The Allied surge was unstoppable until the bridge turned into a kill zone. 💥 Watching a reenactor fall and get dragged to safety shows just how intense D-Day really was. Thank You, Subscribe Please #WW #DDay #Reenactment #HistoryLives #Poodlepaw
seen from Russia
seen from China

seen from United States
seen from China
seen from India
seen from China
seen from United States
seen from Türkiye
seen from Netherlands

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from China

seen from United States

seen from United States
seen from United Kingdom

seen from United States
The Allied surge was unstoppable until the bridge turned into a kill zone. 💥 Watching a reenactor fall and get dragged to safety shows just how intense D-Day really was. Thank You, Subscribe Please #WW #DDay #Reenactment #HistoryLives #Poodlepaw

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
WW7 – 08-06-24 – Twenty-Seven (Tesse) vs Fennel [Arina]
Character Theme on Arcade Mode
🎬 Thanks for watching the Reenactment Short!
Don’t forget to drop a like and subscribe if you enjoyed.
THANK YOU!!!
Seit Januar 2018 präsentieren wir an dieser Stelle monatlich ein spannendes Thema aus dem Bereich der Werkstoffwissenschaften. Das "Thema ...
Das Thema des Monats im März kommt aus dem Lehrstuhl für Biomaterialien (WW7).
The kick-off meeting of the new Collaborative Research Centre (CRC) ("Transregio TR-Sonderforschungsbereich") "From the fundamentals of ...

