S.O.S [Save Our Souls] - Chapter 3
Bang Sung Joon membuka kedua matanya perlahan. ‘Di mana ini?’
Bayangan pertama yang tertangkap oleh kedua matanya adalah langit-langit ruangan yang berwarna putih bersih. Lalu ia menangkap aroma ruangan yang sangat dikenalnya. ‘Ah ya, ini rumah sakit,’
Sung Joon mengerjap-erjapkan kedua matanya. Kepalanya terasa sangat sakit, seperti habis dihantam oleh suatu benda yang sangat keras. Ia mengernyit pelan. Kesadarannya perlahan telah mulai pulih.
Seorang suster memasuki ruangan itu. “Anda sudah sadar?”
Sung Joon menganggukkan kepalanya perlahan. Lehernya juga terasa nyeri sekali, seperti habis dipukuli.
Menyusul di belakang suster tadi, masuk seorang dokter pria. Dokter itu segera memeriksa kedua bola mata dan detak jantungnya. Lalu ia tersenyum lega. “Kau baik-baik saja, Nona. Untung hanya kecelakaan kecil.Adamemar di kepala yang menyebabkan gegar otak ringan, tapi selebihnya kau tak apa-apa. Hanya akan terasa nyeri di seluruh badan untuk beberapa hari, tapi tak ada luka dalam yang serius. Terdapat luka lecet dan memar di lutut dan siku, sudah diobati dan akan segera pulih.”
Sung Joon mencoba mencerna kata-kata dokter itu. ‘Siapa dokter ini? Di mana Dokter Lee? Tunggu, dia menyebutku apa tadi? Nona? Apa aku salah dengar? Kecelakaan apa yang dia maksud? Lalu bagaimana dengan ginjalku? Oh ya, ginjalku,’ Sung Joon meraba perut bagian kirinya. Tidak ada perban atau apapun. Bahkan tidak terasa sakit sama sekali.
“Keluargamu akan segera kemari. Untuk sementara jangan terlalu banyak bergerak ya,” ujar suster tadi. Setelah itu ia pergi keluar ruangan bersama dokter tadi.
Sung Joon mencoba menggerakkan tubuhnya. ‘Ah, kenapa sakit-sakit sekali badanku. Apa begini rasanya setelah dioperasi? Tapi kenapa dokter tadi tidak mengatakan apapun tentang operasi?’ Sung Joon menegakkan tubuhnya dan terduduk di atas kasur rumah sakit. “Tu-tunggu,” suaranya tak terdengar oleh dokter dan suster yang telah keluar dari ruangan, namun ia terkejut mendengar suaranya sendiri. Sung Joon menutup kedua mulutnya. ‘Apa itu tadi?! Suara wanita?!’
“Aaa… aaa…,” Sung Joon mengetes suaranya sendiri, dan kali ini ia benar-benar kaget. ‘Suaraku berubah! Sebenarnya operasi apa yang mereka lakukan padaku?!’
Sung Joon mencoba turun dari tempat tidur, namun kemudian ia mendapati sesuatu yang lebih tak masuk akal lagi. Tubuhnya berubah! ‘Ka-kakiku…, ba-badanku…, ta-tanganku…,’ Sung Joon mengamati setiap bagian tubuhnya. ‘Mengapa aku menjadi kecil?!’ Otomatis Sung Joon meraba wajah dan kepalanya. ‘Rambutku! Panjang sekali! Berapa lama sebenarnya aku tak sadarkan diri hingga rambutku tumbuh sepanjang ini?! Wajahku…, mengapa wajahku pun mengecil?!’
Susahpayah Sung Joon turun dari tempat tidur itu. Seluruh badannya benar-benar terasa nyeri seperti habis berkelahi semalam suntuk. Namun kemudian ia menyadari bahwa saat itu tubuhnya terasa jauh lebih ringan. Tanpa mempedulikan rasa nyeri yang menusuk-nusuk kepala dan seluruh badannya, Sung Joon berjalan menuju kamar mandi. Dengan segera ia mencari cermin.
Betapa terkejutnya Sung Joon ketika mendapati pantulan dirinya di cermin itu. “Whoaaa!!!”
Alih-alih melihat tubuhnya sendiri, ia melihat tubuh Moon Geun Young.
Sung Joon mendekatkan dirinya hingga hidungnya menempel pada permukaan cermin. ‘Ini benar-benar diriku? Mengapa aku berubah menjadi Moon Geun Young?’ ia menampar kedua pipinya. ‘Hah! Aku tidak bermimpi! Ini nyata!’
Sung Joon kemudian mengintip ke dalam pakaiannya sendiri. ‘Aku memiliki payudara!’ Ia meraba selangkangannya. ‘Penisku hilang!’
Seketika Sung Joon merasa pusing. Dengan terhuyung ia berjalan kembali ke tempat tidurnya.
Bersamaan dengan itu, sepasang bapak dan ibu masuk ke dalam ruangan. Disusul oleh seorang gadis muda yang masih mengenakan seragam sekolah tingkat menengah pertama. ‘Siapa lagi mereka ini?’ Sung Joon tidak mengenali satu pun diantara orang-orang yang baru saja memasuki ruangan.
“Kau baik-baik saja, Geun Young ah?” tanya sang ibu. Ia mendekati Sung Joon dan meraba dahinya.
