Nikah aja belum udah baca buku parenting, penting ngga sih?
Kebanyakan dari anak muda (termasuk saya) merasa belum waktunya ketika membahas soal pernikahan, berumah tangga. atau bahkan parenting. Kita selalu berdalih bahwa masih belum kepikiran, masih ada yang perlu dicapai dulu, itu mah urusan nanti, masih ini dan itu, padahal jika dipikirkan kembali memang ada ya pengetahuan yang tidak berguna? Justru bukankah harus kita mulai dari sekarang untuk bekal ke depannya? Meskipun tidak tahu kapan ilmu itu akan digunakan, setidaknya kita tahu teori dahulu sebelum praktik.
Mari kita menggeser pemikiran kita lagi, bukan berarti anak muda yang saat ini gencar membahas materi pernikahan atau parenting udah ngebet banget nikah, kalo memang sudah punya keinginan untuk itu, bukannya bagus ? jadi lebih semangat kan? Kalau belum, adakah kesalahan yang diperbuat dengan kita mulai belajar dari sekarang? Yuk kita belajar, mumpung kita masih sempat, jangan gengsi untuk mengetahui banyak ilmu apalagi soal ibadah seumur hidup dan segala perintilan yang ada di dalamnya.
Kali ini saya akan merangkum sedikit dari buku yang saya baca yang berjudul “Inspirasi Parenting dari Al-qur’an” karya Mayyadah. Di sini saya tidak bermaksud menggurui hanya berusaha menuangkan kembali apa yang ada dalam buku berhalaman 157 ini.
Dalam Alquran anak disandingkan dengan harta, itu menandakan bahwa harta dan anak punya keterkaitan dalam hidup kita, punya kesamaan, saama-sama membawa kebahagiaan atau kesengsaraan. Sesuai Firman Allah dalam QS. Al-Anfal ayat 28 :
وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَآ أَمْوَٰلُكُمْ وَأَوْلَٰدُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥٓ أَجْرٌ عَظِيمٌ
Artinya : “Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar”
Pada surat lain diterangkan dalam QS. At-Taubah ayat 55 dan QS. Al-munafiqun ayat 9.
See? Betapa kedudukan harta dan anak memang selalu disandingkan Allah, berarti keduanya memang memiliki keterkaitan, harta akan jadi kesengsaraan untuk kita jika tidak dimanfaatkan dalam hal-hal baik atau sesuai ridho-Nya, begitu juga anak, ia akan menjadi kesengsaraan bagi kita jika kita tidak berusaha menuntunnya ke arah yang baik, meskipun semua itu kita serahkan kembali kepada Allah.
Kisah terkenal dalam Al-qur’an yang menjadi pelajaran bagi kita semua yaitu kisah Nabi Nuh yang anaknya tidak mau mengikutinya malah justru ikut tenggelam bersama orang yang durhakan, kisah anak-anak Nabi Yaqub yang tega mencelakai adik bungsunya Yusuf yang menyebabkan Sang Nabi bersedih, menangis sampai membuat matanya menjadi buta. Semua itu mengajarkan kita bahwa sekelas nabi saja diuji Allah dengan ujian anak yang tidak berbakti kepadanya. Sebagai seorang nabi mereka tetaplah manusia yang mempunya kecintaan besar terhadap anaknya, sekeras apapun berusaha tetaplah Allah yang Maha Mengatur segalanya. Mari kita berdoa semoga Allah menjadikan kita dan keturunan kita termasuk orang-orang yang diberi hidayah dan rahmat-Nya untuk berada dalam kebaikan. Kalaupun Allah uji kita dengan anak, semoga kita mampu bersabar menghadapi-Nya dan yakinlah Allah akan menyiapkan hadiah bagi orang-orang yang sabar dan mau berusaha.
Mendidik anak dengan metode dakwah atau ajakanyaitu 3 hal berdakwah dengan penuh hikmah, dengan nasihat yang baik, dan berdebat dengan cara yang baik. Sesuai QS. An-Nahl ayat 125 :
اُدۡعُ اِلٰی سَبِیۡلِ رَبِّکَ بِالۡحِکۡمَۃِ وَ الۡمَوۡعِظَۃِ الۡحَسَنَۃِ وَ جَادِلۡہُمۡ بِالَّتِیۡ ہِیَ اَحۡسَنُ ؕ اِنَّ رَبَّکَ ہُوَ اَعۡلَمُ بِمَنۡ ضَلَّ عَنۡ سَبِیۡلِہٖ وَ ہُوَ اَعۡلَمُ بِالۡمُہۡتَدِیۡنَ
Artinya : “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk”.
