Sarjana ‘Cuma’ Jadi Petugas Sampah?
(Sumber: Koleksi Pribadi milik Zero Waste Cities)
Kenapa tidak?
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia memiliki 750-800 ribu lulusan sarjana setiap tahunnya, sedangkan berdasarkan data 2018 jumlah sarjana yang tidak mendapat pekerjaan alias menganggur saat ini adalah sejumlah 630.000 sarjana -dimana aku berkemungkinan akan jadi salah satu diantaranya tahun ini. Wow, angka yang fantastis, bukan? Itu tandanya, ada sekitar 6,2 persen sarjana tidak mendapatkan pekerjaan. Lantas, apakah mereka tidak mendapatkan pekerjaan karena memang lapangan pekerjaan yang tidak sebanyak itu tersedia? Atau karena mereka yang tidak mau?
Lapangan pekerjaan selalu tersedia
Lapangan pekerjaan selalu tersedia dengan jumlah yang banyak. Menurut BPS jumlah lapangan pekerjaan di Indonesia terus bertambah dengan perlahan di setiap sektornya. Itu tandanya lapangan pekerjaan sebenarnya selalu tersedia dan ada dimana-mana. Belum lagi, baru-baru ini Direktur Tenaga Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja Kementrian PPN/Bappenas, Mahatmi Parwitasari Saronto mengatakan bahwa adanya perkiraaan 2,3 juta hingga 2,9 juta lapangan pekerjaan baru di tahun 2021.
Namun lucunya, angka pengangguran dengan gelar sarjana dan diploma justru semakin meningkat setiap tahunnya, berbeda dengan lulusan pendidikan yang lebih rendah dimana angkanya semakin menurun. Ada beberapa alasan hal itu terjadi diantaranya karena keterampilan lulusan sarjana yang tidak sesuai kebutuhan, ekspektasi penghasilan dan status lebih tinggi alias gengsi, dan penyediaan lapangan pekerjaan dengan keterampilan tertentu terbatas (Sumber: Katadataid). Alasan lainnya, lulusan pendidikan yang lebih rendah seperti SD-SMP-SMA cenderung memilih pekerjaan apapun itu, sedangkan lulusan sarjana dan diploma justru lebih pilih-pilih. Dari beberapa hal tersebut dapat ditarik sebuah garis besar bahwa lulusan sarjana cenderung memilih pekerjaan yang ‘sesuai’ dengan pendidikan mereka, entah itu berdasarkan gaji, keterampilan, atau bahkan lingkungan pekerjaan. Padahal kalau dipikir-pikir, ada banyak pekerjaan mulia yang tidak terlihat kiprahnya dalam dunia ketenagakerjaan, salah satunya adalah petugas sampah.
Petugas sampah?
Coba lihat di sekelilingmu, bersih dan tidak ada sampah, bukan? Apakah kamu sudah melakukan pengelolaan sampah dengan baik? Sepertinya belum. Kemana sampah-sampah itu pergi kalau bukan ke TPS atau TPA? Betul, sampah itu semuanya pergi kesana. Coba ingat juga kapan kamu terakhir kali ke TPS atau TPA? Tidak pernah, kan? Hal itu dikarenakan ada ‘seorang pahlawan’ yang mengambil sampah dari rumahmu –juga rumah lainnya. Andaikan ‘seorang pahlawan’ tersebut tidak ada, lantas bagaimana nasibnya sampah-sampah yang ada di rumahmu? Silahkan bayangkan saja sendiri.
Setiap tahun Indonesia ‘berlangganan’ sebuah bencana, yaitu banjir. Banjir yang terjadi di Indonesia cenderung disebabkan oleh ulah manusia sendiri, salah satunya adalah masalah sampah.
Padahal, salah satu goals milik Sustainable Development Goals (SDGs) yang diusung oleh PBB sejak tahun 2015 adalah mengenai pengelolaan sampah yang mana diharapkan masyarakat dapat mengurangi penggunaan sampah plastik, maupun sampah-sampah jenis lainnya, dan dapat mengolah sampah dengan 3R (Reuse, Reduce, Recycle) secara lebih berkesinambungan. Bahkan sudah sejak beberapa tahun lalu ada campaign-nya yang cukup terkenal mengenai climate change, dimana ditemukan fakta bahwa pengolahan sampah dan limbah menjadi pengaruh yang cukup signifikan dalam krisis iklim yang kini sedang kita alami. Selain itu, ada goals lain milik SDGs mengenai life on water yang mendapat pengaruh besar akibat sampah-sampah yang dihasilkan manusia. Pada intinya, semua berhubungan dengan pengolahan sampah -silahkan mendalami website resmi SDGs untuk tahu lebih lanjut.
Coba sekarang kamu ingat-ingat lagi, kapan terakhir kali kamu menyapa sang pahlawan -petugas sampah, yang sedang melaksanakan tugasnya mengambil sampah di rumahmu? Mungkin minggu lalu, mungkin juga bahkan kamu tidak menyadari adanya kehadiran sang pahlawan itu.