“Kau tidak boleh membawa mobil selama sebulan ke depan, kau mengerti?” ujar sang bapak.
“Eonnie, apa yang terjadi padamu? Bagaimana kau bisa sampai kecelakaan begitu?” kali ini si gadis sekolahan itu yang bertanya.
Sung Joon hanya melongo dan mengerjap-erjapkan kedua matanya dengan bingung. ‘Mereka memanggilku apa tadi? Geun Young?!’ Sung Joon menelan ludah dengan susah payah, sementara ketiga orang tadi berdebat sendiri tentang kecelakaan yang Sung Joon sendiri tak mengerti. “A-aku…, aku bukan Geun Young,”
Ketiga orang tadi terdiam seketika. Mereka memperhatikan Sung Joon dengan seksama.
“Apa kau bilang tadi?” tanya sang bapak pada akhirnya, memecah keheningan.
Sung Joon menatap ketiga orang di hadapannya satu persatu, lalu berkata, “Aku bukan Moon Geun Young.”
Seketika wajah ketiga orang itu menjadi penuh rasa was-was dan khawatir.
“Geun Young ah, Ibu akan memanggil dokter ya, tunggu sebentar,” ujar sang ibu, lalu berlari tergopoh-gopoh keluar dari ruangan.
Sung Joon ingin berteriak mencegahnya, tetapi ia mendapati sang bapak dan si gadis sekolahan tadi memandanginya dengan tatapan prihatin bercampur khawatir yang amat sangat. Sung Joon pun mengurungkan niatnya. Ia terdiam seribu bahasa. ‘Bagaimana ini?’
Sung Joon duduk di ruang tunggu pasien. Ia baru saja menjalani pemeriksaan dengan infra merah. Di sampingnya, sang ibu terus menungguinya sembari sesekali mengoceh tentang bermacam-macam hal yang Sung Joon tidak mengerti. Selama duduk menunggu, Sung Joon berpikir keras mengenai situasi yang ia hadapi.
‘Ini jelas-jelas bukanlah mimpi. Terakhir kali aku sadar adalah aku berada di bandara Gimpo, setelah berpisah dengan Soo Hyang. Lalu di tempat parkir aku merasa penyakit ginjalku kumat. Setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi, sepertinya aku pingsan. Aku masih bisa mendengar suara-suara ketika aku dibawa ke rumah sakit.Adayang menyebutkan tentang operasi. Namun ketika aku sadar kembali, tubuhku telah berubah menjadi Moon Geun Young. Ini berarti… aku harus menemui Moon Geun Young untuk mengetahui jawabannya. Tapi di mana aku bisa menemukannya?’
Sung Joon terkejut ketika sang ibu di sampingnya tiba-tiba menarik tangannya. “Ayo, namamu sudah dipanggil,” Ibu itu menyeret Sung Joon ke ruang dokter.
Sung Joon dan sang ibu duduk di hadapan seorang dokter yang tadi memeriksanya ketika ia baru saja sadar.
“Tidak ada masalah atau kerusakan dengan organ-organ tubuhnya. Meskipun mengalami gegar otak ringan, otaknya masih berfungsi dengan baik,” tutur dokter itu.
“Lalu mengapa dia mengatakan bahwa ia bukan dirinya?” tanya sang ibu penuh rasa cemas.
Sung Joon tersadar. Sebuah lampu seperti dinyalakan dalam otaknya. ‘Aku bukan diriku? Aku adalah Bang Sung Joon, tapi orang-orang melihatku sebagai Moon Geun Young. Mungkinkah…,’
Dengan segera, Sung Joon keluar dari ruangan itu secepat kilat. Ia perlu memastikan sesuatu.
Sung Joon berdiri di depan pintu sebuah kamar rumah sakit. Ia memegang gagang pintu itu. Sung Joon menarik napas dalam-dalam, mencoba mempersiapkan diri atas apa yang akan dilihatnya nanti. ‘Apabila dugaanku benar, maka ia akan berada di sini,’ Perlahan, Sung Joon membuka pintu tersebut.
Sung Joon terkejut bukan main. Apa yang dilihatnya kini sungguh di luar akal sehat. Ia melihat tubuhnya sendiri, terbaring di atas kasur kamar rumah sakit itu. Terhuyung, Sung Joon berjalan mendekati tubuhnya yang masih tak sadarkan diri. Di dalam kamar itu tidak ada orang lain lagi.
Sung Joon terduduk lemas di kursi di samping tempat tidur. “Apa yang sebenarnya terjadi?”
Tiba-tiba seorang gadis berseragam SMA memasuki kamar itu. “Anda siapa?”
Sung Joon memandang gadis itu, “Soo Jungie,”
Gadis bernama Bang Soo Jung itu terkejut, “Bagaimana kau tahu namaku?”
Sung Joon menatap gadis itu dalam-dalam, “Soo Jungie, ini aku, kakakmu, Bang Sung Joon,”
Soo Jung membelalakkan kedua matanya. Ia tampak bingung dan ketakutan.
Sung Joon bangkit dan memegang kedua tangan gadis itu. “Percayalah padaku, Soo Jung, aku ini kakakmu,”
Soo Jung menepiskan tangannya, ia melangkah mundur. “Apa yang kau katakan? Kakakku ada disana!” ia menunjuk tubuh Sung Joon yang tergeletak di atas tempat tidur. “Kau ini siapa? Apa yang kau lakukan?!”