1. Ajakan dengan penuh hikmah artinya menyampaikan tentang pengetahuan atau perbuatan yang paling utama dari segala sesuatu, istilah gampangnya nilai yang bisa kita ambil. Metode ini bisa kita jalankan dengan cara menceritakan kisah-kisah nabi sebelum tidur, dan mengajak anak untuk berfikir hikmah apa yang bisa diambil dari kisah tersebut. Masih rutinkah kebiasaan ini di zaman sekarang?
2. Ajakan dengan nasihat, memilih kata yang baik supaya dapat menyentuh hati anak, hindari menasihati anak dengan kemarahan. Marah memang perlu, tetapi yang berbahaya adalah ketika lepas kendali. Jika orang tua marah dan tidak bisa dikendalikan, tunda dulu untuk menasihatinya, jika anak menangis biarkan mereda dengan sendirinya, ambil air wudhu untuk menurunkan amarah, tarik napas dalam dan sampaikan nasihat ketika kondisi sudah tenang. Memang sulit, tapi InsyaAllah bisa jika dilatih.
3. Berdebat dengan cara yang baik, maksudnya dalam berkeluarga tentu akan terjadi perbedaan frekuensi antara anak dan orangtua terlebih perbedaan zaman yang begitu jauh menyebabkan pola pikir akan berkembang dan berubah, orang tua harus lebih terbuka dan mau belajar, dengarkan pendapat, simak alasan atau pertanyaan anak yang dilontarkan, updgrade pengetahuan, wawasan, dan terus belajar. Biarkan anak berargumen, dengarkan Dan jelaskan seusai apa yang baik menurut pandangan kita. Bagaimanapun juga feeling orang tua biasanya lebih kuat dari anak, dan orangtua lebih berpengalaman.
Rezeki Anak adalah Urusan Allah
Rezeki bukanlah melulu soal uang, harta, atau materi. Rezeki juga dapat berupa kesehatan, umur panjang, keluarga lengkap, bahkan kelahiran anak pun rezeki, maka mensyukuri kehadirannya dan mendidik dengan sebaik-baiknya adalah wujud rasa syukur atas karunia Allah ini. Jangan khawatir soal rezeki, Allah telah menjaminnya asal kita mau berusaha dan berdoa.
QS. Al-Insaan ayat 9 yang artinya “(sambil berkata),
“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridaan Allah, kami tidak mengharap balasan dan terima kasih dari kamu.”.
Dalam mendidik anak, baik ayah dan ibu punya porsi tanggung jawab sama besarnya, Tidak ada istilah urusan mendidik diserahkan kepada ibu, ayah hanya mencari nafkah. Ayah dan ibu harus kompak, Tulus berarti tanpa mengharap apapun selain ridho dari Allah dan paham bahwa ini amanah dari Allah harus diusahakan sebaik mungkin dan senantiasa belajar terus menerus untuk menjadi pribadi yang lebih baik. InsyaAllah.
Menyiapkan Bekal Akhirat Anak
Bekal tersebut yaitu nilai agama akhlakul karimah
Pentingnya menyiapkan bekal akhirat anak dimulai ketika sejak dini, bahkan beberapa kali saya dengar kajian menyiapkannya sejak memilih pasangan.
Salah satu bekal yang dipersiapkan yaitu takwa sebagaimana firman Allah : “Dan siapkanlah bekalmu, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa”. Beberapa surat dalam Al-quran yang menjelaskan tentang pentingnya takwa QS. At-Thalaq ayat 2 dan 4, QS. Al-A’raaf ayat 35.
Takwa artinya menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Perintah takwa bukan hanya individu, tetapi juga tanggung jawab sosial. Allah berfirman yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”
Semua itu dilakukan dari diri sendiri, orangtua mempersiapkan diri untuk takwa dan mendidik anaknya dengan ketakwaan karena keteladanan itu lebih baik dari sebuah nasihat, kita bukan menyuruh anak sholat tapi membiasakan dirinya untuk sholat dengan terus mengajaknya ketika kita akan sholat.
