#repost
Pesan penting dari guru kami Prof. Abdullah bin mohammad Baharoon Ų¬Ų§Ł Ų¹Ų© Ų§ŁŲ£ŲŁŲ§Ł ŲŁŲøŁ Ų§ŁŁŁ
Ketika isu-isu tentang pesantren terus bermunculan akhir-akhir ini dan tidak kunjung selesai, saya mulai memahami dengan lebih dalam pesan yang pernah disampaikan oleh guru saya tercinta, Prof. Al-Habib Abdullah bin Muhammad Baharoon, Rektor Al-Ahgaff University, Hadramaut.
Pesan itu beliau ulangi berkali-kali, terutama ketika beliau berkunjung ke Indonesia beberapa bulan yang lalu. Dalam banyak kesempatan ā ketika kami berdiskusi di mobil, di hotel, di rumah, dan di berbagai tempat ā beliau menegaskan sebuah hal yang sangat penting:
āMusuh-musuh umat ini tidak akan berhenti berusaha untuk merusak Islam dengan berbagai cara. Ketika mereka tidak mampu memecah-belah organisasi-organisasi besar Islam di Indonesia, mereka akan mencari cara lain.ā
Beliau menjelaskan dengan panjang lebar bahwa upaya untuk melemahkan umat Islam dilakukan dengan menyerang figur-figur yang dimuliakan oleh umat itu sendiri. Langkah pertama mereka, kata beliau, adalah mencari celah pada anak-anak para kiai, gus, atau tokoh agama. Mereka mencari sisi buruk atau kelemahan pribadi dari generasi penerus para ulama, lalu mempublikasikannya secara luas. Karena mereka belum berani menyerang para kiai dan ulama besar secara langsung, maka yang diserang terlebih dahulu adalah kehormatan anak-anak mereka. Tujuannya jelas ā agar masyarakat beranggapan bahwa para kiai sudah tidak mampu mendidik anaknya sendiri, dan dengan begitu kepercayaan kepada para ulama perlahan pudar.
Setelah itu, beliau melanjutkan, mereka akan beralih kepada para habaib. Karena mereka tahu, para habaib memiliki magnet besar di hati masyarakat Indonesia, para musuh ini akan menampilkan segelintir individu yang menyandang gelar āHabibā namun tidak mencerminkan akhlak mayoritas habaib di negeri ini. Mereka akan mengangkat kasus-kasus tertentu, menonjolkan sosok-sosok yang bermasalah, lalu membentuk opini bahwa semua habib sama seperti itu. Padahal yang mereka lakukan hanyalah memanfaatkan segelintir contoh untuk merusak nama besar keturunan Rasulullah ļ·ŗ di mata umat.
Setelah nama para habaib digoyang, target berikutnya adalah pesantren. Beliau berkata, āSebentar lagi kalian akan melihat bagaimana pesantren akan terus menjadi sorotan dan diangkat sebagai masalah besar.ā Hal-hal yang sebenarnya wajar jika terjadi di tempat lain, apabila terjadi di pesantren, akan mereka jadikan topik yang sangat hangat. Isu kecil akan dibesar-besarkan, kasus individu akan digeneralisasi menjadi kesalahan institusi, dan pada akhirnya, kepercayaan masyarakat terhadap pesantren akan perlahan terkikis.
Saya masih mengingat dengan jelas bagaimana beliau menyampaikan hal ini, bukan hanya kepada kami sebagai murid, tetapi juga di hadapan para pejabat tinggi negara. Dalam satu kesempatan, beliau bahkan menyampaikan pesan ini langsung kepada Menteri Agama dan Wakil Menteri Luar Negeri saat itu. Saya turut mendampingi beliau bersama beberapa murid lainnya, di antaranya Dr. Hasan Al-Jufri, Prof. Buya Yahya, ŲŁ Ų²Ų© Ų¬Ł Ł Ų§ŁŁŁŁŲ Dr. Hanif Alatas dan Almhdhar Muhammad Syaugi Lc. MA. Beliau menegaskan dengan nada serius, bahwa pesantren akan menjadi sasaran setelah ini, kemudian yang akan dirusak berikutnya adalah nama para kiai dan tokoh agama. Dan setelah semua itu, tujuan akhirnya adalah umat Islam itu sendiri.
Kita bisa menyaksikan sendiri sekarang, bagaimana tanda-tanda itu mulai tampak nyata. Nama-nama dan gelar yang dahulu penuh kehormatan kini mulai kehilangan maknanya. Dahulu, ketika seseorang mendengar kata āHabibā, spontan muncul rasa hormat dan keinginan untuk menundukkan pandangan. Namun sekarang, kata āHabibā sering kali diasosiasikan dengan orang-orang tertentu yang perilakunya tidak sesuai harapan, sehingga masyarakat mulai menggeneralisasi dan kehilangan rasa hormat itu.
Dulu di tanah Sunda, misalnya, sebutan āMamaā melekat pada tokoh-tokoh alim seperti Mama Falak dan ulama-ulama besar lainnya. Namun kini, sebutan āMamaā sering kali disematkan sembarangan, bahkan kepada orang yang jauh dari keteladanan ulama terdahulu, bisa jadi kepada orang aneh yang mengaku bisa berbahasa semut, Akibatnya, sebutan yang dulu membawa wibawa kini kehilangan makna dan nilainya. Hal yang sama terjadi pada sebutan Gus, Kiai, Habib, Abuya, dan sebagainya ā yang dulu menjadi simbol ilmu, adab, dan kebijaksanaan, kini dianggap biasa oleh sebagian masyarakat.
Inilah yang sesungguhnya dikhawatirkan oleh beliau. Ketika para tokoh agama sudah tidak lagi dihormati, ketika simbol-simbol kebaikan sudah dianggap biasa, maka umat akan mudah dipecah-belah. Umat tidak lagi memiliki rujukan moral dan spiritual yang kuat. Dan ketika umat kehilangan arah dan kepercayaan terhadap ulama serta habaibnya, maka pada saat itulah umat menjadi rapuh dan mudah dipengaruhi oleh arus luar yang ingin menghancurkan mereka dari dalam.
ŁŲ³Ų£Ł Ų§ŁŁŁ Ų§ŁŲ¹Ų§ŁŁŲ©
ŁŲŖŲØŁ ŲÆ. Ų¹ŁŁ Ų²ŁŁ Ų§ŁŲ¹Ų§ŲØŲÆŁŁ Ų§ŁŁŲ§Ł Ų·ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŲ§ŲØŲ§Ł Ł”Ł¦ Ų±ŲØŁŲ¹ Ų§ŁŲ«Ų§ŁŁ ٔ٤٤٧ ŁŁ Tokyo šÆšµ 9 oktober 2025 khusus ilmu























