Kapan terakhir kali aku merasakan longing for something? Ah, ya. Ketika aku berkeinginan untuk kuliah di UI. Satu-satunya jalan keluar dari 'gelembung' yang memerangkapku saat itu adalah pergi sangat jauh ke kampus impianku. Itu yang aku lakukan, itu yang aku perjuangkan dan aku pun mendapatkannya.
Ahhh, sudah lama sekali aku tidak merasakan hal itu. Aku lupa bagaimana rasanya gugup sekaligus bersemangat, ketika sesuatu yang sangat berbeda akan menyambutku.
Namun sebelum ingin kuliah di UI, aku punya hasrat yang jauh lebih besar, yang sudah aku pupuk sejak SMP. Aku ingin melihat Eropa.
Perjalanan Menemukan Eropa
Sebenarnya, aku ingin melihat Inggris. Aku jatuh cinta pada William Shakespeare. Tak ada yang mengajariku. Aku sendiri yang menemukan kecintaanku pada dunia sastra.
Lalu aku kuliah, belajar Bahasa Jerman, Bahasa Polandia, dan mempelajari budaya-budaya Eropa. Rasa kagum itu semakin membuncah. Rasanya, Eropa seperti melambai-lambai dan terus berbisik agar aku cepat ke sana.
Menjelang kelulusan, keinginan itu tenggelam. Kemiskinan mulai membuatku pesimis, apakah aku bisa ke Eropa? Tes bahasa Inggris mahal, tes bahasa Jerman apalagi. Belum biaya mengurus paspor, visa, dan lain-lain.
Aku mulai magang dan aku sudah tidak mau meminta biaya hidup dari orang tua lagi. Bertahan hidup sendiri saja susah, masa mau mengurus kepergian ke luar negeri? Lalu, aku bekerja hampir 1 tahun sambil menabung untuk dana darurat, bukan untuk pergi ke Eropa. Jadi, pikiran mau ke Eropa itu sedikit demi sedikit mengabur.
Hingga pada suatu saat, kegilaan hampir merenggutku. Pekerjaan penuh waktu pertamaku sangat menyita emosi. Saat aku hendak pulang jalan kaki ke halte Transjakarta terdekat, aku melamun. Otakku benar-benar kosong dan tiba-tiba, sepersekian detik pandanganku menghitam.
Aku kaget. Aku sadar, lalu semua kembali terang. Bukan, itu bukan perasaan pusing atau lelah fisik. Rasanya seperti aku akan kehilangan kewarasanku. Saat itulah aku sadar kalau aku harus kembali mengejar yang aku inginkan. Bodo amat kalau terdengar nekat. Tapi dengan segala perhitungan, dana darurat diganti menjadi dana pergi ke Eropa, aku pasti bisa.
Pertama kali hasrat itu kembali lagi, aku berniat untuk pergi keluar negeri dengan bahasa Inggris. Iya, bahasa Inggris. Lho, bahasa Jermannya gimana? Saat itu aku masih trauma dengan bahasa Jerman hehehe. Namun ternyata, susah ya memulai hal baru. Aku harus reset otakku agar bisa kembali terbiasa dengan bahasa Inggris.
Ya, seperti yang kalian duga karena kesulitan pada langkah pertama ini, akhirnya berujung aku tidak belajar bahasa Inggris. Target ke luar negeri pun kembali ngaret. Akhirnya, aku memutuskan pindah pekerjaan dulu. Setelah pindah pekerjaan, aku bisa menabung dana pergi ke luar negeri dengan lebih mantap.
Suatu hari, aku membaca buku The Alchemist. Buku itu menceritakan seseorang yang terpanggil jiwanya untuk melaksanakan takdirnya. Di tengah-tengah aku asyik membaca buku itu, aku mendengar bisikan bahwa aku harus ke Jerman 2024. Bisikan itu menghenyakkanku. Semua ini seperti tanda. Aku membaca The Alchemist, aku mendengar bisikan. Rasanya seperti sudah waktunya. Tapi, aku tak pernah menyangka kalau aku harus ke Jerman.
Akhirnya aku memantapkan hatiku. Aku akan mengikuti program pertukaran budaya dengan tinggal bersama keluarga Jerman. Lalu, aku belajar bahasa Jerman untuk sertifikasi bahasa. Kali ini lebih mudah karena aku masih mengingatnya. Aku ikut ujian bahasa Jerman dan membuat paspor di bulan Mei 2024. Sejak Mei hingga Juni, aku mencari-cari keluarga angkat. Sangat banyak yang menolak, tapi ada juga beberapa yang ingin mengobrol.
Akhirnya, aku mendapatkan keluarga angkat di Freiburg im Breisgau.
Sejauh ini, aku menikmati semua prosesnya. Iya, bahasa Jerman susah. Rasa takut masih tetap ada. Tapi aku selalu berbisik, "Ayo, berani." Terus kugumamkan kalimat itu ketika aku merasa takut.
Kini, rasa takut itu juga bersanding dengan rasa gelisah dan menggebu-gebu ingin ke Jerman. Akhirnya, aku merasakan perasaan ini lagi setelah sekian lama.
Tuhan, sedikit lagi. Sedikit lagi aku akan melihat dunia, seperti yang aku impi-impikan sejak kecil. Sedikit lagi aku bisa melihat hamparan alam Eropa, sedikit lagi aku bisa menikmati sastra Eropa sepuasnya, sedikit lagi mungkin aku bisa menyebrang ke Inggris, Polandia, Swiss, Austria, dan negara Eropa lain.
Sambil mendengarkan lagu Somewhere Only We Know, aku mengidamkan Jerman. Karena dia masih melambai-lambai padaku, masih berbisik padaku, maka aku akan terus berjuang ke sana bagaimana pun caranya.
Sekarang aku sedang proses menyelesaikan visa. Dengan bantuan tangan Tuhan, aku percaya aku bisa. Semoga semuanya berjalan lancar. Aamiin.