Kita se-tidak peduli itu dengan apa yang kita hasilkan setiap hari; sampah -dan segala hal yang berkaitan dengannya.
Bukan petugas sampah di Indonesia
Jerman dan Swedia diberi predikat negara dengan pengolahan sampah terbaik di planet ini. Mungkin pada berita atau artikel lainnya kamu bisa menemukan inovasi-inovasi yang mereka lakukan. Tapi kalau ditelisik lebih dalam, semua bermula dari pemilahan sampah yang benar sehingga secara otomatis kualitas hidup para petugas sampahpun meningkat. Kenpa bisa gitu?
Di Jerman, ada jadwal khusus pengambilan sampah, dimana setiap hari petugas sampah bertugas mengambil jenis sampah yang berbeda. Masyarakat dipaksa untuk mengikuti aturan; memilah sampah sesuai dengan jenis yang tersedia. Mulai dari sampah organik hingga non-organik. Secara terpaksa, masyarakat harus memilah dan membuangnya berdasarkan jadwal yang sudah tersedia, jika tidak maka sampah itu harus dibiarkan di rumah hingga jadwal selanjutnya. Kebayang tidak kalau sampah yang dibuang adalah nasi busuk, misalnya? Dan karena kamu enggan memilah sampah tersebut sesuai jadwal, petugas sampah tidak mau mengambilnya, hingga sampah itu tidak bisa keluar dari rumahmu karena secara terpaksa harus dibiarkan begitu saja di rumahmu -setidaknya sampai kamu mau memilahnya. Oleh karena hal itu, petugas sampah di Jerman sangat dihargai dan disegani. Selayaknya seorang polisi, petugas sampah dihormati karena kedisiplinannya dalam menegakkan pengangkutan sampah sesuai jenis.
Hal itupun terjadi di Swedia yang bahkan menng-impor sampah dari berbagai negara karena kekurangan sampah. Swedia mengolah sampah menjadi bahan bakar gas untuk mengaliri setiap rumah dan fasilitas publik disana. Hingga akhirnya, petugas sampah memiliki kualitas dan taraf hidup yang lebih baik karena tidak lagi bergumul pada sampah-sampah berbau tak sedap, bahkan bisa menjadi sebuah pekerjaan yang cukup ‘prestigious’, bahkan tidak sedikit lulusan sarjana menjadi seorang petugas sampah disana.
Tapi itu semua terjadi di luar negeri, dan bukan petugas sampah di Indonesia -setidaknya belum. Lantas, kapan?
Mari berandai-andai
Andaikan saja menjadi petugas sampah itu sama seperti menjadi seorang pekerja di sebuah perusahaan ternama, saya yakin para sarjana akan antri sampai kemana-mana. Semua perihal gengsi? Tidak juga. Hal itu juga berkaitan dengan beban juga lingkungan kerja. Maka dari itu, kurasa satu hal yang perlu dirubah bukan lagi perkara mindset, tapi benar-benar sebuah pekerjaan itu. Sehingga, peran pemerintah sangat diperlukan dan dibutuhkan dalam hal ini. Selama ini, pemerintah hanya menyediakan sebuah tempat yaitu TPA dan TPS, namun perihal pengangkutan dan lain sebagainya, pemerintah masih kurang berkontribusi. Pemerintah perlu memperlakukan petugas sampah beserta jajarannya dengan seksama. Se-sederhana memanusiakan manusia. Petugas sampah itu manusia seperti kita. Alangkah lebih indahnya jika kita bisa berbahagia bersama mereka juga, kan?
Jika saja menjadi petugas sampah tidak mengharuskan seseorang untuk mencium bau tak sedap, memiliki lingkungan pekerjaan yang kotor dan kumuh, juga mendapatkan gaji yang tak seberapa, kurasa banyak sarjana yang akan bersedia untuk jadi petugas sampah -begitupun denganku, dan tentunya akan menurunkan angka pengangguran. Sebab, sarjana dengan segala kepintarannya pasti juga ingin berkontribusi besar dalam perubahan baik yang ada di bumi. Belum lagi, banyak pekerjaan yang dulu bahkan tidak dianggap kehadirannya, tapi kini justru jadi anugerah bagi banyak orang. Buktinya, kini pekerjaan menjadi seorang ojek online saja tidak lagi dipandang sebelah mata, maka kenapa jadi petugas sampah tidak bisa?
Sebenarnya, semua memang bukan perihal gelar sarjana. Tapi perihal prestis sebuah pekerjaan, sebab prestis sebuah pekerjaan juga mempengaruhi ‘kedudukan’ seseorang di mata publik. Bukankah pekerjaan yang dianggap “prestigious” kebanyakan pasti dimiliki oleh mereka yang lulusan sarjana? Padahal pekerjaan itu belum tentu-lah pekerjaan yang sangat mulia. Maka dari itu, penggunaan gelar sarjana sebenarnya hanyalah sebuah perumpamaan agar pekerjaan menjadi “petugas sampah” itu bukan hanya meningkat taraf hidupnya, tapi juga meningkat ‘derajat’nya, sehingga kita lebih menghargai lagi petugas sampah yang ada di sekitar kita. Sehingga kita dapat menjadi manusia yang memanusiakan manusia.