Bukankah salah satu aset berharga yang kita miliki adalah anak yang soleh? Sebagaimana hadits Nabi yang artinya Jika anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah segala amalnya kecuali dalam tiga perkara : sedekah jariah, ilmu yang berguna, dan doa anak soleh”.
Semoga Allah mudahkan kita semua untuk senantiasa berada di jalan-Nya aamiin J.
Dalam sebuah tim, tidak hanya satu orang yang berperan, tetapi semua saling bersinergi sesuai dengan tanggung jawabnya masing-masing. Begitu juga dalam sebuah keluarga, tujuan besar perlu direncakan dan didiskusikan. Buku yang pernah saya baca dari PhD Parent’s Story karya Ario Muhammad menjelaskan bahwa antara ayah dan ibu harus kompak dalam memberikan treatment atau pola asuh kepada anak. Menjadi keluarga yang memiliki pondasi dan bangunan yang kuat untuk bersama-sama saling memotivasi mewujudkan impian yang tetap berada dalam naungan ridho-Nya.
Mencerdaskan Anak Lewat Cerita
Kalau kita perhatikan ayat Al-quran banyak sekali penyampaian risalahnya lewat cerita Nabi, tidak monoton.
Beberapa manfaat yang bisa diambil :
1. Mempertajam imajinasi anak
2. Meningkatkan kecerdasan anak dalam berbicara terutama ketika masih balita karena banyak kosa kata yang didengar
3. Merangsang kecerdasan emosional anak dengan berekspresi sesuai suasana yang sedang diceritakan sedih, marah, terkejut, dan lain-lain.
4. Kemampuan analisis anak semakin meningkat karena akan menebak jalan cerita, karakter tokoh, dan lain-lain.
5. Menguatkan ikatan antara pembaca cerita dan yang mendengarkan, membangun komunikasi dan emosional dengan anak.
6. Merangsang minat baca anak
7. Menanamkan nilai-nilai positif melalui cerita cerita yang memotivasi
Jenis cerita yang dibawakan diprioritaskan cerita yang menggugah hatinya untuk senantiasa berbuat kebaikan.
Menghentikan Kebiasaan Buruk Anak
Konsep menghentikan kebiasaan buruk anak dengan meniru metode Al-qur’an. Konsep larangan dalam Al-qur’an yang dilakukan secara perlahan-lahan, tahap demi tahap.
Contoh larangan meminum khamar. Ada empat tahapan yaitu tahap pertama penjelasan khamar secara tidak langsung (QS. An-Nahl : 67), tahap kedua menjelaskan keburukan khamar secara langsung (QS. Al-baqarah : 219), larangan meminum khamar sudah disebut secara jelas tetapi pada kondisi tertentu seperti dalam QS. An-Nisa : 23 larangan untuk sholat saat kondisi mabuk, tahap ke empat setelah umat islam dianggap mampu mengendalikan diri larangan ini dilakukan secara menyeluruH (QS. Al-Maidah ayat 90-91).
Pelajaran yang diambil berkaitan dengan menghentikan kebiasaan buruk anak.
1. Mulailah menjelaskan kepada anak tentang manfaat dan kerugian yang didapatkan jika melakukan atau tidak melakukan perbuatan tersebut, Jelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami.
2. Pilihlah waktu yang tepat untuk menjelaskan, atau bisa membuat daftar dampak dari kebiasaan buruk
3. Jelaskan alasan kenapa perbuatan boleh atau tidak boleh dilakukan, jangan melarang anak untuk tidak melakukan sesuatu tanpa sebab karena anak akan mematuhinya setengah-setengah tanpa tahu asal usulnya.
Sepakat untuk memberikan feedback atau konsekuensi jika melakukan sesuatu, apa reward dan punishment yang pas sesuai tingkat kesulitannya, Tapi ingat pastikan sesuatu itu baik dan tidak berlebihan.
Pengaruh Kalimat Baik bagi Anak
{أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ (24) تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللَّهُ الأمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ (25) وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ اجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الأرْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ (26) }
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun.