“Tubuhku memang ada disanasekarang, tapi aku sekarang berada dalam tubuh ini, percayalah!” ujar Sung Joon bersikeras, nyaris putus asa.
“Hentikan! Kau pasti orang gila! Aku akan melaporkanmu pada dokter!” Soo Jung berlari secepat kilat meninggalkan ruangan itu.
Sung Joon tertegun. “Tunggu! Tungguuu!” namun teriakannya tidak menahan Soo Jung ataupun membuat gadis itu kembali kesana.
‘Aaah, bagaimana ini?! Apa yang harus kulakukan? Tidak ada yang percaya padaku,’ Sung Joon menatap tubuhnya yang masih terbaring tak sadarkan diri di atas tempat tidur. Ia kemudian menebarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. ‘Moon Geun Young, di mana kau sekarang? Apabila dugaanku tepat, ketika kau terbangun nanti, kau akan berada di dalam tubuhku.’
Kemudian Sung Joon pergi dari ruangan itu, sebelum Soo Jung kembali bersama seorang dokter.
“Di mana wanita itu? Tadi jelas-jelas dia ada di sini. Hah, dia pasti kabur!” gerutu Soo Jung.
Malam itu Sung-Young, roh Sung Joon yang berada dalam tubuh Geun Young, terduduk sendirian di atas tempat tidur rumah sakit. Hanya dalam waktu beberapa jam saja, ia telah mengenali tiga orang yang ia sinyalir sebagai keluarga Moon Geun Young. Sang ibu tadi adalah ibu dari Geun Young, Kim Seo Ra. Sedangkan sang bapak adalah Moon Young Chul, ayah dari Geun Young. Si gadis sekolahan tadi bernama Moon So Hyun, adik dari Geun Young yang masih duduk di bangku SMP. Melalui perbincangan mereka bertiga, Sung Joon mengetahui bahwa Geun Young masih memiliki seorang adik lelaki yang identitasnya masih belum ketahuan, karena bocah itu tidak sempat menjenguknya di rumah sakit hari itu.
‘Aku tidak bisa mengatakan kepada siapapun bahwa aku ini sebenarnya adalah Bang Sung Joon, karena tidak akan ada yang mempercayaiku, karena mereka melihatku sebagai Moon Geun Young. Satu-satunya hal yang bisa aku lakukan adalah menunggu tubuhku sendiri sadar, dengan roh Geun Young di dalamnya. Argh, this is frustrating!’ Sung-Young mengacak rambutnya. ‘Bagaimana hal ini bisa terjadi? Mengapa hal ini terjadi?’ Sung-Young mendesah pelan.
Sung-Young memutuskan untuk turun dari tempat tidur. Ia berjalan keluar dari kamarnya. Perlahan-perlahan, ia berjalan menuju kamar tempat tubuh Sung Joon yang masih tak sadarkan diri dirawat. Sung-Young tiba-tiba melihat seorang suster berjalan melintasinya dengan cepat, ia berlari menuju kamar itu. Kemudian Sung-Young melihat sesosok dokter pria paruh baya yang sangat dikenalnya, Dokter Lee, juga berlari masuk menuju kamar itu.
‘Apakah ia sudah sadar?’ Sung-Young berjalan cepat menuju kamar itu. Sepertinya dugaannya tepat, tubuhnya telah sadarkan diri. Jantung Sung-Young berpacu cepat. ‘Moon Geun Young, apakah itu kau?’
Moon Geun Young membuka kedua matanya perlahan. Hal pertama yang dirasakannya adalah rasa sakit teramat sangat di perut bawah bagian kiri. Selebihnya, ia merasa dirinya baik-baik saja.
Geun Young melihat seorang suster dan dokter sibuk memeriksanya. Terutama sang dokter yang terus memusatkan perhatian pada perut bagian kirinya, tempat yang terasa sakit sedari ia sadar.
Dokter itu mengatakan sesuatu yang tidak dapat dicerna dengan baik oleh tingkat kesadaran Geun Young. Tenggorokan Geun Young pun terasa sangat kering sehingga ia tidak sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Setelah saling berbicara selama beberapa saat, dokter dan suster itu meninggalkan Geun Young sendirian di ruang itu.
‘Hei, ke mana kalian pergi? Jangan tinggalkan aku sendirian. Di mana keluargaku?’ Geun Young berusaha keras mengumpulkan kesadarannya. Perlahan, ia meraih tombol di samping tempat tidurnya. Ia memencet sebuah tombol, membuat bagian kepala dan badan tempat tidurnya bergerak naik, sehingga posisinya kini terduduk. Rasa perih dan sakit menusuk-nusuk perut bagian kirinya. Geun Young mengernyit. Lebih dari itu, tubuhnya terasa sangat berat. Ia berusaha keras menggerakkan tubuhnya.
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka lagi. Geun Young mengerutkan keningnya. ‘Siapa itu?’ Betapa terkejutnya dia, ketika sedetik kemudian ia melihat tubuhnya sendiri berdiri di hadapannya, berjalan mendekatinya.