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Taring Tajam
Bulan purnama merah masih memancarkan cahayanya yang mengancam. 18 orang yang berhasil bertahan hidup kini berjalan lunglai menuju desa terdekat.
Mayat-mayat yang tadinya memenuhi jalanan kini sudah hampir menyatu dengan alam sekitarnya dengan sempurna. Anehnya, tak ada bau bangkai walau sebelumnya darah bercucuran dimana-mana. Bekas darahpun tak ada, seakan-akan bumi menghisap darah para korban tanpa menyisakan setetespun.
Ke-18 orang yang berhasil selamat itu terdiri dari 7 orang penduduk lokal, Ultragakun, Alfiamutiari, Kokosdera, Aiph, Galeshka, Brian, Shin_Think, dan 11 turis : Kyurenjo, Aksa_Syadri, Chocofit, WillyPermana, Winterfey, Kayud, Rabbita, Ichawashere, Ivanpito, Liamariaagnes, dan Faisalazis. Kebanyakan dari mereka hanya membisu lemas, beberapa diantaranya menangis pelan, takut akan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Keheningan itu dipecah oleh suara Galeshka "kita harus mencari tempat beristirahat. Hari sudah terlalu malam, dan kita tidak tahu apa yang ada diluar sana." suara lolongan serigala masih terdengar sayup-sayup dari arah Beringin Caraka.
Shin_Think yang sudah mengganti masker dengan yang baru menimpali "bagaimana kalau kita ke balaikota saja? Disana luas, dan mungkin saja kita bisa meminta bantuan dari sana. Mungkin ada radio atau telpon yang tidak rusak." Semua orang terlalu lelah dan lemas untuk berdebat sehingga mereka menyetujuinya seketika itu. Mereka pun berjalan bersama menuju Balaikota. Para turis pasrah mengikuti penduduk lokal diantara mereka.
Sementara mereka berjalan, salah satu dari mereka menjilat gigi tanpa terlihat yang lainnya. Dia merasakan bahwa gigi taringnya menjadi semakin tajam, panjang, dan kuat. Dia harus berhati-hati, jangan sampai taringnya terlihat oleh para manusia, karena dari penglihatan tadi dia tahu tujuan perubahan dalam tubuhnya adalah untuk takdir Bumi.
Malam itu mereka tertidur lelap dalam lelah. Semua orang tidur bersama dalam satu hall balaikota, tak ada yang berani memisahkan diri setelah kejadian tadi.
Tapi ada satu orang yang masih terbangun.
Cahaya merah dari bulan purnama menerangi sebilah pisau yang muncul dari kegelapan. Seseorang akan mati malam ini. Si pemegang pisau berjalan mengendap endap...pelan.
Tiba-tiba suara kencang mengagetkannya. Seseorang berteriak. Seketika itupun semua terbangun. Si pemegang pisau dengan sigap menyarungkannya kembali dan berpura-pura terbangun karena kaget.
Ternyata itu hanyalah teriakan salah satu dari mereka yang bermimpi buruk. Dia pun menghela napas. Malam ini terlalu berat bagi mereka semua.
Akhirnya diapun memutuskan untuk tidur bersama dengan semuanya. Tidak perlu malam ini. Masih banyak waktu baginya. Masih ada malam lainnya.
Diapun tertidur sambil tersenyum.
Introduction
Pesawat kecil itu mendarat dengan kurang mulus. Tapi penduduk lokal pulau yang sudah terbiasa dengan satu-satunya penerbangan yang hanya ada dua hari sekali itu akan merasa bahwa pendaratan tadi cukup oke, setidaknya tidak ada kening turis yang benjol karena terantuk, entah itu pada kursi di depannya, atau dinding dalam pesawat yang mulai terlihat kucel.
Tapi hari ini pesawat itu sebagian besarnya diisi oleh tursi luar pulau, sehingga mereka yang tidak terbiasa menjadi cukup kaget pada pendaratan itu. Suara-suara “wow!” “Woakh!” “Ya Tuhan!” Terdengar dari berbagai arah di dalam pesawat.
“Apaan tuh?!” Seru WillyPermana yang sedari tadi tertidur di kursinya. Dia berusaha bangun, namun lupa bahwa seatbelt-nya masih terpasang, sehingga tubuhnya tertahan dan dia terbatuk kaget. Double kaget.
Ultragakun, penduduk lokal yang duduk di sebelahnya menoleh. “Ngga apa-apa Mas, pendaratannya memang suka agak bergoncang. Maklum, pesawat kecil. Runway pesawatnya pun pendek jadi ga semulus di bandara-bandara besar.” Katanya sambil tersenyum manis. “Masnya ke sini mau melihat festival ya?”
“Oh iya.” Jawab WillyPermana yang sudah menyadari keadaan sekitarnya. “Iya saya mau melihat festival tahunan di Pulau Serigala ini. Katanya tahun ini sangat spesial karena tepat 1000 tahun sejak festival pertama dilaksanakan. I’m sooo excited!”
Chocofit, yang duduk di seberang tempat duduk mereka dan sejak tadi menguping ikut menimpali, “iya bener Mas! Saya dan temen-temen kampus saya juga sengaja kesini pas liburan semester ini. Biar bisa santai ikut festivalnya!” Dia nyengir lebar. Salah satu teman yang duduk di sebelahnya menoleh ke arah mereka. “Ngomong-ngomong, banyak serigala ya di Pulau ini? Kok namanya Pulau Serigala.”
