Could you do matching eunseok and wonbin gifs ?? Thank you so much !!
wonseok matching gifs 𓎟𓎡 mb @irohua
seen from United Kingdom

seen from United Kingdom

seen from Bangladesh
seen from Bulgaria
seen from France
seen from China

seen from Netherlands

seen from United States
seen from United States

seen from Bulgaria

seen from United Kingdom
seen from Vietnam

seen from Bulgaria
seen from United States
seen from United States
seen from South Korea
seen from Netherlands

seen from Argentina
seen from Australia
seen from Malaysia
Could you do matching eunseok and wonbin gifs ?? Thank you so much !!
wonseok matching gifs 𓎟𓎡 mb @irohua

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Like...he really went from "I'm too awkward to call you big sis"
To outright raiding her closet to steal her shirts to wear.
they're passing that top around LMAO
park twins x eunseok drabble
cr to op
university setting + sfw- both twins are into eunseok (total fluff) !!
drabble on black haired wonbin and blonde haired wonbin who are twins, no rivalry- just two losers in love with eunseok.
Imagine park twins being into eunseok at the same time. Blonde park wonbin is an absolute flirt- he won't ever turn down the chance to flirt with eunseok. He's always going out of his way to invite him to his basketball matches, he knows how hot he looks when he's playing and he needs eunseok to see it. Wonbin would constantly wink and kiss eunseok's cheeks, leaving them to turn a bright red. Cheesy pick up lines worked when they came out of his mouth, he'd show up after every one of eunseok's class to tell him how hot he looks, "your clothes look really good today, they'd look especially good on my bedroom floor" he recites. He's got a goofy smug look on his face, its adorable- eunseok falls for it.
Black haired wonbin on the other hand is much calmer and what one would call a tsundere. He isn't loud with his actions but when you do notice them, it hits hard. Eunseok could clearly recall the one time he scratched his arm against his compass in maths class, it hurt quite a bit since it was deep but he paid no mind to it. Infact, he had assumed no one noticed but to his suprise wonbin showed up during his break hours with a whole first aid kit. He took him to a quiet room, making sure to clean his wound thoroughly and bandage it. It wasn't a big deal, he didn't have to- but he did. He scolded him for being careless and gently held his hand, looking deep into eunseok's eyes. Wonbin didn't know how to be straight forward, but he knew how to take care of eunseok- so he always did. He'd hold his hands tightly whenever they walked back home, paying attention to everything eunseok said. He'd always make sure eunseok knew how much he cared for him.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
+ bonus : besties are tired
cutest gamer boy in santa costume - @starrywonn ♡
my top 3 dokyeom ships appeared in one post today
Chae Wonseok x Reader - Bookstore Date
(mengandung curhatan personal. sebenernya ini self insert tapi saya buat x reader supaya kita bisa halu bersama. HAHAHA)
---
Wonseok – Bookstore Date
“Eh, kita ke sini, yuk!”
Mataku langsung berbinar-binar saat melihat surga dunia di depanku—sebuah toko buku. Entah kapan terakhir kali aku ke sana. Tanpa berbasa-basi, aku menarik tangan Wonseok.
Namun, dia menahanku.
“Eh, jangan!” serunya. “Kita… ke tempat lain saja.”
Aku berbalik dan mengerutkan dahi. “Memangnya kenapa?”