“Aaakkk!!!” Geun Young berteriak terkejut, tetapi kemudian teriakannya berubah menjadi teriakan penuh kesakitan. Perut bagian kirinya terasa sakit sekali. “Aaah…!”
Tubuh Geun Young segera berlari mendekati Geun Young, membuatnya semakin histeris. “Siapa kau? Siapa kau?! Kau pasti hantu! Jangan ganggu akuuu!” Geun Young kemudian tertegun sendiri. Ia memegang lehernya. “Suaraku? Suaraku?!”
Tubuh Geun Young mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya. Sebuah cermin. Ia menyerahkannya kepada Geun Young.
Geun Young secepat kilat menyambar cermin itu dan menaruhnya tepat di depan wajahnya. “Aaakkk!” ia meraba-raba wajahnya sendiri, pantulan dirinya di cermin pun melakukan hal yang sama persis, hanya saja, wajah itu bukanlah wajahnya, melainkan wajah Bang Sung Joon. Geun Young melongo. “Tidak mungkin!” Kini ia memandangi seluruh badannya sendiri. Kakinya, tangannya, seluruh tubuhnya, telah berubah menjadi seorang Sung Joon.
“Moon Geun Young, aku tahu itu kau,” ujar tubuhnya yang kini berdiri di samping tempat tidurnya. “Aku bisa menjelaskannya,”
“Jadi, kita bertukar tubuh?!” seru Geun-Joon, roh Geun Young yang berada dalam tubuh Sung Joon.
Sung-Young menganggukkan kepalanya. “Sepertinya begitu. Dengan istilah lain, roh kita telah tertukar,”
“Ini tidak mungkin…, ini tidak mungkin…,” racau Geun-Joon.
“Aku juga merasa ini mustahil, tapi lihat yang sekarang terjadi pada kita,” ujar Sung-Young.
“Bagaimana kau bisa melakukan semua ini?!” seru Geun-Joon frustasi.
“Aku? Aku juga tidak tahu bagaimana ini semua terjadi. Ingatan terakhirku adalah aku pingsan di bandara Gimpo, lalu aku dibawa ke rumah sakit dan dioperasi. Ketika aku sadar, aku sudah jadi begini,” tutur Sung-Young.
Geun-Joon menggigit bibir bawahnya, kebiasaan Geun Young ketika sedang bingung. “Terakhir yang aku ingat adalah aku sedang di dalam mobil, perjalanan menjemput adikku. Lalu tiba-tiba pandanganku kabur dan kepalaku sakit. Setelah itu aku tak ingat apa-apa lagi,”
“Dokter dan keluargamu bilang kau kecelakaan,” sahut Sung-Young.
“Kau telah bertemu keluargaku?” Geun-Joon terkejut.
“Tentu saja. Mereka tidak percaya ketika aku bilang aku bukanlah Moon Geun Young,” ujar Sung-Young.
“Tentu saja mereka tidak akan percaya,” Geun-Joon benar-benar tampak resah, “Kita tidak bisa memberi tahu siapa-siapa, karena mereka tidak akan percaya,”
“Lalu apa yang harus kita lakukan?” tanya Sung-Young, putus asa.
“Ah, entahlah! Biarkan aku berpikir dulu, semua ini terlalu membingungkan untuk aku pahami sekaligus,” Geun-Joon memegang kepalanya yang tetiba terasa pusing.
“Perutmu…, apakah terasa sakit?” tanya Sung-Young.
“Ah ya, ini di sebelah kiri, rasanya sakit sekali. Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Kau bilang tadi operasikan, operasi apa?” Geun-Joon meraba perut bagian kirinya yang diperban.
Sung-Young mendesah pelan. “Ginjal,” jawabnya pelan. “Sebenarnya, aku hanya tinggal memiliki satu ginjal saja, dan ginjal yang aku punya mulai tidak berfungsi dengan baik sejak setahun yang lalu. Sebenarnya sejak beberapa bulan yang lalu aku telah mendapatkan donor, hanya saja aku selalu menunda operasi,” tuturnya dengan ekspresi murung.
“Ah, begitu,” Geun-Joon menatap Sung-Young dengan iba, “Mengapa kau menunda operasi?”
Sung-Young menggelengkan kepalanya, “Maafkan aku ya, jadi dirimu yang harus merasakan sakitnya setelah operasi,” ia berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Aku tak apa-apa,” sahut Geun-Joon, “Kau sendiri bagaimana? Maksudku, badanku,”
“Justru baik-baik saja, hanya memar di kepala dan beberapa bagian tubuh, serta luka lecet kecil. Kalau hal begini aku sudah terbiasa merasakannya setiap kali habis berkelahi ketika sekolah dulu,” sahut Sung-Young santai.
“Dasar bocah preman,” Geun-Joon mendengus. “Aku juga akan membuat tubuhmu ini sembuh dengan cepat. Aku sudah pernah menjalani operasi yang lebih besar dari ini,”
“Benarkah?” Sung-Young tertegun.
