Ada yang bilang kalau tindakan seseorang itu dipeengaruhi dari besarnya umur, tingginya pendidikan, jabatan dan kedudukan. Tapi bagi saya pribadi itu adalah hal yang sangat omong kosong. Hanya sebuah teori saja dan kalau bahasa tingginya adalah retorika!
Beberapa akhir ini, terutama di penghujung bulan Agustus 2016. Ada banyak hal yang saya temukan sebagai fakta yang mengatakan dengan keras bahwa umur, tinggi nya pendidikan, jabatan dan kedudukan bisa tentukan orang dalam bersikap dewasa.
Kalimat diatas hanya bualan saja sih, nyatanya secara gamblang orang yang punya umur besar, punya tinggi pendidikan dan juga jabatan dan kedudukan tidak jauh beda dengan orang yang tidak berpendidikan bahkan orang yang berpendidikan rendah, jabatan rendah dan kedudukan rendah.
Sikap ketamakan, keangkuhan serta kesombongan yang sangat mendominasi orang yang memiliki umur banyak, tingginya pendidikan, jabatan serta kedudukannya.
Berikut ini adalah ada 2 pemaparan fakta yang saya sendri temukan dan bahkan alami.
Fakta pertama
Saya bekerja disalah satu media yang ada di Indonesia, dimana pasti di sebuah tempat pasti ada yang namanya senior dan junior. Saya pribadi masih berusia pagi sekali alais bau kencur dengan baru menginjakan 8 bulan untuk bekerja di media. Pekerjaan saya awalnya yang harus bekerjaa sendiri tapi karena ada sering saya membuat kesalahan (saya akui itu saya salah) kini sekarang harus bekerja dengan para para senior yang dalam arti atasan yang punya jabatan dan kedudukan yang sangat tinggi dari saya (kek langit dan bumi). Saya bekerja menjadi seorang admin yang mengurus tentang informasi-informasi dan berita berita terkini untuk dapat diberitahu ke khalayak setiap jam (alias satu jam. Sama aja gak sih?) baik berita nasional, DKI, ekonomi, regional dan juga internasional. So farrr selama 8 bulan, sayan mengaku ada banyak kesalahan yang saya buat dalam pekerjaan yang saya lakukan. Masalah utama saya adalah “TYPO”. Seperti menulis Kelapa jadi kepala, dan kepala jadi kelapa. (jadi jangan kaget, kalau misalnya baca tulisan ini pasti banyak yang typo). Bukan saya mencari alasan atau membenarkan diri, tapi memang saya akui saya salah dan saya mencoba memperbaikinya kembali. Sadar gak sih, emang ada orang yang sengaja dan mau membuat kesalahan?
Kembali ke topik, selain kesalahan typo saya, saya juga melakukan kesalahan penulisan jabatan orang yang seharusnya Ketua DPRD RI Irman Gusman, malah saya menulis Ketua DPR Irman Gusman (benar gak sih namanya Irman Gusman? Pokmen itulah yaa) padahalkan ketua DPR sekarang Ade Komarudin bukan Irman Gusman. Itu sangat fatal sekali bagi media menginformasi kek gitu, dan memang saya bego sekali. Padahal saya kurang ketik “D” saja
Kemudian keesokan harinya, POLRI baru saja lantik Kepala Divisi Humas baru mereka yang bernama Boy Rafli Amar, tapi saya kembali lagi salah dengan mengetik “Boy Raflo Amar”. Dan saya ppun menyalahkan keyboard loh karena “i” sama “o” itu berdekatan . Ketika saya melakukan kedua kesalah diatas itu masih saya beekerja sendiri, belum bekerjasama dengan para atasan atasan yang punya jabatan dan kedudukan yang tinggi, otomatis saya dimarahi dan memang saya akui itu saya sangat salah dan bodoh hal itu. Dan itu saya diteriaki seREDAKSI cuy. Jadi bisalah ya kebayang rasanya.