Mata hitam jernihnya memandangku lekat-lekat. Ia menggigit bibir saat aku mengeluarkan jurus puppy eyes. Sambil mengacak rambut, ia menyahut, “Aku… aku nggak punya uang.”
“Ya ampun, kirain apa!”
“Yah… kamu ‘kan suka baca buku, kalau masuk ke sana pasti ada yang mau kamu beli, ‘kan?” Tangan besarnya menggenggam tanganku. “Aku lagi nggak ada uang untuk beliin kamu, jadi—“
Aku tertawa. Wajah Wonseok yang sedang kebingungan terlihat sangat lucu. “Apaan, sih! Memangnya kamu pikir aku ini apa? Kamu tuh pacarku, bukan sugar daddy-ku.”
Mata mengantuk Wonseok langsung terbelalak lebar. “Kamu punya sugar daddy?”
“Iya, bapaknya Jay!” jawabku sembari menoyor dahinya. “Bukan itu maksudnya, dodol! Lagian sejak kapan kamu wajib beliin apa yang aku mau?”
“Yah… mana bisa aku diam saja kalau pacarku ingin sesuatu.”
“Aku juga punya uang sendiri, kali,” aku berjinjit untuk mengacak rambut poni belah sampingnya, lalu menoyor dahinya sekali lagi. “Aku senang kamu perhatian, tapi ya… nggak perlu segitunya juga.”
Wonseok memegangi dahinya seakan-akan toyoranku menembus ke otak. “Jadi… kamu mau beli buku pakai uang kamu sendiri?”
“Nggak juga, sih. Aku juga lagi nggak ada uang.”
“Apaan, sih!” Kali ini Wonseok yang menjitak kepalaku.
“Memang ada tulisan, kalau masuk wajib beli? Nggak, ‘kan?” balasku dengan santai. “Kita masuk dan lihat-lihat saja juga nggak bakal ditangkap polisi, kok. Aku sering masuk cuma lihat-lihat.”
Senyum tipis menghiasi bibir mengilap pacar dodolku itu. Namun, dengan ragu-ragu ia kembali bertanya, “Tapi… beneran, nih? Kamu yakin—“
“Ih, kamu kebanyakan tanya, kayak ibu-ibu mau belanja sayur! Sudah, ayo!”
Dalam sekejap, kami sudah berada di dalam toko buku. Mataku menatap buku demi buku yang menumpuk dengan cantik. Aku sampai mendongak demi melihat rak-rak yang menjulang tinggi. Setiap kali ada pegawai yang lewat, aku mengangguk pelan dan tersenyum. Rasanya sangat menyenangkan. Tanpa kusadari, aku bertepuk tangan seperti anak kecil.
“Biar sudah lama nggak ke toko buku, rasa senangnya masih tetap sama,” gumamku. “Lihat ke mana dulu, ya… novel? Komik? Dasar gila, kenapa Sherlock Holmes dan karya-karya Agatha Christie dicetak ulang terus, sih! Cover-nya bagus-bagus semua pula, aku ‘kan jadi tergoda. Ah, ke tempat buku sejarah juga kayaknya asyik. Atau—“
“Ehem!” Wonseok berdeham. Aku menoleh dan ternyata dia sedang menunjuk dirinya sendiri. Bibirnya maju lima senti dan pipinya menggembung seperti mochi, membentuk ekspresi merajuk terimut yang pernah kulihat. “Kamu lupa kalau lagi bareng aku?”
“Lho, iya juga! Ternyata aku lagi sama pacarku yang gemas ini, ya?” aku terkekeh sambil mencubit pipinya. “Boleh nggak, kalau kita jalan masing-masing dulu? Aku sudah lama nggak keliling toko buku, jadi aku mau lihat-lihat sendiri….”
“Hei, apa bedanya kalau ada aku?”
“Aduh… pokoknya beda! Sana, sana! Kalau aku sudah selesai keliling sendiri, kita keliling bareng, oke?”
Ekspresi merajuknya bertambah jelek. Bukannya kasihan atau merasa bersalah, aku malah jadi geli. “Cih… baiklah.”
Kaki jenjangnya lantas melangkah dengan gontai. Ia terlihat seperti tanaman layu karena berjalan sambil membungkuk.
Begitu punggungnya tak lagi terlihat, aku langsung mengacungkan jempol. Kepalaku penuh dengan buku-buku yang ada di seluruh penjuru. Ada komik-komik yang harus kulihat—sepertinya aku ketinggalan beberapa edisi komik detektif dan olahraga. Kadang ada komik romansa yang menarik… aku juga senang melihat judul populer terpajang di rak buku, meski aku tidak terlalu tertarik pada ceritanya. Lalu kalau novel… melihat sampulnya saja sudah membuatku gembira. Kalau beruntung, aku bisa mencium aroma buku baru yang menyeruak dari ujung segel plastik.