Ultragakun berpikir sejenak sebelum menjawab dengan wajah agak bingung “hmm, sepanjang yang saya tahu sejak lahir di pulau sih ngga ada serigala satupun. Saya pun bingung kenapa nama Pulau ini Pulau Serigala, karena setahu saya tidak ada serigala satupun.” Para turis itupun mengangkat bahu untuk menepis kebingungan mereka.
Tak lama setelah pendaratan pesawat hari itu, Sore pun tiba. Semua orang, termasuk penduduk lokal dan para turis yang berdatangan dari beberapa hari sebelumnya berkumpul di titik tengah festival, sebuah pohon beringin yang sangat besar diatas Bukit Serigala. Lampion dan lampu-lampu LED warna-warni menghias seisi pulau, khususnya 5 jalanan stand festival yang semuanya mengarah pada Pohon Beringin. Tempat itu riuh dan ramai dalam suasana festival.
Tetua Pulau membuka upacara dan memanggil Tuan Sabda, seorang lelaki tua renta yang berpakaian serba putih dengan untaian kalung batu bulat-bulat berwarna merah pada pundaknya. Tuan Sabda mengangkat tangannya dan keriuhan festival pun menghilang. Semua penonton terdiam menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Seribu tahun yang lalu…” Katanya lirih, namun terdengar jelas dalam sepinya suara di tempat itu “…festival ini dimulai, untuk menghormati asal usul Pulau Serigala ini. Pohon Beringin suci ini adalah Beringin Caraka. Pohon ini merupakan utusan Bumi yang akan memberitahu kita mengenai takdir Pulau Serigala. Apakah Takdir baik, atau Takdir buruk. Selama seribu tahun Beringin Caraka selalu mengantarkan Takdir Baik. Kami semua berharap tahun inipun menghasilkan jawaban yang sama. Festival ini adalah hadiah kami untuk Bumi.” Lalu diapun mulai merapal mantra sambil memutar-mutar kalung batunya yang besar itu. Tidak lama kemudian awan di sekitar Beringin Caraka berkumpul dan menggumpal. Semua orang menarik napas tegang sekaligus kagum.
Tak lama kemudian awan pun menyebar dan memperlihatkan langit yang cerah dengan bulan purnama yang bulat sempurna. Cahaya yang terpantul dari bulan menghasilkan halo yang menyerupai pelangi bundar. Semua orang berdecak kagum dan memekik senang. Namun tak sampai sedetik berikutnya, bulan purnama itu berubah warna menjadi merah. Terdengar suara kencang dari arah Beringin Caraka. Suaranya berkeretak keras, seakan-akan seorang raksasa sedang berusaha mematahkan pohon tersebut.
Pohon beringin yang sangat besar itu retak tepat di tengah. Retakan yg begitu besar membelah pohon itu tanpa ampun dalam pekikan yang sangat nyaring sehingga semua org yang berada disana menunduk dan menutupi telinga mereka. Dari tengah retakan mengalir semacam getah cair berwarna merah, disusul dengan auman kencang yang berasal dari tengah pohon.
Seperti kejadiannya yang tiba-tiba, semua itupun berhenti seketika. Suasana kembali hening. Namun kini keheningan itu mencekam. Tuan Sabda dan para Tetua terlihat begitu pucat dan ketakutan. Semua orang berbicara panik dan mereka-reka apa yg sebenarnya terjadi. Dengungan suara memenuhi titik tengah festival itu. Kepanikan mulai terjadi.
“Apa yang terjadi, Tetua?” “Apa artinya ini Tuan Sabda??” “Tadi itu apa?!” “Yang tadi asli?! Atau buatan kalian?!” “Apaan nih! Ini aneh!” Berbagai macam kalimat diserukan, berbagai pertanyaan diajukan, namun Tetua dan Tuan Sabda tetap bergeming. Namun akhirnya Tuan Sabda bersuara. Semua org terdiam.
“Apa…” Katanya dengan suara bergetar takut “apa yang akan terjadi pada kita semua sekarang ini? Bumi…bumi telah berbicara…selama seribu tahun kami hidup diatas bumi ini. Kini Bumi memutuskan untuk….oooooh oooooh” dia memegang kepalanya dengan panik dan ketakutan. Matanya menatap kerumunan orang dengan nanar “NASIB APA YANG AKAN MENIMPA KITA SEMUA PARA MANUSIAAAAA? AAAAARGHKHHHH!” Seketika itu darah memuncrat dari seluruh lubang di tubuhnya. Mulut, telinga, mata, hidungnya dialiri darah segar sehingga baju putihnya berubah menjadi merah. Tuan Sabda pun terbujur lemas di bawah pohon beringin, tubuhnya menyatu dengan tanah dan dahan-dahan pohon, menyisakan ekspresi ketakutan pada tempat yang–dulu adalah wajahnya.
Semua orang berteriak ketakutan dan berusaha lari. Namun takdir yang sama terjadi pada mereka. Satu persatu tubuh orang-orang di tempat itu mengalami hal serupa. Darah keluar dan mereka pun menjadi bagian dari Beringin Caraka. Tak ada satu hal pun yang bisa mereka lakukan untuk menghindarinya.