Hal yang peerlu diketahui adalah informasi dan berita berita yang saya dapatkan sebagai bahan pekerjaan saya berasal dari salah satu portal berita yang masih satu grup dan juga laporan dari teman teman reporter hingga para petinggi di tempat saya bekerja.
Jadi sekarang kebayangkan pkerjaan saya seperti apa? Banyak orang yang bilang pekerjaan saya enak. Hai halooooooooooooooo, coba sehari saja, duduk bekerja selama 9 jam di depan komputer dan ada puluhan informasi yang harus kau baca dan rangkum ambil intisarinya untuk jadi informasi yang disiarkan, capek gak dengan seperti itu? Ada juga yang bilang kerjaan saya hanya copy-paste. Ya saya akui itu saya copy-paste. Tapi pernah dipikir gak sih bahwa saya itu tidak turun liputan kek selayak reporter mencari data, toh saya percaya data yang disajikan dalam portal berita dan laporan teman teman reporter sudah valid, tapi masih saja disalahkan. Saya akui kenapa disalahkan karena saya pribadi sempat kedapatan memang hanya copy-paste, tanpa pahami suatu kabar yang saya informasikan, jadi ketika ditanya saya tidak bisa bertanggung jawab ketika ada yang meminta untuk bertanggungjawab atas informasi yang saya buat.
Ingat sekali soal kasus yang kata para petinggi menggunakan fasilitas negara untuk keluar negeri yang dimana orang terkait kasus tersebut bagi saya pribadi tidak menyukai tokoh itu, jadi saya hanya copy-paste beritanya tanpa saya baca dan pahami. Ketika itu saya sudah bekerjasama dengan para atasan, jadi sebelum saya bagikan informasi yang saya dapat dan himpun saya harus ke atasan sebagai approval bahwa apakah berita ini memang layak naik sebagai informasi atau tidak, saya ditanyakan lah soal berita itu yang saya copy-paste yang headlinenya adalah “ormas adukan si tokoh itu dan Rachel keemana gitu” lupa lah lapor kemana. Nah kebetulan paada saat ramai kasus itu, itu yang menjadi sorotan adalah anak dari si tokoh itu yang mau ke luar negeri yang bapaknya ini sebagai tokoh ah meminta fasilitas di tempat tujuan anaknya yang mau pergi itu untuk dijemput dari bandara ke manalah itu. Nah pada saat saya ditanya, siaapa Rachel itu, keok lah awak gak tahu, dengan ceplos saya jawab itu nama dari tokoh tersebut. Langsung lah disitu saya di semprot dan dimarahi bahwa saya bekerja yang paling enak hanya copy-paste saja masih salah dan tidak tahu sapa itu rachel dan bilang saya tidak bisa bertanggung jawab atas informasi yang saya buat. Disuruhlah saya untuk mencari tahu sapa itu rachel sebenarnya.
Padahal mau tahu Rachel itu siapa? Rachel itu sebenarnya punya posisi dan kedudukan yang sama dengan tokoh itu yang bermasalah yang hendak ke luar negeri malah gunakan fasilitas negara. Oh yaa bepergian ke luar negeri dalam kasus mereka ini liburan pribadi ya, bukan tugas negara. Saya coba pikir baik baik dan Disitu saya ingat dan pada saat ditanya lagi sapa itu Rachel sayya bilang dia anggota parlemen lah yang sama kena kasusnya, eh malah saya dituduh dibilang googling, padahal saya berdiri dibelakang atasan saya persis saat periksa bahan informasi yang harus saya update.
Sejak saat itu, saya kek macam dendam dan ingin tunjukan siapa saya denggn sekarang saya mesti pahami semua berita yang akan saya informasiin. Tapi apalah daya hanya anak baru bau kencur ini yang ingin cita cita jadi reporter malah nyasar di dalam kantor dengan kerjaann ini. Dari rasa pahit pahit yang saya alami ada hal positifnya untuk lebih teliti lagi dan ketika ada suatu informasi jangan ditelan bulat bulat begitu saja dan tidak diolah.
