur." Ucup menjawab secepat kilat.
āY-yak ya iya sih. Ah as*lah. Pantesan kalimat itu relate banget ke gue. Soalnya emang pikiran gue nggak pernah sehat tiap lo nyuruh gue ke ruangan lo minta lakukan A-J atau pertanggungjawaban A-J. " Ucup menyengir getir.
Aku tak tahu harus menanggapi apa.
Memang sudah sering kudengar sindirian orang-orang favoritku ini. Tapi kuabaikan saja. Kadang-kadang aku merasa mereka memang perlu melakukannya. Selain kurang suka hubungan kerja yang kaku, aku cukup sadar diri bahwa aku adalah antagonis di hari-hari tertentu. Aku banyak menekan mereka. Dengan totalitas mereka, tak sanggup juga aku take things personally.
Kurasa label manusia badak itu bukan cuma soal tahan dingin. Ucup, Bani, dan yang lainnya memang manusia badak. Mereka mengeluh, mereka menyindir, tapi mereka menyelesaikannya semuanya. Melihat mereka tetap bisa bercanda setelah ākusiksaā membuatku bisa melihat mentalitas tim ini.
Aku berdiri dengan selimut yang masih tersampir di bahu, bersiap untuk pulang.
"Ayo dah pulang. Besok libur, Cup."
"Gak guna, mas! Lo pasti bakal nelpon gue juga!"
Aku tersenyum kecil. Bani tertawa lebih kencang lagi.
Kumatikan lampu ruangan itu saat berjalan keluar meninggalkan ruangan. Satu dari mereka mematikan AC.
Tapi kalimat Ucup mulai menyelinap, masuk ke sela-sela kepalaku, memaksaku bertanya-tanya. Apa aku masih masih bicara buruk tentang orang lain? Kapan terakhir kali aku merasa lebih hebat dari orang lain? Karena ada bedanya bicara buruk tentang orang lain, dengan bicara buruk pada orang lain, kan? Tapi hari ini, aku sudah cukup lelah untuk meladeni pikiranku sendiri.