“Ah ya, bagaimana dengan keluargaku tadi? Kau sudah mengenali merekakan? Untuk sementara ini aku rasa kita harus menyesuaikan dengan keluarga masing-masing, karena mereka tidak akan percaya jika kita bilang bahwa jiwa kita tertukar,” kali ini Geun-Joon yang mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Ya, aku sudah mengenal mereka semua, ayahmu, ibumu, dan adikmu,” sahut Sung-Young, “Keluargaku mungkin akan datang besok pagi.Adaayahku, ibuku, dan dua adik perempuanku, Soo Jung dan Sung Yeon. Ah ya, dokter yang tadi itu, dia adalah Dokter Lee. Dia satu-satunya dokter yang menanganiku,”
Geun-Joon mencoba mengingat semua anggota keluarga Sung Joon. “Hmmm, Dokter Lee ya…, sepertinya aku pernah melihat dokter itu, wajahnya seperti familiar bagiku, tapi di mana aku pernah bertemu dengannya ya…,” Geun-Joon mengerutkan keningnya, “Ah, entahlah! Aku tak bisa mengingatnya,”
Sung-Young mendengus. “Ingatanmu memang payah,”
Geun-Joon mengerucutkan bibirnya, cemberut. “Ah ya, berapa umur adik-adikmu?”
“Soo Jung berusia enam belas tahun, Sung Yeon tiga belas tahun,”
“Benarkah? Mereka seumuran dengan adik-adikku juga. Sepertinya akan menyenangkan,” sahut Geun-Joon bersemangat. Itu adalah hal pertama yang membuat Geun Young bersemangat setelah ia sadar sebagai Sung Joon.
“Tadi siang aku bertemu dengan Soo Jung di ruangan ini, sewaktu kau belum sadar, ia mengira aku tidak waras karena terus berkata bahwa aku adalah kakaknya,”
“Apa?!” seru Geun-Joon kaget. “Kau ini bodoh sekali…, sekarang ini kau sedang ada di dalam tubuhku, bisa-bisanya kau melakukan sesuatu yang mempermalukanku, hisssh…,”
“Ya maaf, akukanjuga merasa panik waktu itu. Ah ya, ada satu hal yang kau perlu tahu,” ujar Sung-Young kemudian, “Aku dan ayahku memiliki hubungan yang tidak begitu baik,”
“Begitukah?” Geun-Joon menghela napasnya, “Yah, aku rasa dengan kondisi kita sekarang ini, yang kita tidak tahu akan sampai kapan, kita harus bertahan. Jangan lupa, mulai saat ini, kau menggunakan tubuhku dan orang-orang akan melihatmu sebagai Moon Geun Young. Sementara aku berada di dalam tubuhmu dan orang-orang akan melihatku sebagai Bang Sung Joon.”
“I think it’s gonna be fun,” dengan wajah Geun Young, Sung Joon tersenyum jahil.
“Or frustating instead,” dengan wajah Sung Joon, Geun Young menggigit bibir bawahnya.
Seorang gadis berseragam SMA Yonsang memasuki kamar rumah sakit itu dengan ceria. Rambut hitam panjang lurusnya tergerai indah. Senyum cantiknya merekah menghiasi wajahnya yang berkulit putih mulus. “Sung Joon oppa!”
Geun-Joon tertegun. ‘Ah, ini pasti adiknya Bang Sung Joon. Dia memakai seragam SMA, berarti dia adalah Soo Jung. Dia mirip sekali dengan Sung Joon. Tapi…, sepertinya aku pernah melihat gadis ini. Hmmm…, di mana ya? Ah, aku tidak sanggup mengingatnya!’
Geun-Joon tersenyum pada Soo Jung. “Halo, Soo Jung ah,”
Soo Jung mengerutkan keningnya. Ia segera mendekati Geun-Joon dan menyentuh dahinya. “Oppa! Kau tidak apa-apakan? Yang dioperasi perutmu tetapi mengapa sepertinya kepalamu yang bermasalah?”
Geun-Joon menaikkan kedua alisnya. “Memangnya kenapa? Aku baik-baik saja,”
Soo Jung mendengus. “Biasanyakankau selalu menanggapi sapaanku dengan sinis dan dingin, tetapi tadi kau tersenyum padaku, dasar sok manis!”
‘Aih, bahkan sifatnya pun seperti kakaknya, ckckck!’ batin Geun-Joon.
“Ah ya, Oppa, kemarin siang waktu kau belum sadar, ada wanita aneh datang kemari,” Soo Jung bercerita dengan penuh semangat, “Masa dia mengaku-aku sebagai dirimu, hiyyy! Mengerikan sekali! Dia pasti orang gila, Oppa! Sayang sekali lho, padahal dia sangat cantik, tetapi mengapa otaknya miring begitu ya? Ckckck…,”
Geun-Joon hampir tersedak ludahnya sendiri. “Soo Jung ah, dia itu bukan orang gila,”
“Masa sih?! Kau mengenalnya, Oppa?” seru Soo Jung tidak percaya.
“Iya, aku mengenalnya. Namanya Moon Geun Young. Dia itu tidak gila, dia bahkan sangat cerdas. Dia adalah seniorku di kampus. Dia juga seorang asisten dosen. Bulan depan dia akan diwisuda sebagai sarjana. Nah, dia tidak gila,kan?” tutur Geun-Joon dengan tak kalah bersemangatnya.
“Lalu mengapa kemarin dia bertingkah aneh seperti itu?” Soo Jung masih tidak percaya begitu saja dengan penuturan Geun-Joon.