Nah inti cerita yang sudah saya ceritakan dari awal itu adalah, masih panas ini, ini tulisan saat saya buat habis pulang kerja di kamis dini hari dimana kejadiannya sore tadi di hari rabu, rekan kerja saya sama alami kasus 11-12 lah dengan kesalahan yang saya buat. Baru 4 bulan kalo gak salah rekan kerja saya ini, ditambah baru saja ada anak baru masuk 3 hari kerja dari senin kemarin. Jadi kami bekerja pershift pagi jam 7 sampe 4 sore, dan 3 siang sampe 12 malam, dan sbentar lagi karena ada anak baru jadi ada shift berikutnya dari jam 11 malam sampai 8 pagi.
Oke jadi ada kesalah dimana rekan kerja saya salah fatal sama seperti saya salah fatal yang kek ketua DPRD dan Ketua DPR diatas itu. Kejadian yang rekan saya buat adalah dia menuliskan kuasa hukum terdakwa pembunuhan yang menjadi misteri masa kini itu adalah Binsar Gultom, padahal yang seharusnya adalah Oto Hasibuan. Dan Binsar Gultom sebenarnya itu adalah Hakim dalam persidangan tersebut
Saya bukan berarti membela rekan saya yaa, tapi saya mengerti kenapa dia bisa salah, saya tahu itu hal yang sangat fatal. Bukan beralasan, kembali lagi deh, kamu bekerja duduk selama 9 jam didepan layar komputer terus dan terima semau informasi dan kudu pahami semua informasi mulai dari nasional, dki, ekonomi, regional dan internasional, bakal mabok sama informasi gak? Iaa, kami tahu kami salah tapi bisa kan untuk ngomong secara baik baik, samperin orang yang bersalah, bukan harus berteriak sekantor supaya semua orang tahu divisi kerjaan saya salah. Baik baik kalo ribut di kantor saj, ini ribut sampai media platform jugak
Ya Tuhan, serasa divisi pekerjaan saya itu paling berdosa di dunia, dan paling banyak kesalahanya. Pokoknya salahnya itu adalah dosa yang melebihi dari pembunuh, orang yang melakukan zinah, dsbnya. Haloooo, memang semua manusia sempurna? Okei saya dan rekan saya akui kami salah, kami siap mau dihukum bila perlu.
Saya mengerti sekarang, sikap seseorang itu ditentukan dari posisi jabatan dan kedudukannya. Yang tidak mau tahu dan mengerti apa penyebabnya sehingga terjadinya kesalahan. Jarang sekali ada atasan dan pemimpin yang memiliki sifat tersebut kecuali atasan saya persis yang bertanggung jawab atas divisi saya, yang tidak pernah marah sekalipun disaat kami melakukan kesalahan
Dan atasan saya yang tidak pernah marah ini jabatanya lebih tinggi dari orang yang sering teriak teriak divisi saya. Tapi pada atasan yang tidak pernah marah ini hanya di dirinya saya benar melihat peribahasa secara verbaal dan nyata bahwa padi semakin berisi, semakin merunduk, bukan semakin dongak ke atas yang menunjukan sapa dirinya sebenarnya.
Toh juga ya, ga ada kaca po kalau diri sendiri juga kadang lakuin kesalahan?
Shhhhhhhhhhhhhh, tulisan ini sebenarnya bukan mau curhat atau dsbnya, tapi saya hanya ingin luapin apa yang buat saya resah dan risih. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi hari ini di hari kamis, karena sebentar lagi jam 7 pagi saya akan masuk bekerja. Saya sadar ya itulah yang namanya resiko kerja di media. toh juga namanya media menginformasi ke khalayak, ya kudu valid datanya. Kalo gak valid, kasan khalayaknya dapat info yang salah.