Beberapa waktu berlalu setelah aku berkeliling sambil memeriksa buku-buku baru, buku lama yang menarik perhatian tapi tak pernah bisa kubeli, hingga buku klasik yang dipajang sepanjang tahun. Wonseok memang benar—kalau sudah melihat, aku jadi ingin membelinya. Yah, itu wajar saja, ‘kan?
Tapi aku cukup tahu diri. Uangku tidak cukup, jadi aku tidak akan memaksakan diri membeli hal-hal di luar kemampuanku.
Rasanya menyedihkan. Aku jadi semakin merindukan masa kecil yang selalu terasa lebih indah dibandingkan penatnya kehidupan orang dewasa. Dulu, aku tinggal mengambil buku mana yang aku inginkan, dan ayahku yang akan membayarnya. Aku tinggal memeluk buku itu dan membacanya—di restoran, di perjalanan pulang, dan saat di rumah. Ibu akan marah karena aku tidak berganti pakaian dan malah terpaku pada buku.
Masa-masa yang sederhana dan menyenangkan.
Sekarang, aku harus berpikir ribuan kali jika ingin membeli sesuatu, termasuk buku yang sangat kusukai. Menghasilkan uang itu tidak semudah menghabiskannya. Yah, setidaknya masih ada hal positif di balik itu. Aku jadi membeli buku-buku berkualitas yang memang ‘kubutuhkan’. Aku juga jadi lebih menghargai setiap buku yang kumiliki. Kegembiraan karena berhasil membeli sesuatu dengan hasil jerih payah sendiri juga sangat manis rasanya.
Mungkin itu benar-benar positif… atau aku hanya menghibur diriku sendiri.
Tapi, bagaimana dengan Wonseok?
Hatiku mendadak terasa nyeri membayangkannya. Dia hidup di panti asuhan sejak kecil—tidak ada yang menyayanginya. Meski begitu, dia masih bisa memberikan kasih sayang untuk orang lain… hingga dirinya kehabisan kasih sayang untuk diri sendiri.
Saat aku masih menjadi bocah manja, dia terpaksa dewasa lebih dulu. Dia tidak punya kenangan indah sepertiku. Saat melihat buku-buku begini, apa yang ada di bayangannya?
Bahkan dia tidak punya banyak kesempatan bersentuhan dengan buku karena dia putus sekolah.
“Aku gila… kenapa aku baru kepikiran sekarang?” aku menjitak diriku sendiri. “Sudah memaksa masuk, aku suruh dia sendirian pula.”
Sambil terus menyesali keputusanku, aku celingukan mencarinya. Dia ada di tempat yang paling tidak cocok untuknya—sekaligus tempat yang bisa kutebak: bagian buku pelajaran.
Ia sedang mendongak, memamerkan dagu lancip dan rahangnya yang—oh, oke, ini bukan waktunya untuk itu. Tapi dia benar-benar sedang mendongak, menatap buku-buku pelajaran yang berjejer di hadapannya. Tatapan matanya terlihat… hampa. Ia tidak menangis, tetapi ia juga tidak terlihat bersemangat. Sorot mata hitamnya menyiratkan kerinduan akan hal yang tidak pernah bisa ia miliki.
“Hei, Wonseok.”
Wonseok tertegun. Selayaknya orang yang sudah terbiasa memaksakan diri agar bisa bahagia, ia langsung membuang ekspresi kosongnya dan tersenyum.
“Kamu sudah selesai keliling?”
“Iya,” aku menjawab sambil meraih tangannya. “Kamu sudah lihat-lihat apa saja?”
Jelas sekali kalau ia berusaha menghindari bertatapan mata denganku. Mungkin dia tahu kalau aku sudah bisa menebak dan hanya berpura-pura bertanya. “Tadi, yah… aku keliling-keliling saja. Nggak ada yang terlalu spesial… kebetulan saja tadi lewat sini, jadi aku mau lihat.”
Dasar bodoh. Memang perasaannya itu koreng? Kenapa harus disembunyikan, sih?
Tapi yah, aku tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Wonseok.
