DARURAT: Pemerintah Perlu Menjadikan Krisis Perubahan Iklim Sebagai Prioritas
Kalau kita perhatikan, sosial media di Indonesia dipenuhi hal viral yang tidak bermanfaat, misalnya orang tua marah-marah karena paket COD. Padahal, selain diambang kematian karena pandemi COVID-19, kita juga diambang kehancuran karena krisis perubahan iklim. Sama seperti COVID-19, masih banyak orang yang belum sadar, bahkan tidak percaya dengan krisis ini sehingga pemerintah tidak hanya punya PR untuk menangani pandemi ini dengan cepat, tapi juga perlu menangani perubahan iklim yang nyata.
Dilansir dari CNN Indonesia, Jokowi-Ma’aruf punya 7 misi mitigasi perubahan iklim ketika mereka mencalonkan diri untuk menjadi pemimpin bangsa ini.
1. Pencegahan kebakaran hutan
2. Penanaman kembali lahan-lahan kritis
3. Pengembangan energi baru terbarukan (EBT) berbasis potensi setempat serta ramah terhadap lingkungan
4. Melanjutkan konservasi lahan gambut
5. Mengurangi emisi karbon dan meningkatkan transportasi massal ramah lingkungan
6. Meningkatkan pendidikan konservasi lingkungan yang berkelanjutan dengan melibatkan komunitas masyarakat adat
7. Memperbanyak hutan kota dan ruang terbuka hijau
Lalu apakah misi tersebut sudah berjalan dengan baik? Saya bisa bilang bahwa mitigasi perubahan iklim bukanlah prioritas pemerintah Indonesia. Dalam APBN 2021, anggaran berfokus pada pemulihan ekonomi melalui pembangunan kawasan industri, pengembangan food estate untuk ketahanan pangan, serta infrastruktur padat karya. Padahal kita tahu, semakin banyak kawasan indsutri yang dibangun, semakin banyak lingkungan hidup yang akan tercemar. Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bahkan tidak termasuk dalam daftar 10 Kementrian/Lembaga yang menerima APBN 2021 terbesar sehingga menyulitkan program-program mitigasi perubahan iklim untuk dijalankan. Namun jika pemulihan ekonomi dengan membangun kawasan industri dapat membantu negara dalam melewati pandemi, mengapa saya tidak setuju?
Sungai Citarum adalah salah satu sungai di Jawa Barat yang memiliki predikat sebagai salah satu sungai yang paling tercemar di dunia. Sungai ini tercemar salah satunya akibat limbah industri. Dilansir dari ZDFinfo Dokus & Reportagen, Hilda Meutia, seorang mikrobiologi dari Greenpeace Indonesia mengeluhkan pipa air tanpa nama atau anonim. Terkadang beberapa pabrik industri berbagi pipa sehingga sulit untuk untuk menentukan siapa yang membuang limbah industri dan mencemari sungai Citarum. Kemudian menurut artikel yang diterbitkan oleh DAS UGM, pemerintah daerah dan pemerintah pusat telah merilis beberapa kegiatan untuk mengatasi pencemaran sungai Citarum, namun dalam pelaksanaannya sering kali terjadi kendala.
Masih ingat banjir di Kalimantan Selatan di awal tahun? Akibat curah hujan tinggi, Kalimantan Selatan terendam air setinggi 2-3 m. DW Indonesia melaporkan bahwa banjir ini disebabkan oleh kepentingan lahan industri seperti pembukaan lahan kelapa sawit dan deforestasi akibat proses pertambangan. Inilah alasan saya tidak setuju dengan pembangunan kawasan industri (lagi). Jika akan membangun kawasan industri, saya rasa pemerintah harus memperhitungkan resikonya bagi lingkungan hidup. Jika tidak ada solusi nyata atau perbaikan lingkungan hidup dijalankan begitu lambat, ini artinya pemerintah Indonesia tidak memprioritaskan atau tidak serius dalam menghadapi perubahan iklim.
Lalu apa yang terjadi jika kita terlambat dalam menangani perubahan iklim ini? Detiknews telah memaparkannya. Pada tahun 2030 hingga 2050, WHO memperkirakan bahwa perubahan iklim akan memicu kematian kurang lebih 250.000 jiwa setiap tahunnya akibat malnutrisi, malaria, diare, dan heat stress. Saya sendiri telah merasakan iklim panas dan hujan yang tak menentu. Apakah Anda juga? Lalu apakah Anda pikir Indonesia siap menghadapi krisis perubahan iklim tahun 2030? Silakan Anda menilainya sendiri.
Referensi
Herlinda, O. (2020, January 2020). Yang Terabaikan dalam Perubahan Iklim. Retrieved from detikNews: https://news.detik.com/kolom/d-4861160/yang-terabaikan-dalam-perubahan-iklim
Kemenkeu. (n.d.). Informasi APBN 2021: Percepatan Pemulihan Ekonomi dan Penguatan Reformasi. Retrieved from Kementrian Keuangan RI: https://www.kemenkeu.go.id/media/16835/informasi-apbn-2021.pdf
Loen, T. (2019, February 16). INFOGRAFIS: Visi Misi Jokowi-Ma'ruf Bidang Lingkungan Hidup. Retrieved from CNN Indonesia: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190215143749-35-369608/infografis-visi-misi-jokowi-maruf-bidang-lingkungan-hidup
Mcllvride, D. (Director). (2020). Gift im Trinkwasser. Wo die Textilindustrie die Umwelt zerstört[Motion Picture].
Redaksi. (2021, January 10). Tidak Sampai Tiga Pekan di Awal 2021, Bencana Alam Hantui Indonesia. Retrieved from Deutsche Welle: https://www.dw.com/id/awal-2021-indonesia-dihantui-bencana-alam/a-56264764
SG. (2020, June 20). Sungai Citarum, Predikat Sungai Tercemar di Dunia. Bagaimana Solusinya? Retrieved from Konservasi DAS Universitas Gadjah Mada: https://konservasidas.fkt.ugm.ac.id/2020/06/20/sungai-citarum-predikat-sungai-tercemar-di-dunia-bagaimana-solusinya/