Kalimat yang baik laksana pohon, jika pohon tumbuh dengan baik maka akan memberi manfaat tiada henti. Pada masa pembentukan karakter anak, tentunya anak akan meniru apa yang dilihat dan didengar oleh sekitarnya, Semua itu akan tersimpan dalam memori jangka panjangnya, Anak yang biasa mendengar kalimat positif ia akan tumbuh menjadi orang yang posited dan mampu menjalin hubungan dengan siapa saja. Begitu juga sebaliknya, jika anak terbiasa mendengar perkataan kasar maka ia akan tumbuh menjadi anak yang kasar atau keras pula (menurut para psikolog).
Allah memerintahkan hamba-Nya untuk bersikap lemah lembut sesuai firman-Nya dalam QS. Ali Imran ayat 159 yang artinya “Dan sekiranya kamu bersikap kasar lagi berhati keras, pastilah mereka akan menjauh darimu. Maka maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu…”
Pelajaran yang dapat diambil :
1. Sikap keras dan kasar tidak akan mendatangkan manfaat, melarang anak melakukan sesuatu dengan membentak atau menghardiknya tidak akan membuat anak menghentikan aksinya, jika kita bersikap kasar, komunikasi anak dan orang tua tidak terbangun.
2. Jika anak berbuat salah maafkanlah, dari beri nasihat agar anak tidak mengulangi lagi
3. Bangun komunikasi yang baik dengan anak
Pembiasaan Kalimat Baik kepada Anak
Ajari anak untuk terbiasa mengucapkan terima kasih kepada Pencipta-Nya atau sesama manusia, jika anak malu jangan ragu kita yang mengucapkan atau mencotohkannya. Ketika kita meminta bantuannya ucapkanlah terima kasih karena ia bersedia membantu. Terkadang karena merasa bahwa kewajiban anak memang berbakti kepada orang tua justru kita lupa berterima kasih kepada anak. Seiring berjalanny waktu anak akan berfikir bahwa mengucapkan terima kasih adalah bagian dari menghargai sesama dan bentuk syukur kepada Sang Pencipta.
2. Meminta dan Memberi Maaf
Psikolog mengatakan bahwa meminta dan memberi maaf akan meningkatkan keberanian dalam diri anak tersebut. Saat anak mendapatkan perlakuan buruk dari temannya, hiburlah dia dengan mengajarkan untuk memaafkan agar sifat dendam tidak tertanam dalam dirinya. Ajari anak untuk mengakui kesalahan jika memang ia bersalah dan jangan ragu untuk meminta maaf. Orangtua tidak boleh gengsi untuk meminta maaf kepada anak jika ada kesalahan.
Semakin dewasa anak akan mengalami ketidakstabilan emosi, proses pembelajaran yang semakin luas, maka bekalilah dengan mengajarkan lafadz-lafadz yang meneguhkan hatinya.
Bersabar dalam Membina Shalat Keluarga
Al-quran menggambarkan perintah sholat bukan hanya individu, tetapi tanggung jawab sosial termasuk keluarga seperti Firman Allah dalam QS. Thaha ayat 132 yang artinya “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa”.
Saat ibu bangun subuh, bangunkalah anak-anak untuk ikut sholat, jangan merasa tidak tega karena melihat mereka sedang tertidur pulas, justru pembiasaan itu harus dimulai sejak dini
Ketika waktu sholat tiba, ajak anak-anak untuk sholat, ajaklah dengan sabar karena kebiasaan tidak akan terbentuk hanya dengan sekali dua kali perbuatan tetapi terus menerus.
Ajak anak ketika ayah berangkat ke masjid, agar membiasakan diri untuk sholat di masjid dan bertemu dengan orang lain sehingga menambah interaksi nya dengan orang lain.
Rosulullah SAW bersabda : “Perintahkanlah anak-anakmu untuk sholat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka (jika mereka tidak sholat) ketika mereka menginjak sepuluh tahun”.
Segala pendidikan seharusnya dimulai dari keluarga begitu juga shalat, bukan tanggung jawab dari instansi pendidikan saja, tetapi keluarga memegang peranan yang sangat penting di sini. Kebaikan sholat akan kembali kepada diri kita sendiri, Allah tidak butuh kita, tapi kitalah yang butuh Allah.
Jika anak memang benar-benar sulit untuk diajak dalam kebaikan, doakanlah ia supaya Allah beri kemudahan dan cahaya untuk bisa melakukan segala kebaikan, mendengarkan nasihat, melembutkan hati, dan lain-lain. Semoga Allah karunia kita anak yang dapat memberikan kita syafaat di akhirat kelak aamiin.
