Pertahananku runtuh di matamu
Malam itu, malam ketika untuk pertama kalinya aku melihatmu secara langsung di dunia nyata dalam forum perkumpulan remaja desa.
Jauh sebelum malam itu, desis namamu sudah lama kudengar, dan saat itu aku tak berniat jatuh hati padamu, bahkan membayangkan parasmu saja tidak. Saat itu, pikiranku menolak untuk menyambut kecantikanmu, tapi hatiku? Dia tak pernah bohong. Akhirnya kuakui, aku mengagumimu.
Ada satu momen malam itu, saat rapat sedang berlangsung hangat, kau menoleh ke arahku untuk memastikan jadwal acara. Mata kita bertemu selama beberapa detik di antara riuh suara orang-orang di aula. Pikiranku ingin sekali mengajakmu bercanda atau berbincang kala itu, tapi lisanku tak pernah benar-benar merealisasikannya.
Status "Gus" membuatku terlalu kaku dan menjaga imej. Sampai akhirnya aku menyesal tak melakukan itu dulu. Mungkin jika aku lebih berani untuk sedikit saja mengajakmu berbicara, pintu itu akan sedikit terbuka. Tapi sudahlah, itu sudah berlalu.
Namun semesta sempat memberi secercah harapan di pengujung bulan Ramadan. Lewat kegiatan pembagian takjil remaja desa yang penuh dengan aroma takjil dan riuh klakson jalanan, kita kembali berada dalam satu lingkup tugas yang sama. Sebuah kebetulan bahwa nomorku ternyata kau simpan dalam kontakmu. Itu satu hal yang membuatku sangat bahagia.
Lagi, dengan tugas itu, aku beberapa kali berhasil untuk berbincang denganmu lewat chat. Bahkan pernah panjang. Ada satu malam di awal obrolan intens itu, kau membuka pesan dengan kalimat yang membuatku mendadak merasa berjarak.
Aku menatap dua kata di layar ponsel itu di kamar yang sepi. Tembok pembatas itu mendadak terasa tebal. Buru-buru aku menyangkalnya dengan mengetik balasan dengan jantung berdebar.
"Jangan panggil Gus, ah. Panggil Mas saja, atau nama juga nggak apa-apa. Kalau di depanmu, aku cuma pengen jadi orang biasa."
Butuh waktu beberapa menit yang terasa lama sampai status typing di ponselmu muncul kembali, seolah kau sedang kikuk di seberang sana. Namun akhirnya kau membalas, "Eh... iya, Mas. Maaf ya."
Aku tersenyum sendiri menatap langit-langit kamar. Pintu itu seperti sedikit terbuka malam itu. Percakapan kita berlanjut ditemani suara jangkrik di luar rumah, hingga pada malam-malam berikutnya kau mulai berani mengeluh lelah karena revisi tugas kuliahmu yang seolah tidak ada habisnya.
"capek banget deh sama revisian semester ini. Dosennya kayak sengaja nyari-nyari celah biar tugasku salah terus, tapi nggak pernah ngasih tahu benernya di mana," keluhmu di suatu malam yang larut.
Sambil menarik napas dalam, aku mengetik balasan pelan-pelan, mencoba mengaitkan keluhanmu dengan apa yang kurasakan.
"Hubungan manusia emang kadang kayak gitu kan" jawabku mencoba mengalir. "Banyak orang yang pinter banget ngasih kita pertanyaan dan teka-teki, tapi mereka lupa ngasih kunci jawabannya. Akhirnya kita dipaksa buat mikir dan nebak-nebak sendiri sampai capek."
Kau sempat membisu agak lama, sebelum mengetik balasan pendek. "Terus kalau nggak ada kunci jawabannya, kita harus gimana, Mas?"
"Ya nggak gimana-gimana," balasku santai namun penuh arti. "Kalau soalnya emang telanjur cacat dan nggak punya jawaban, pilihan terbaiknya adalah ngelewati soal itu. Nggak usah dipaksa dijawab daripada lembar ujian kita kosong semua. Toh, masih banyak halaman berikutnya yang harus kita isi, kan?"
“Lagian, tau atau nggaknya kita sama jawaban itu tetep gak ngubah fakta kalo tugasnya harus cepet dikumpulin hehehe”
Malam itu kau membalas dengan sebuah emotikon senyum. Aku bahagia kala itu, sangat bahagia. Rasanya ingin cepat "kugas" saja perjuangan ini. Rasanya kita semakin dekat.