Dan sekrang saya pahami itu, lebih baik di tonjok abis sama orang redaksi dari pada khalayak, toh khalayak itu majemuk banyak karakternya, ada yang ngertiin dan juga ada yang gak mau ngertiin.
Fakta kedua
Saya bingung mau mulai dari mana kalau cerita tentang ini. Kalo soal ini sebenarnya saya bingung akar permasalahannya, tapi dari masalah ini sebenarnya yang buat saya jadi bisa tulis tentang cerita ini dan bekesimpulan bahwa setinggi-tingginya pendidikan yang seseorang, tak tentukan sikap kedewasaaan seseorang.
Saya punya satu komunitas yang belum lama saya menjalin hubungan dengan mereka. Tapi dengan komunitas ini saya temukan seperti saya diterima apa adanya, malah dari kecacatan yang dimiliki menjadi hal yang menarik dalam komunitas ini untuk bisa saling mendukung satu sama lain. Saya mengenal komunitas ini pada akhir agustus 2015 lalu (weh sudah satu tahun eee).
Jadi ceritanya ikut sebuah camp internasional, dan temu dengan komunitas yang kocak dan gila gila semua dimana didalamnya itu orang orang pintar semua dengan berbagai macam latar belakang juga berbagai daerah di Indonesia. Tapi ada beberapa orang dalam komunitas ini yang punya karakter luar biasa bagi saya sehingga seakan saya jadikan mereka role model saya dalam jalani kehidupan. Tidak semuanya yang saya jadikan role model saya ikuti persis, tapi saya ambil baiknya menurut saya.
Dalam komunitas ini entah kenapa saya seperti jadikan mereka dalam tingkatan prioritas yang harus bersama mereka karena saya anggap seperti saudara sendiri layaknya keluarga. Tapi makin kesini akhirnya yang awalnya saya kira semuanya baik, ternyata tidak. Orang yang saya jadikan role model adalah mereka yang sebenarnya memiliki semuanya dalam arti mampu ya, tapi mereka tidak sombong, malah mereka menjadi seolah olah yang tidak memiliki apa apa sehingga pun saya kaget dengan status mereka yang kalau diliat sekilas seperti ah apaan sih tak ada apa apa tapi mereka ada, dan mereka tidak menyombongkan akan hal itu. Itu yang menjadi kesenangan dan ketertarikan saya untuk jadikan mereka role model dan patahkan pandangan saya selama ini yang dimana saya melihat yang berada itu tak mau berteman, berkawan, dan bergaul dengan yang tak berada. Bukan saya menjadi penjilat, tapi saya banyak belajar hal dari mereka. Dan mereka ini lah yang benar benar ternyata yang patut untuk saya jadikan layaknya saudara sendiri dan keluarga.
(weh sudah malam jam 2.39 saya harus masuk jam 7 nanti -.- tapi ini kudu kelar biar bisa tidur)
Oke kembali ke topik, jadi singkat cerita dua orang yang saya jadikan role model ini adalah berjeniks kelamin pria dan wanita. Jadi, pada saat saya sering main bersama komunitas waktu dulu saya sebelum dapat pekerjaan dengan status job seeker juga seorang freelancer, saya suka gangguin, recokin dan comblangin mereka, toh ujungnya mereka jadian. Coba bayangkan, posisikan, kau sebagai teman saja lah yang suka recokin, comblangin orang sampe jadian gimana rasanya? Senang kan? Senangnya bukan main, apalagi kalo sampe ketahap serius hingga berkeluarga, senangnya gak ketulungan liat mereka baahagia jadi kesenganan tersendiri. (amin mereka kek gitu nanti)
Nah, mereka jadian ternyata hanya saya saja yang senang, beberapa orang dari komunitas ini ternyata tidak suka mereka jadian, malah ini juga menjadi misteri masa kini yang dimana apa sala mereka berdua jadian sih?