Di tengah hiruk pikuk kepanikan tersebut, beberapa orang berhasil kabur dari kerumunan dengan saling sikut dan tubuh kelelahan. Beberapa dari mereka terluka karena terinjak dan terbentur kerumunan.
Beberapa orang tampak meloncati tubuh2 manusia yang menyatu dengan tanah dan pohon di sekitar mereka. Dengan napas memburu dan air mata ketakutan di pipi, mereka berlari menuju bandara kecil di pulau. Namun mereka hanya mendapati bandara yang kosong dan terbengkalai. Tampak petugas bandara yang setengah tertanam di rerumputan dan landasan pacu, seakan-akan ada palu raksasa yang memukul tubuh mereka masuk kesana.
Liamariaagnes berlari ke dalam terminal bandara dan berteriak meminta tolong. “TOLOOOOONG! ADA ORANG DISINI?! TOLONG KAMI!!” Namun tak terdengar satu orangpun yang menjawab. Semua orang telah menjadi mayat. Dia masih berusaha menjerit sambil setengah putus asa. Aiph dan kyurenjo yang tadi mengikutinya masuk juga berusaha mencari bantuan di sana. Kyurenjo berusaha menelepon dan menyambungkan hubungan keluar pulau. Tapi nihil. Tak ada sinyal dan tampaknya semua barang elektronik tak bisa digunakan sama sekali. Dia mengeluarkan handphonenya, rusak.
Kyurenjo berteriak ke semua orang yang ada disitu. “Cek handphone kalian! Panggil bantuan!” Beberapa orang yang datang mengikuti mereka semua menggeleng, ada juga yang menangis. Semua barang elektronik milik pribadi mereka pun rusak. Semuanya gelap dan mati.
Chocofit menangis ketakutan “apa kita semua akan mati disini? Aku…akuu…aku tidak mau mati…huhuhuhwaaaaaa!” Winterfey menenangkannya “tenang Chocofit, tenang. Buktinya kita masih bertahan hidup. Kita pasti selamat!”
Kyurenjo menghitung ada sepuluh orang berkumpul disana. “Cuma segini yang masih hidup?” Katanya putus asa. Tapi kemudian terdengar suara lirih dari balik counter tiket Gatot Kaca Airlines. Dia langsung mendekatinya, diikuti Willypermana.
“Hei, ada yang masih hidup disini!” Seru Willypermana. Dia membantu seorang lelaki berpakaian kemeja dan dasi yang terkapar di balik meja counter. Tampaknya petugas counter ticket tersebut. “Uuugh…” Katanya. “Apa yang terjadi? Tadi ada kepanikan lalu aku terbentur sesuatu…” Dia memegang benjolan di samping kepalanya. “Aargh”
Belum selesai dia bicara, orang-orang sudah memberondongnya “kamu harus menyelamatkan kami! Ada pesawat yang bisa mengangkut kami tidak? Sekarang!” Dia menggeleng. “Aku rasa tidak ada. Sebelum terjadi kekacauan, semua barang elektronik di bandara ini rusak. Termasuk mesin pesawat. Semua orang pun…” Dia melihat sekeliling dan melihat mayat-mayat tak berbentuk bertebaran, lalu muntah.
Aiph berbicara lantang “tak ada gunanya kita disini. Lebih baik kita cari pertolongan ke kota atau ke tempat lain.”
Shin-think, petugas tiket tadi, menyeka mulutnya dan buru-buru bilang “ada dermaga tua di ujung pulau. Mungkin kita bisa memakai kapal nelayan disana.” Secercah harapan memenuhi wajah-wajah nelangsa disana. Merekapun pergi ke dermaga tua. Dalam perjalanan, mereka bertemu dengan 8 orang yang bertahan hidup. Sambil saling menenangkan, mereka menuju dermaga. Namun apa yang menyambut mereka adalah kobaran api yang membakar dermaga dan semua kapal di dalamnya. Bagaikan diperas habis, harapan mereka pun hilang sudah.
Mereka melihat langit, beberapa diantara mereka menangis putus asa. Langit masih diwarnai bulan purnama merah. Lolongan serigala kembali terdengar dari atas bukit. Angin dingin berhembus menusuk mereka. Setiap orang yang bertahan hidup disana mulai bertanya-tanya, apa yang akan terjadi pada mereka.
Beberapa diantara mereka mendadak mendapatkan semacam penglihatan. Dalam sepersekian detik, mereka merasakan perubahan dalam diri mereka. Mereka melihat sekeliling, tak ada yang menyadari hal itu. Mereka menahan perubahan itu agar tidak ketahuan calon-calon mangsa mereka. Malam ini hanya mereka ber-18 yang ada di Pulau Serigala. Mulai malam ini perburuan pun akan dimulai.
Sekali lagi, lolongan serigala terdengar dari atas bukit, mengiringi cairan merah yang masih mengalir dari dalam Beringin Caraka.
Selamat datang dalam Ultimate Werewolf season 7! Semua pemain yang menggunakan kekuatannya di malam hari, silakan untuk langsung PM kepada GM, siapa target pilihan kalian. Semua pemain yang mati di malam pertama ini akan mendapatkan hak khusus, yaitu tetap dapat melanjutkan permainan sebagai hantu sampai dengan 12 jam setelah kematiannya (Sabtu 21.00) dan memiliki kekuatan setara Seer untuk sekali digunakan selama menjadi hantu.
- Mugi when Mauru wins against Dandy J, Waku Waku 7 (SunSoft)