Geun-Joon memutar otak mencari jawaban dengan cepat. “Oooh… itu, aaah, itu karena kecelakaan itu, ya, kecelakaan! Dia ada di rumah sakit ini karena dia kecelakaan mobil, tepat di hari yang sama waktu aku dioperasi. Kecelakaan itu menyebabkan gegar otak ringan, jadi mungkin kemarin itu dia belum sembuh benar, begitulah,”
“Aaah, jadi begitu rupanya,” Soo Jung terlihat puas dengan penjelasan Geun-Joon. “Syukurlah kalau begitu keadaannya,”
“Soo Jung ah, tadi kau bilang dia cantik ya?” tanya Geun-Joon.
“Iya, Oppa,” jawab Soo Jung mantap, “Dia cantiiik sekali!”
Tanpa sadar Geun-Joon senyum-senyum sendiri mendengar dirinya dibilang cantik.
Soo Jung memberi pandangan meneliti kepada Geun-Joon. “Oppa, mengapa kau senyum-senyum sendiri? Hayooo… kau suka pada Eonnie itu yaaa?” goda Soo Jung.
Geun-Joon mendengus. “Tentu saja tidak! Geun Young sunbae tidak mungkin menyukai Bang Sung Joon ini. Sung Joon terlalu muda untuknya, masih seperti anak kecil. Dia hanya menganggap Sung Joon sebagai juniornya, bahkan mungkin ia sudah menganggapnya seperti adiknya sendiri. Lagipula Sung Joon tidak cocok untuk menjadi pasangan wanita itu,”
Soo Jung mengerutkan keningnya. “Oppa, aku kan tidak bertanya apakah Eonnie itu menyukaimu atau tidak. Aku bertanya apakah kau menyukainya! Hah, dasar kau ini!”
Geun-Joon terhenyak mendengar kata-kata Soo Jung. ‘Benar juga. Barusan aku memberi jawaban atas perspektifku sendiri, Moon Geun Young, bukan melalui sudut pandang Bang Sung Joon. Ah, bagaimana aku bisa tahu apa yang ada di pikirannya?’
“Jadi bagaimana, Oppa?” desak Soo Jung.
“Pokoknya tidak ada hal seperti itu,” jawab Geun-Joon akhirnya.
Sebuah ketukan terdengar di pintu ruangan Dokter Lee.
“Masuk,” ujar Dokter Lee.
Pintu ruangan itu terbuka. Seorang pria muda memasuki ruangan tersebut. Pria tampan itu terlihat necis mengenakan kemeja biru muda polos tanpa dasi, yang dimasukkan dengan rapi ke dalam celana bahan berwarna hitam. Rambut hitamnya berpotongan cepak, semakin mempermanis penampilan maskulinnya.
“Halo, selamat siang, Pak Dokter,” pria itu menyapa Dokter Lee.
“Ah, Dong Hae ya!” seru Dokter Lee ceria ketika melihat tamunya. “Akhirnya kau datang juga. Duduklah,”
Pria bernama Dong Hae itu duduk di bangku di hadapan meja Dokter Lee. “Bagaimana pekerjaan Anda selama ini, Pak Dokter?”
Dokter Lee tertawa. “Kau ini, dasar anak iseng!Kansudah Ayah bilang, kalau di dalam ruanganku ini jangan memanggilku seperti itu,”
Dong Hae ikut tertawa, tampan sekali. “Iya, Pak Dokter, ups! Maksudku Ayah,”
Mereka berdua tertawa. “Dasar kau ini! Ah ya, Dong Hae ya, Ayah sengaja memanggilmu kemari karena ada yang ingin Ayah bicarakan,” ujar Dokter Lee.
Dong Hae menganggukkan kepalanya. “Aku tahu, Ayah selalu beginikansedari dulu. Apabila ada sesuatu yang tak bisa dibicarakan di rumah maka akan memanggilku kemari. Apa yang kali ini begitu penting, Yah?”
Ekspresi Dokter Lee berubah serius. “Dong Hae ya, aku tahu kau belum menentukan ingin bekerja di rumah sakit mana. Bahkan kau juga memiliki pilihan untuk tidak bekerja diSeoul, ataupun di seluruh daratan Korea Selatan sama sekali, setelah pendidikan spesialisasimu berakhir kemarin,”
“Aku bahkan belum menentukan apakah aku akan langsung bekerja setelah dua tahun belajar bedah kemarin, aku jugakanbutuh liburan,” potong Dong Hae sambil menaikkan alisnya.
“Hush! Dengarkan dulu Ayahmu sampai selesai bicara,” seru Dokter Lee sambil membelalakkan kedua matanya.
Dong Hae tersenyum meminta maaf.
Dokter Lee menyerahkan sebuah berkas kepada Dong Hae. Data seorang pasien.
“Apa ini?” tanya Dong Hae. “Apakah ini hadiah untukku karena telah menyelesaikan pendidikan?”
Dokter Lee berdeham keras.
Dong Hae meringis. “Iya, Ayah, maaf,” pria itu menyadari bahwa ayahnya tidak bisa diajak bercanda untuk saat itu.
