Akan ada rindu untuk kembali (end)
Selama perjalanan pulang kami masih sempat poto-poto. Bisa dibilang kerjaan kami yaa jalan sambil berpoto dan ketawa-ketawi. Suasana di MRT lumayan penuh, kami transit satu stasiun. Lalu berjalan menuju hotel, kami lapar tapi malas keluar dari hotel. Tak lama Novan kembali ke kamar, kami berdua pergi cari makan. Seperti biasa aku jalan dulu ke pasar bugis cari yang aneh-aneh, tapi tidak ketemu. Barulah kita cari makan, kami melewati masjid Sultan Agung, tak bisa beribadah kami hanya berpoto didepannya. Lalu kami makan di Kampung Glam, makanannya enak, bersih dan banyak. Aku makan nasi goreng seafood dan teh tarik, porsinya banyak tapi aku habis, kenyang sekali, lumayan bisa tidur nyenyak, aku hanya bayar hampir $ 7. Novan memesan nasi goreng Thailand tapi rasanya yaa nasi goreng pada umunya, dia pesan minum soda biru, aku lupa namanya apa. Lalu, Iwan memesan makanan kepada ku, aku mengajaknya untuk gabung tapi dia menolak dan hanya mau dibungkus. Aku dan Novan sambil makan, kami berbicara mengenai hobi jalan-jalannya, hanya pembicaraan umum untuk mencairkan suasana. Setelah makan, aku kembali ke hotel membawakan makanan untuk Iwan. Kami bertemu di ruang makan, sambil berbincang selama perjalanan dua negara. Seperti biasa, kami memperdebatkan mengenai pembelian STP, aku yang tak mau disalahkan atas kejadian pagi tadi. Selain itu, dia juga menceramahiku soal sikap aku yang keras kepala terhadap orang-orang baru. Ada beberapa yang bisa ku ambil, sisanya aku jadikan guyonan. Malam terakhir kami di Singapura, tidak terasa esok malam kami sudah kembali ke kehidupan masing-masing. Aku kembali ke kamar, lalu bercanda mengenai Ani dan Mba Tut yang sering telpon-telponan malam-malam, juga soal transferan supaya bisa trip. Kami melewati malam terakhir kami dengan senang, akan ada kerinduan untuk bisa kembali. Day 4 Waktu menunjukkan pukul 7 pagi, aku masih mengantuk, masih bergeliat malas dikasur hotel. Kami harus sudah check out dari hotel pukul 09.00. Kami sarapan terlebih dahulu, mereka berempat malas mencuci piring, sehingga akulah yang membereskan. Aku dan Mba Tut ke resepsionis menyelesaikan administrasi, uang deposito ku sebesar $ 10 dikembalikan. Kebayangkan tinggal di Singapura seperti apa mahalnya, semua hal harus ada uang depositonya. Kami menuju Orchard Road dengan membawa koper, ransel dan semuanya untuk jalan-jalan, tadinya aku mau ke Little India, hanya saja tidak jadi karena tidak tau jalannya. Kami pun bingung kemana arahnya, keluar MRT kami masih berjalan dan bertanya-tanya dimana jembatan Orchard yang terkenal itu, aku yang bertanya kepada warga Singapura, karena bahasa Inggris ku yang paling mumpuni. Aku menunjukan jalannya sampai ditengah jalan ada toko, Novan mampir untuk membeli akhirnya kami semua masuk dan membeli oleh-oleh, aku habis sekitar $ 50. Selesai belanja kami memisahkan diri, aku Iwan, dan Mba Tut langsung ke bandara padahal flight kami masih lama pukul 7 malam dan kami sudah selesai belanja pukul 11. Novan dan Ani, kembali berkeliling entah apa yang mereka cari. Kami kembali berjalan menuju MRT, sambil lewat Orchard Road kami berpoto dahulu, kegiatan yang biasa aku lakukan. Awalnya aku mau ikut Novan, cuma aku merasa tak enak hati kalau berpisah dengan Iwan, karena kita satu tim. Menikmati perjalanan dan berpoto, kami kembali tersesat menuju MRT. Aku bertanya kemana jalannya, akhirnya ditunjukan harus masuk mall, kami berjalan dan bertanya kembali. Setelah kami sampai di MRT, aku baru ingat kalau Mr. Heri minta dibelikan perangkok. Aku