Zero Waste Cities
Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, kunci keberhasilan pengelolaan sampah yang ada di Jerman, Swedia dan negara maju lainnya ada pada pemilahan sampah. Dimana, pengelompokkan sampah sebelum dibuang memiliki pengaruh penting pada banyak aspek. Hingga akhirnya dikenal-lah sebuah istilah baru untuk hal itu, yaitu Zero Waste Cities.
Di Indonesia, Zero Waste Cities sudah diterapkan di beberapa kawasan, lho! Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi atau yang lebih dikenal YPBB Bandung bekerjasama dengan DLHK dan pemerintah Kota Bandung sudah sejak lama menggaungkan program Zero Waste Cities (ZWC) atau yang lebih akrab disebut sebagai Kang PisMan. Diawali dari sebuah RW kecil di Kelurahan Sukaluyu Bandung, kini sudah sampai ke beberapa kota bahkan pulau Bali. Jadi, sangat mungkin jika hal ini terus digaungkan dapat menyebar ke seluruh Indonesia. Bahkan mungkin sampah bisa jadi sumber daya baru; SDS (Sumber Daya Sampah) seperti di Swedia.
ZWC mengedepankan pemilahan sampah sejak dari rumah, sehingga sampah-sampah yang berkemungkinan untuk didaur ulang bahkan kembali dipakai bisa lebih optimal. Meski belum lama dilakukan, tapi program ini sudah memberikan dampak besar di Kota Bandung. Seperti yang pernah dikatakan oleh ibu Anilawati Nurwakhidin, koordinator humas ZWC dalam talkshow Zero Waste Cities: Cegah Tragedi TPA Leuwigajah petugas sampah mulai meningkat taraf hidupnya karena terlaksananya program tersebut, dimana bau sampah yang menempel pada petugas sampah berkurang drastis dan sampah yang diangkutpun jadi lebih ringan. Belum lagi, sampah organik yang sudah diolah menjadi kompos dapat digunakan oleh masyarakat. Ditambah, karena program ini sudah sampai mana-mana, pada tanggal 16 Oktober 2018 pemerintah Kota Bandung menetapkan sebuah peraturan daerah baru yaitu PERDA Kota Bandung No. 9 Tahun 2018 tentang Pengelolaan Sampah, dan tidak hanya sampai disitu, ada pula PERDA Kota Cimahi No. 6 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Pengelolaan Sampah. Jadi, hal ini sangat mungkin untuk dilakukan di seluruh Indonesia. Bahkan, ada Undang-undang baru harus ditetapkan untuk hal itu.
Tapi, tidak bisa
Tapi tidak bisa, kalau cuma aku yang melakukannya. Tidak bisa, kalau kamu hanya membaca tulisanku saja tanpa pernah berniat memulainya. Maka dari itu, kita harus melakukannya bersama-sama. Mungkin apa yang kukatakan sejak tadi terlihat seperti angan-angan semata. Iya, kalau hanya aku yang melakukannya sendiri. Jadi, yuk mulailah sadar dengan sampah yang ada di lingkunganmu. Mulailah memilah sampah yang ada di rumahmu berdasarkan standar pemilahan sampah (organik-non organik). Setelah memilah dari rumah, mulailah mengajak tetangga sebelah kanan dan kirimu untuk ikut mulai memilah sampah-sampahnya juga. Dari memilah, mungkin kamu bisa juga mulai untuk mengolah sampah yang semula langsung dibuang. Terdengar sangat sepele dan sederhana, tapi berdampak sangat besar.
Mungkin memang program ZWC ini belum sampai di kotamu, tapi siapa yang tahu soal hidup? Bisa saja, kelurahanmu atau bahkan kotamu bisa jadi kota percontohan pengolahan sampah terbaik di Indonesia? Iya, semua itu bisa, asal kamu mau memulainya sekarang juga. Bahkan, mungkin kamu bisa menyelamatkan jutaan makhluk hidup di bumi ini hanya karena langkah sederhana yang kamu lakukan setiap hari, dan senantiasa ditularkan pada orang lain. Percayalah, semua kemungkinan berawal dari ketidakmungkinan.
Sebongkah sajak
Sampah tidak kemana-mana tapi selalu ada dimana-mana. Sampah tidak mungkin sepenuhnya lenyap dan hilang dari sekitar kita. Sampah akan selalu ada selagi manusia masih ada. Maka dari itu, saatnya kita mulai bertanggung jawab secara nyata akan sampah-sampah yang kita hasilkan, mulai dari sekarang.
Jadi wahai kamu para sarjana, maukah kamu menjadi petugas sampah -sebuah pekerjaan mulia yang dapat menyelamatkan bumi di masa depan?


