“Jadi, Ayah memiliki seorang pasien. Bocah lelaki ini, Ayah telah merawatnya sejak ia kecil. Yah, dia sudah sakit-sakitan sejak ia kecil. Ia mengidap suatu kelainan sejak lahir, yang menyebabkan beberapa organ vital dalam tubuhnya kurang berfungsi dengan baik. Penyakit yang sangat langka dengan kemungkinan satu berbanding sepuluh ribu jiwa. Pada awalnya, lelaki ini memiliki lemah jantung, yang hingga kini masih ia idap. Ketika lelaki ini berusia sepuluh tahun, satu ginjalnya harus diambil karena sudah tidak berfungsi. Beberapa waktu yang lalu, satu ginjalnya yang tersisa pun mengalami kegagalan. Beruntung ia mendapatkan donor, sehingga beberapa hari yang lalu ia menjalani operasi transplantasi ginjal.”
Dong Hae kali ini mendengarkan penuturan ayahnya dengan sungguh-sungguh. Ia mengamati berkas pasien di tangannya, menatap foto wajah bocah lelaki yang terdapat disitu.
“Kau tahu sendiri bahwa Ayah seharusnya sudah pensiun sejak dua setengah tahun yang lalu,” lanjut Dokter Lee. “Namun waktu itu, kakak kandung lelaki ini meninggal dunia karena kecelakaan. Kondisi mentalnya sangat berpengaruh terhadap kondisi fisiknya, sehingga ia mengalami drop yang luar biasa pada waktu itu.”
‘Dua setengah tahun yang lalu? Bertepatan dengan keberangkatanku ke Amerika untuk belajar spesialisasi bedah. Bertepatan dengan berpisahnya aku dan wanita itu.’ batin Dong Hae. Untuk sepintas terbersit wajah seorang wanita di benaknya. Ia kemudian menepiskan bayangan itu dan kembali memfokuskan diri terhadap cerita ayahnya.
“Ketika itulah Ayah tersadar, meskipun Ayah pensiun, Ayah tidak dapat meninggalkan bocah ini begitu saja,” Dokter Lee melanjutkan ceritanya. “Ayah sadar bahwa Ayah telah menganggapnya sebagai keluarga, sebagai anak Ayah sendiri, bukan hanya sekadar pasien. Untuk itulah, Ayah sengaja menunda pensiun, hingga kau menyelesaikan pendidikanmu dan menjadi seorang dokter. Mengapa? Karena hanya dirimu satu-satunya yang Ayah dapat percayai untuk melanjutkan tugas Ayah merawat lelaki ini.”
Dong Hae terhenyak. “Yah, aku ini dokter bau kencur. Aku tidak yakin aku sendiri bisa menangani ini. Apalagi lelaki ini mengidap penyakit langka. Pengalamanku masih sedikit. Mengapa kau tidak memberikannya kepada juniormu yang jauh lebih berpengalaman dariku?”
Dokter Lee menggeleng. “Tidak. Aku yakin kau pasti bisa, Dong Hae ya. Aku tidak bisa memberikannya kepada dokter lain selain dirimu.”
Dong Hae menghela napasnya. “Mengapa?”
Dokter Lee menatap Dong Hae tajam. “Karena kau adalah anakku.”
Dong Hae kehilangan kata-kata.
“Sekarang ini, kau telah menjadi seorang dokter, Dong Hae ya. Ayah sangat mempercayaimu, dan ayah berharap banyak padamu. Karena itulah, Ayah hanya sanggup mempercayakan Bang Sung Joon kepadamu, tidak kepada yang lain. Ayah tidak pernah meminta apa-apa darimu selama ini. Bahkan untuk menjadi seorang dokter sepertiku pun semua adalah murni keinginanmu sendiri.” Dokter Lee menatap anak tunggalnya itu dalam-dalam. “Hanya sekali ini Ayah memohon, dan hanya kepadamu seorang. Lee Dong Hae, tolong rawatlah pasienku. Tolong rawat Bang Sung Joon.”
Sung-Young berjalan menyusuri lorong rumah sakit sembari mendorong sebuah kursi roda dengan Geun-Joon diatasnya. Perban di perut Geun-Joon baru saja diganti, sehingga ia merasa tidak kuat berjalan. Lagipula, Sung Joon merasa bersalah karena membuat Geun Young merasakan sakit yang seharusnya ia alami, jadi ia menawarkan diri untuk mendorong kursi roda baginya.
“Bukankah seharusnya kau sudah boleh pulang dari kemarin?” tanya Geun-Joon.
“Aku tidak akan pulang sampai kau juga sudah diperbolehkan pulang,” sahut Sung-Young.
Geun-Joon mengangkat kedua alisnya. “Mengapa begitu? Aku tahu kau merasa bersalah padaku, tapi tidak perlu sampai seperti itu, Sung Joon ah,”
Sung-Young mendengus, “Aku hanya takut pulang ke rumah yang asing dengan orang-orang yang asing bagiku. Selain itu, di depan mereka aku harus menjadi dirimu. Aku rasa aku belum siap.”
Geun-Joon terkesiap. Mau bagaimanapun juga, Bang Sung Joon hanyalah bocah lelaki biasa. Ia juga seorang anak-anak yang memiliki rasa takut dan khawatir.
“Kalau bersamamu, aku bisa menjadi diriku sendiri, karena hanya kau yang tahu dan percaya bahwa aku adalah Bang Sung Joon. Hanya dirimu yang melihatku sebagai Bang Sung Joon, bukan Moon Geun Young.” Tutur Sung-Young.
