Kita setuju bahwa hidup adalah perjalanan, dan dalam perjalanan selalu ada jalan yang lurus, berbelok dan bahkan menyimpang. Pada persimpangan mimpi, harapan dan perasaan semoga kita tidak salah dalam memutuskan pilihan.
Biarlah bungkam, menahan untuk terbuka.
Tak mau terlalu cepat tak ingin pula terlalu lambat.
Proses demi proses hingga terkonsep.
Toh, akhirnya akan sampai di persimpangan.
Entah persimpangan jalan, persimpangan mantan, atau persimpangan undangan pernikahan.
Jika dirasanya melelahkan, coba diingat-ingat lagi. Dulu kamu pernah memimpikan asa yang menjulang tinggi. Begitu mudahnya kau raih, padahal tidak untuk yang lain.
Ada usaha yang harus tetap digaungkan dan dijuangkan. Telan saja lelahnya bulat-bulat. Tak mengapa, bukan? Toh, nanti semua akan tertimbun dengan bahagianya dari juang yang tiada sia-sia. Maka aku bersyukur pada sisa-sisa waktuku di sini.
Dan cinta akan selalu berjuang, pun sabar yang tak pernah habis, serta lelah yang takkan menjadi berarti.
Sekian jengkalmu, lama-lama akan sampai juga pada sebaik-baiknya tujuan :)
Kita seperti garis vertikal dan horizontal yang bertemu disuatu garis waktu. Kita seperti garis pararel yang memiliki banyak kesamaan tapi terjebak dipersimpangan.
Persimpangan dan garis waktu saling bekerja sama, membuat kita bertukar banyak kisah dan resah.
Pada akhirnya, persimpangan dan garis waktu akan bekerja sama entah untuk membuat kita melangkah searah atau membuat kita saling membelakangi arah.
Pada akhirnya persimpangan dan garis waktu membuat kita menyadari, yang tinggal akan tetap tinggal, dan yang ingin pergi akan tetap pergi.
Sebuah keniscayaan, kembara kita bertemu persimpangan. Bukan sebab bosan apalagi kebencian, tapi memang ada sebentuk hati yang sedang dalam penjagaan.
Semoga jika suatu saat takdir kembali mempertemukan dalam satu lintasan, tiada lagi penyesalan, tak ada lagi keraguan.
Yang ada hanyalah manis senyuman sebab telah saling merelakan.
Barangkali benar katamu, kita hanyalah 2 orang yang saling gagal memintal harap, menyatukan bahagia-bahagia, dan mensejajarkan doa.
Barangkali benar katamu, bila aku yang terlalu sibuk menyoalkan cemburu dan lupa memastikan 'apakah kau siap bertahan atau tidak?'.
Kini, bukan lagi barangkali tersebab ucapmu memang benar. Benar-benar nyata, bila kita hanya 2 yang saling gagal. Benar-benar nyata, bila ketika dipersimpangan jalan yang kau sebut kita bukan lagi tentang cintaku maupun rindumu.
Terakhir, semoga kau masih mengijinkanku untuk menyimpan namamu dipersimpangan doaku.
di antara hitam dan putih,
di antara temaram dan gelap.
di antara kepastian dan ketidakpastian.
di antara ketidakberdayaan dan kecemasan.
Itu aku, temukan aku, pada satu garis waktu.
Bagaimana bisa aku menemukanmu?
Sedang di sebuah persimpangan aku masih saja terdiam, bingung, dan tak ada langkah yang akan ku ambil. Aku masih tak tau dan ragu akan bagian mana yang ingin ku tuju. Sebenarnya ini bukan masalah kenapa aku belum sampai pada tujuanku. Ini adalah masalah kebingunganku antara jalan mana yang akan aku ambil untuk bisa benar-benar menemuimu.
Maju? Aku terlalu takut memulai.
Mundur? Aku enggan meninggalkan.
Di persimpangan ini, aku merasa lelah. Untuk kesekian kali, aku kehilangan arah. Dan berkali-kali, aku menjadi jengah.
Ketika maju saja malas, tapi mundur juga tak berbalas.
Aku tetap di persimpangan ini saja, boleh?
Selamat malam minggu, jangan lupa ceria ^_^
Pojok Kelas Tadika Mesra, 29 Agustus 2020