“Kayaknya kamu lumayan lama lihat-lihat di sini, ya,” ucapku sambil melihat buku-buku yang ada di dekat kami. Kami berada di antara deretan buku untuk SMP dan SMA. Mungkin… dia merindukan pelajaran yang pernah dia terima di SMP. Mungkin juga dia… merasa sayang karena tidak pernah duduk di bangku SMA.
“Nggak juga, sih. Aku hanya berpikir, mungkin ini… mungkin ada yang berguna untuk Yejin dan Eunbi,” Wonseok menjawab dengan suara serak. “Kalau ada yang bagus, nanti kubelikan untuk mereka saat gajian.”
“Yejin dan Eunbi saja?”
“Apa? Ya, tentu saja… kalau Yena ‘kan belum umurnya.”
Aku tersenyum tipis. “Kamu gimana?”
“A, aku?” ulang Wonseok, seolah tidak percaya. Ia mengibaskan tangannya dan tertawa kaku. “Kok jadi aku? Apa hubungannya, aku sudah ketuaan. Ngapain beli buku pelajaran, ya ‘kan?”
Orang ini… kadang dia sangat manis, tapi kadang juga sangat menyebalkan. “Kamu itu maling, ya?”
“Maling? Ya… maling hatimu?”
“Heh, aku nggak lagi ngajak bercanda!” omelku seraya menoyor dahinya lagi—entah sudah yang keberapa kali untuk hari ini. “Itu benar sih, tapi bukan begitu… maksudku, memang kamu maling dan aku polisi? Sampai-sampai kamu harus berbohong saat aku tanya. Apa aku harus paksa supaya kamu mengaku?”
Dia tertawa salah tingkah, tetapi tidak menjawab apa-apa. Aku menghela napas. “Nunduk sedikit, dong.”
Anak yang penurut—dia langsung menunduk begitu kuminta. Itu memudahkanku untuk mengelus kepalanya. Matanya langsung terbelalak. Meski ini bukan yang pertama kali, wajahnya tetap memerah.
“Kalau denganku, nggak usah bohong,” bisikku. “Nggak ada yang salah dengan perasaanmu, kamu nggak perlu malu… apalagi kalau sama aku.”
“Oh….”
“Kayaknya di rumah masih ada beberapa buku lamaku. Mungkin kita bisa pakai itu dulu,” aku bergumam pelan. Sudah sangat lama aku tidak menyentuh buku pelajaran, jadi aku tidak yakin di mana mereka berada—tapi aku akan mengerahkan seluruh tenagaku untuk menemukannya. “Sementara kita pakai itu, sampai kita… punya cukup uang untuk beli yang baru. Kamu bisa belajar bareng Yejin dan Eunbi, kok.”
Matanya sedikit berkaca-kaca. Karena dia sudah berdiri tegak, aku mengganti gestur mengelus kepala dengan menepuk-nepuk punggung tangannya.
“Tenang saja, ‘kan ada aku!” aku membusungkan dada dengan bangga. “Begini begini, aku lumayan pintar sewaktu sekolah, jadi aku pede bisa mengajari kalian. Pastinya tetap beda dari sekolah yang asli, tapi setidaknya—“
Kalimatku terpotong di sana. Wonseok tiba-tiba mendekat dan langsung menjatuhkan kepalanya di bahuku, lalu melingkarkan kedua tangan kekarnya di punggungku. Ia memelukku dengan sangat erat sampai aku tidak bisa berkata-kata. Tubuh yang biasanya terlihat kokoh itu, saat ini terlihat sedikit gemetar.
Mau tidak mau aku jadi tertawa. Aku menepuk-nepuk punggungnya, lalu mengejek, “Jangan nangis. Nggak malu sama Yena?”
Ia menggeleng tanpa menjawab apa-apa. Untunglah toko buku itu sedang tidak ramai, jadi aku bisa meneruskan menghibur bayi besar yang bersembunyi di balik topeng ‘paman’ ini.
“Ya, ya, aku bercanda. ‘Kan justru aku yang sering suruh kamu nangis kalau memang lagi butuh.”
“Apa aku pernah bilang kalau aku cinta kamu?”
“Hmmm… mungkin?” godaku. “Kamu ngitung nggak, pernah bilang berapa kali?”
Wonseok tertawa kecil. “Yah… kalau dihitung, biasanya dua ratus tiga puluh tiga kali dalam sehari. Sekarang aku mau bilang untuk yang ke-234 kali.”
Ia melepas pelukannya, lalu menatap mataku dalam-dalam dengan mata yang masih sembap. “Aku cinta kamu.”
