Bagaimana caranya biar bisa rajin sholat? Saya orangnya sering lalai dalam sholat. Apalgi dlm keadaan lelah. Trima ksh sebelumnya atas jawabannya
Alhamdulillah, saya senang sekali membaca pertanyaan ini.
Anda punya niat baik untuk bisa rajin shalat. Semoga Allah mudahkan dan bukakan jalan-Nya untuk Anda.
“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”
Saya ingin menjawab pertanyaan Anda dengan berbagi apa yang saya alami sendiri dan apa yang saya amati dari orang-orang di sekitar saya.
Pertama, ada yang rajin shalat karena kebiasaan. Sejak bayi, mereka sering menyaksikan orang tuanya shalat. Setelah tumbuh sedikit besar, mereka juga diajak orang tuanya untuk ikut shalat. Ada yang mulai pada usia 7 tahun, 5 tahun, atau bahkan lebih kecil lagi. Kebiasaan ini terus berlanjut hingga akhirnya mereka dewasa.
Shalat menjadi otomatis bagi mereka, apapun kondisinya. Sebagaimana kebiasaan lainnya, kita akan merasa feels wrong kalau kebiasaan kita terusik.
Kedua, ada yang rajin shalat karena pemahaman. “Shalat adalah rukun Islam kedua” tidak hanya menjadi hafalan semata, dan “shalat adalah tiang agama” tidak hanya menjadi kata mutiara belaka.
Anda bayangkan, “rukun Islam kedua”, “tiang agama”. Arti sederhananya adalah, kalau kita masih ingin dilihat Allah sebagai seorang muslim, maka shalat adalah salah satu komitmen yang mesti kita jaga.
Ketiga, ada yang rajin shalat karena kebutuhan. Bagi mereka, shalat adalah sesuatu yang mereka nantikan (bukan dinanti-nanti ya). Mereka merasakan kenikmatan setiap melaksanakan shalat. Ada penyegaran, ada kekuatan, ada suatu energi yang meresap ke dalam hati dan jiwa mereka setelah menunaikan shalat.
Jangankan shalat wajib yang 5 waktu, shalat sunnah mereka jajal sebanyak mungkin: dhuha, rawwatib (sebelum dan sesudah shalat), apalagi tahajjud. Justru, bagi mereka, shalat adalah saatnya jiwa mereka beristirahat.
Pada kenyataannya, perilaku shalat kita tentu merupakan perpaduan antara tiga spektrum tersebut, hanya saja kadarnya dalam setiap orang berbeda-beda.
Saya memandang ketiga spektrum tersebut sebagai lapisan-lapisan. Lapisan terendahnya adalah kebiasaan dan lapisan tertingginya adalah kebutuhan. Jadi, kalau lagi sholeh-sholehnya, kita bisa merasakan shalat sebagai kebutuhan, tapi kalau lagi serba kacau paling engga kebiasaan kita membuat kita tetap melakukannya.
Jadi, saran praktis saya adalah:
1. Pancangkan lagi komitmen Anda, kuatkanlah kemauan Anda, dan mohonlah agar Allah menguatkan Anda. Sebab sebaik-baik dorongan adalah dorongan yang lahir dari dalam diri kita, bukan dari luar. Tidak ada dorongan eksternal yang mampu mengubah diri kita, melainkan kita mengizinkannya masuk lalu berkolaborasi dengan motivasi internal kita.
2. Ketika Anda merasa lelah dan hampir menyerah dari shalat, ingatlah bahwa ada ratusan juta muslim di dunia ini, atau paling tidak jutaan orang di Indonesia, yang bekerja keras seperti Anda, namun tetap mampu menjaga shalatnya. Mungkin Anda perlu seorang role model, cobalah cari seseorang yang Anda kagumi yang selalu menjaga shalatnya.
3. Ada aksioma atau doktrin, “We are creatures of habit”. Maka mulailah membangun shalat paling tidak sebagai suatu kebiasaan.
4. Jika pemahaman mengenai hakikat, tujuan, konsekuensi dari shalat mampu memuaskan Anda lalu membuat Anda lebih bersemangat dalam menjaga shalat, maka carilah ilmu-ilmu mengenai shalat. Tentu baik jika Anda bisa menghadiri majelis-majelis ilmu, namun bahkan Anda bisa mulai belajar saat ini juga dengan mengakses Youtube. Salah satu favorit saya adalah Ustadz Nouman Ali Khan, misalnya di video ini:
5. Suatu hari nanti, misalnya Anda sedang terjebak dalam sebuah masalah yang sangat pelik, Anda sangat tertekan, stress, mau meledak, cobalah bangun pada jam 2-3 pagi, dan lakukanlah shalat tahajjud.
Mulailah dengan 2 raka’at, bacalah apapun hafalan Qur’an yang Anda miliki. Resapi setiap bacaan dan gerakan Anda. Rasakan bahwa Anda sedang menghadap kepada pencipta Anda, yang selalu menyaksikan Anda, mengawasi Anda, mengurusi Anda tanpa Anda ketahui.
Rasakan, begitu Anda sujud, bahwa Anda lemah. Rasakan submission, kepasrahan, penyerahan diri Anda kepada Dia Yang Maha Mengetahui, Maha Kuat, Maha Menolong.
Anda bisa menambah raka’at Anda menjadi 4, 6, 8, atau lebih jika Anda ingin, tutup dengan shalat witir (shalat beraka’at ganjil).
Lalu angkatlah kedua tangan Anda dan berdoalah. Utarakan segala tekanan dalam hati Anda kepada-Nya. Keluarkan semuanya. Mintalah apapun kepada-Nya.
Semoga Anda bisa merasakan betapa nikmatnya shalat, betapa Anda memerlukan shalat.
Biasanya, dalam kondisi sangat tertekan, kita lebih mudah menikmati shalat dan mendekati Allah.
Demikian saran-saran dari saya, semoga ada yang bernilai manfaat. Mohon maaf ya kalau sok menggurui, saya dan banyak muslim lainnya pun masih selalu struggle untuk menjaga konsistensi dan kualitas shalat.
Kalau ada teman-teman lain yang mau menambahkan, sangat dipersilakan, semoga nilai manfaatnya bertambah.