Yang gak suka role model saya jadian ini adalah sebenarnya mereka adalah berlatar belakang berpendidikan tinggi, ya rata rata S1 lah, tapi belum kelar, masih nyangkut ditugas akhir dan yaaa balada mahasiswa tingkat akhir kek mana sih, dan universitas mereka universitas ternama lah di Indonesa, apalagi Jogjakerdah. Ada juga yang lebih dari S1, dia lagi proses sekrang di uuniversitas ternama juga. Pintar bianget loh mereka ini dari pada saya kek taik idung dan taik kuku lah dibanding mereka, tapi mereka gak suka role model saya jadian. Ya saya tidak tahu yaa, mereka punya hubungan seperti apa dengan kedua role model saya ini sebelum saya mengenal mereka. Toh saya hanya tahu awalnya adalah kedua role model saya sangat saya senangi ini sangat disenangi teman teman dalam komunitas. Nah yang role model pria yang sudah saya anggap sebagai kaka sendiri orangnya kocak, apa adanya, dan mau tegus dan tegas jika salah, pun juga role model yang wanita hampir miriplah 1112 dengan saya yang plin plan, tapi mereka berdua ini rendah hati loh. Karakter ini yang jarang sekali banyak orang di luar sana punya. Apa ini hanya karena emosi sementara jadi saya bisa katakan seperti ini? Tapi sejauh ini benar benar itu yang saya rasakan.
Nah intinya, mereka yang tidak suka dengan role model yang saya sukai dan senangi ini mulai tunjukan sikap ketidaksukaan mereka atas hubungan kedua role model saya. Awalnya mereka hanya tunjukan ke role model wanita saya bahwa mereka tidak sukai atas hubungan tersebut, eh makin merembet akhirrnya hingga ke kaka nyong yang awalnya dia bilang positif thingkiing dengan mereka yang benci jadi sekarang agak kesal. Padahal dari awal jadian mereka sudah tunjukan sikap diingin ke role model wanita.
Sampe sekrang belum tahu alasan mengaapa mereka tidak suka? Mereka hanya tunjukin dengan sikap dingin yang ketika bermain bersama itu tak mau saling teguss dan menyapa kek orang yang beelum kenal. Ditambah kemarin, pada saat role model wanita wisuda pun, mereka tak ada yang datang dengan berbagai macam alasan mereka buat dan mencoba mengahsut saya untung menggagalkan saya ke wisuda. Saya jadi pikir kenapa harus saya dilibatkan? Toh sebenarnya say tujuan ke Jogja memang mau ke wisuda dan kumpul bareng dengan mereka, eh malah pecah seperti ini ditambah kemarin dulu saya baru dengar cerita lagi dari role model wanita ceritakan tentang sikap mereka yang makin dingin lagi ketika main bersama saaat menonton pentas kesenian, itu membuat saya pribadi greget dan geram hingga saat ini.
Toh kalo 2 role model ini salah, mbok langsung omongin, jangan dengaan sikap kekanak kanakan yang buat sikap sama kek drama dan sinetron yang tayang di tivi itu loh, kek orang kampung padahal pintar dan sekolah tinggi ada yang internasional sampe yang lebih tinggi dari S1, saya tidak mengerti dengan jalan pikirannya mereka. Sadar usia bukan kek anak SD, tapi ini udah kepala dua woiiiii
Dari kedua pemaparan fakta diatas, saya simpulkan, mau usia berapa, kau pendidikan setinggi apa, serta posisi kedudukan, dan jabatan, tidak bisa tentukan sikap kedewasaan seseorang. Malah dari sebuah besar nya umur, tingginya pendidikan, kedudukan dan jabatan, itu menetukan sikap kesombongan dan keangkuhan serta ketamakan.
Kamis dini hari
Satu september 2016
Lake Belong, kompleks sandang C14, Jakarta Barat