Kecepatan detak jantungku langsung meningkat. Meski dia memang sangat sering mengucapkan kata-kata itu, bukan berarti aku jadi terbiasa. Sepertinya jantungku sudah jadi sangat kekar sekarang karena semua dagdigdug yang telah kurasakan.
“Kenapa mulutmu gampang banget sih, bilang itu,” ucapku dengan nada protes. Terkadang aku merasa bersalah karena tidak bisa membalas ucapan itu sesering dia mengucapkannya padaku. Bagaimana caranya, sih? Kata-kata itu memang sederhana, tapi selalu tersangkut di tenggorokanku. Sebelum aku sempat mengucapkannya, pipiku sudah jadi tomat dan akhirnya kata-kata itu tertelan bersama dengan ludah.
“Ya… soalnya memang itu kenyataannya,” Wonseok menyahut enteng. “Aku tahu kadang kamu frustasi karena ada kalanya aku nggak bisa jujur tentang perasaanku. Untungnya kamu bisa tetap mengerti meski aku nggak banyak bicara.”
“Ya jelas aku ngerti, dulu kamu kalau ngomong setengah-setengah! Aku sudah terlatih, tahu?”
Kali ini Wonseok tertawa lepas. Senyumku ikut mengembang melihat ekspresinya yang begitu cerah dan polos.
“Kalau begitu… coba kita pikir-pikir. Sebaiknya apa yang dipelajari duluan?” aku mengusap daguku, berlagak seperti detektif. “Matematika, supaya kamu makin jago menghitung angka kemenanganmu? Ya, kayaknya itu cocok—meski aku harus peringatkan kalau matematika itu nggak cuma penjumlahan. Biologi juga berguna supaya kamu lebih kenal cara kerja tubuh… oh, tapi aku paling jago pelajaran-pelajaran sosial.”
“Apa pun itu, kalau kamu yang jadi gurunya, aku pasti nyimak.”
Aku menepuk pelan tangannya. “Kalau setiap ngegombal kamu dapat uang, kamu bisa bantu Hyun biayain Yena sampai lulus kuliah.”
“Lho, padahal aku serius! Aku jadi nggak sabar dan cepat-cepat mau lihat kamu ngajar. Yejin dan Eunbi juga pasti senang.”
“Aku ini lumayan galak, lho?”
“Justru itu yang aku suka.”
Gila, dia betul-betul gila. Kukira aku cukup jago membalas perkataan orang, tetapi di hadapan Wonseok, otakku harus bekerja sepuluh kali lebih keras.
“Ja… jangan senang dulu!” aku berteriak. “Meskipun ini bukan sekolah betulan, aku akan tetap kasih PR dan ulangan!”
Ekspresi usil yang jarang muncul di wajah Wonseok kini tampak dari seringai lebarnya. Ia mengangguk dengan percaya diri. “Nggak masalah. Kedengarannya seru buatku. Tapi kalau nanti nilai-nilaiku bagus, kamu harus kasih hadiah, ya.”
“Haa… kamu ini benar-benar… ya sudah, memangnya kamu mau hadiah apa?”
Ia tidak langsung menjawab. Setelah beberapa lama mengusap dagu dengan mata terpejam, tiba-tiba matanya berbinar-binar penuh semangat. Ia sedikit menunduk agar tingginya lebih sejajar denganku.
Aku hanya bisa mengerutkan alis. Di saat-saat tertentu, dia punya ide aneh yang tak terpikirkan olehku—dan sepertinya sekarang adalah salah satunya.
“Hadiahnya...” Wonseok berbisik pelan, lalu menempelkan telunjuknya di bibirku. “Aku mau ini.”
Tubuhku menjadi sekaku patung. Setelah memproses kata-katanya, aku langsung melompat ke belakang hingga kepalaku hampir mengenai rak buku. Untungnya Wonseok langsung melindungi kepalaku dengan tangannya dan membantuku berdiri tegak.
“Hei, kamu kenapa?”
Jantungku berdegup dengan sangat keras hingga kurasa semua orang yang ada di toko buku ini bisa mendengarnya. Seluruh wajahku terasa panas seolah aku ada di dekat perapian.
Ada begitu banyak kata-kata yang datang dan pergi di kepalaku, menunggu mana yang akan kupilih untuk diucapkan. Namun, setelah lama mematung, akhirnya aku hanya mengucapkan tiga kata.
“Dasar Wonseok gilaaaa!”