bilang kepada Iwan dan Mba Tut untuk menunggu di lorong MRT dekat sevel, aku mau beli perangkok di kantor pos. Aku bertanya-tanya kantor posnya sambil jalan aku mengambil beberapa poto keadaan Singapura di pagi hari, sempat tersesat di lorong kedai makanan. Aku pun memutar arah lalu bertanya kepada salah satu penjaga kedai, arah kantor pos. Aku berjalan lagi, setelah melewati lampu merah aku menemukan kantor posnya, awalnya aku bingung bagaimana aku membeli perangkoknya. Aku masuk kedalam dan bilang hanya beli perangkok, kebetulan yang melayaniku orang afrika, aku beli seharga 3 sen. Lalu kembali ke MRT menemui mereka, kami sempat berbincang kemana tujuan kita selannjutnya, kami sepakat untuk makan siang di Vivo Mall yang kemarin kita kunjungi, karena hanya disitulah kami bisa dapat makanan halal dan murah. Di resto tersebut makanan halal dan haram dibedakan berdasarkan tray (nampan) hijau untuk halal dan hitam untuk haram bagi muslim. Aku makan mie lagi, karena makanan yang bisa masuk yaa cuma mie, minum aku sudah beli di sevel, jadi hanya bayar makan sekitar $ 4. Kami menghabiskan waktu di resto sambil berbincang soal kehidupan kita masing-masing. Kami mulai dekat dan merasa nyaman untuk cerita kehidupan kita. Pukul 3 sore kami menuju Changi Airport, lalu mengembalikan STP serta mendapatkan kembali uang depositonya $ 10. Lumayan untuk ditukarkan kembali di Indonesia. Kami bertiga langsung check in, tempat duduk kami berbeda, tak masalah yang penting kita bahagia. Sampai di dalam aku, duduk sambil charge hapeku, Iwan duduk di tempat pijat, Mba Tut juga pijat. Setelah selesai, aku dan Mba Tut keliling, mencari pembalut di duty free, ternyata saat aku tanya pembalut mereka memberi aku kassa. Kita terjadi miskomunikasi, akhirnya kita mencari sendiri dan ketemu, kami pergi ke toilet sama seperti di mall tidak ada flushnya. Aku sempat minum air keran yang ada di dekat toko, rasanya menyegarkan hanya sayangnya setelah meminum tenggorokku terasa kering lagi, yang lebih menyedihkan lagi aku tidak bawa botol untuk diisi. Kran minum gratis itu selalu berada di dekat toilet, mungkin itu adalah recycle water. Aku kembali duduk ditempat tadi sambil berbicara dengan Iwan dan Mba Tut, mengenai kehidupan dan harapan masing-masing. Aku cerita mengenai rencana aku saat guru menanyakan apa impian kamu, aku menjawab aku mau punya sekolah di pedesaan dengan dikeliling kebun, sawah dan pemandangan indah lainnya, sama seperti Yorkshire, Inggris. Tiba- tiba Mba Tut, menawarkan aku untuk mengajar di Kerawang, aku terkejut tapi belum siap untuk itu semua. Kami mengganti pembicaraan, jadi perbincangan yang lucu-lucu. Akhirnya Novan dan Ani datang dengan lelahnya, kami sudah tidur dan menikmati sore dengan bercerita hangat. Waktu menunjukan pukul 6 sore, kami berjalan menuju tempat menunggu pesawat Air Asia. Kami berlima diurutkan terakhir, sehingga saat masuk kabin, kami menjadi pusat perhatian penumpang, aku sudah tidak bisa menaruh ransel di rak kabin, satu tas oleh-oleh aku titipkan ke Iwan yang posisinya ada di depan, satu lagi aku taruh kolong kursi, aku ada di belakang. Selama di pesawat aku hanya buku, kanan-kiri ku sibuk dengan ponselnya. Akhirnya kami tiba di Bandara Soekarno-Hatta, kami kembali mengantri di imigrasi untuk mengisi form sambil bercanda-canda. Kami akhirnya berpisah dan saling mengucapkan sampai jumpa lagi. Berharap kita bisa bertemu kembali diwaktu yang berbeda dengan trip yang menantang. Pelajaran penting yang aku ambil dari kedua perjalananku adalah menurunkan ego dan saling menghargai.