Mereka berdua tiba di taman rumah sakit. Sore itu matahari bersinar cerah. Angin bertiup pelan, menambah damainya suasana sore itu.
“Sung Joon ah,” Geun-Joon mengambil sesuatu dari kantong celananya, memberikannya kepada Sung-Young, sebuah telepon genggam, “Ini, telepon genggammu,”
“Ah ya, terima kasih Noona,” Sung-Young menerima telepon genggam itu, “Ini punyamu,” ia juga mengambil telepon genggam dari saku celananya lalu menyerahkannya kepada Geun-Joon.
“Hufff… untung saja kita memberi tahu teman-teman kita masing-masing untuk tidak menengok ke rumah sakit. Kalau tidak, kondisi bisa jadi akan sangat kacau karena kita belum terbiasa dengan keadaan ini,” ujar Geun-Joon.
Sung-Young mendengus. “Itukanhanya berlaku bagimu. Akukantidak memiliki banyak teman sepertimu,”
Geun-Joon kemudian teringat pada sesuatu. “Ah ya, lalu bagaimana dengan gadis itu? Siapa namanya? Soo Hyun?”
“Soo Hyang!” seru Sung-Young.
“Ah ya benar, Soo Hyang itu. Bagaimana jadinya kalian? Berpacaran lagi?” tanya Geun-Joon.
“Tentu saja, tetapi aku tidak memberitahunya bahwa aku operasi. Pertama aku tak ingin dia khawatir. Kedua aku tak ingin dia datang kemari, tidak ketika kondisi kita masih seperti ini.” tutur Sung-Young.
Geun-Joon mengangguk mengerti. “Ah ya, ada satu hal lagi, kita tidak bisa menerima atau membuat panggilan dari telepon genggam kita sendiri, karena suara kita pun tertukar seiring dengan tubuh kita,”
Sung-Young mengangguk-angguk paham. “Benar sekali kau,”
“Kita hanya bisa mengirim dan menerima pesan dengan telepon genggam kita,” lanjut Geun-Joon, “Dan juga, sebenarnya ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu, Sung Joon ah,”
“Apa itu?” tanya Sung-Young penasaran.
Geun-Joon tersenyum. “Besok lusa aku dan tubuhmu ini sudah diizinkan pulang,”
“Benarkah? Waaah, cepat sekali! Kau memang luar biasa, Moon Geun Young sunbae!” Sung-Young tersenyum lebar.
“Tentu saja!” Geun-Joon tertawa. “Ah ya, ingat ya, ketika kita telah pergi dari rumah sakit nanti, jangan sampai kau melakukan sesuatu yang dapat mempermalukan nama baikku,” ancam Geun Young.
Sung-Young meletakkan tangannya di dahi, seolah memberi hormat kepada Geun-Joon. “Siap!”
“Kau juga harus bersikap dengan baik kepada keluargaku dan Shi Hoo,” ujar Geun-Joon, “Aku menitipkan mereka padamu, Bang Sung Joon,”
“Baiklah, Moon Geun Young sunbae,” sahut Sung-Young, “Kita juga harus ingat untuk menukar nama panggilan ketika ada orang lain di sekitar kita. Aku memanggilmu ‘Sung Joonie’, dan kau panggil aku ‘Noona’”
Geun-Joon melotot. “Enak saja aku memanggilmu ‘Noona’, pokoknya sekali ‘Sunbae’ tetap ‘Sunbae’!”
“Kalau begitu aku tidak akan menengok, yeyeye…,” Sung-Young menjulurkan lidahnya.
“Hei, jangan menggunakan ekspresi jelek begitu dengan tubuhku!” Geun-Joon menjitak kepala Sung-Young.
“Aduh, sakit! Bisa-bisanya kau melukai tubuhmu sendiri!” seru Sung-Young.
“Biar saja! Akukanmemiliki hak penuh atas tubuhku sendiri,” sahut Geun-Joon.
“Tidak berlaku ketika rohku yang berada di dalam tubuhmu ini,” lagi-lagi Sung-Young menjulurkan lidahnya, membuat Geun-Joon kembali mengayunkan kepalan tangan padanya.
Mereka berdua terus bercanda dan tertawa-tawa. Kemudian Sung-Young merasakan bahwa dirinya sedang diawasi. Ia memandang berkeliling, lalu menemukan sepasang mata sedang memandanginya. Pemilik sepasang mata itu adalah seorang pria yang tak dikenalnya.
“Pria tampan itu yang disanaitu... siapa?” tanya Sung-Young sambil mengedikkan kepalanya ke arah seorang pria yang berdiri tak jauh dari mereka, “Apakah kau mengenalnya? Mengapa dia sepertinya memperhatikan aku terus dari tadi? Oh oh! Lihat! Dia berjalan menuju kemari!”
Tanpa Sung-Young sadari, ekspresi wajah Geun-Joon berubah muram ketika melihat pria tampan itu. “Pria itu… adalah mantan pacarku,” jawabnya lirih.
Geun-Joon : istilah yang digunakan penulis untuk menyebut jiwa Geun Young dalam tubuh Sung Joon
Sung-Young : istilah yang digunakan penulis untuk menyebut jiwa Sung Joon dalam tubuh Geun Young