Mendidik anak cinta Al-qur'an
Alquran adalah pedoman hidup, referensi pertama dan utama untuk kita semua. sebagai orang tua tentu penting memperkenalkan alquran kepada anak, bukan sekedar dibaca tetapi dihayati makanya dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari
Perintah mengkaji Al-qur'an :
4. QS. Al-Qamar ayat 17, 22, 32, 40
1. Buat jadwal tadabbur Qur'an bersama anak, jadwal belajar membaca Al-qur'an, kenalkan kisah-kisah Dalam Al-qur'an
2. Mulai dari ayat-ayat pendek dan mudah, jangan memaksa untuk cepat bisa, bersabarlah sedikit demi sedikit tergantung kapasitas anak
3. Jika anak masih kesulitan, perbanhak mendengarkan lantunan ayat suci Al-quran, bisa dengan murrotal.
4. Jika Masih enggan belajar Alquran, sering-seringlah orangtua membacakan Alquran untuk melembutkan kerasnya hati anak. Bacakanlah Surat Al-fatihah dan Al-Insyirah dan usaplah kepalanya, bacakanlah setiap akan tidur semoga Allah mudahkan kita semua untuk mencintai Alqur'an.
Saat anak beranjak dewasa, pasti ada momen dimana ia harus meninggalkan rumah demi mencapai cita-citanya. Sebagai orang tua kita hanya bisa berharap yang terbaik untuk sang anak, tidak mengekang apa yang menjadi keinginannya dengan tetap mempertimbangkan dan memberi masukan serta arahan kepada sang anak. Ingat kisah Nabi Musa yang dihanyutkan ke dalam sungai Nil? Betapa berat seorang ibu harus melepas anaknya karena takut terbunuh, tetapi Allah meneguhkan hati ibunda Nabi Musa untuk menghanyutkan Nabi Musa ke sungai Nil (bisa dibuka di QS. Thaha ayat 38-39), dari sini kita belajar bagaimana harus meneguhkan hati untuk bisa berpisah dengan anak.
Orang yang berakal dan beradab tidak akan menetap di kampong halamannya. Tinggalkanlah negerimu dan berkelanalah niscaya engkau akan menemukan pengganti dari orang-orang yang kamu tinggalkan. Bersusah-payahlah engkau karena nikmatnya hidup ada pada kerja dan perjuangan.
Sungguh aku melihat air yang tergenang itu justru akan menjadi rusak. Jika ia mengalir maka airnya akan jernih, namun sebaliknya jika ia tidak mengalir akan keruh.
Seandainya seekor singa tidak meninggalkan sarangnya, maka ia tidak akan mendapatkan mangsa. Anak panah yang tidak meninggalkan busurnya, maka ia tak akan pernah mengenai sasaran.
Matahari jika hanya berdiam di ufuk, maka seluruh manusia akan bosan memandangnya. Biji emas tidak ada bedanya dengan debu jika ia masih terpendam dalam perut bumi, Begitu pun dengan kayu gaharu tak ubahnya kayu bias ajika ia hanya dibiatkan di tengah hutan. Jika gaharu itu keluar dari hutan, niscaya ia akan menjadi parfum yang bernilai. Jika biji emas memisahkan diri dari tanah, maka ia menjelma menjadi emas.
Semoga Allah menjadikan kita sebagai anak, dan menjadikan keterunan kita, dan cucu-cucu kita sebagai orang yang beruntung baik di dunia maupun di akhirat aamin.
Sebenarnya dalam buku ini ada kisah Nabi dan Rasul berkaitan dengan keluarga tetapi InsyaAllah akan dishare di beda tulisan supaya tidak terlalu panjang hehe
Kesempurnaan hanya milik Allah, kekurangan adalah milik saya, jika ada kekurangan mohon dimaafkan dan saya sangat senang diberi masukan dan nasihat, saya hanya berniat membagikan apa yang pernah saya baca, semoga menambah wawasan dan keimanan kita kepada Allah, semakin menjadikan kita pribadi yang lebih baik lagi dari hari ke hari, belum terlambat, semuanya bisa dimulai dari sekarang :)