Sebenarnya ini bukan sepenuhnya tentang firasat tapi tentang almarhum simbah putri kami atau nenek buyutnya Afka. Dan pagi ini masih dengan tema kisah balik kehamilan Afka, hehe.
Masuk bulan ke tujuh kehamilan waktu itu bulan september, sebulan sesudah ramadhan. Kebetulan kontrak rumah pas habis juga. Aku dan suami memutuskan untuk stop kontrak dan pulang ke rumah bergas dulu, sekalian persiapan persalinan di sini.
Masuk bulan ke delapan, ada kejadian aneh. Aku, ibu dan adek mendapat mimpi yang sama yaitu bertemu mbah putri.
Di suatu subuh, bapak membangunkan kami semua dan mengajak sholat subuh berjamaah. Begitu bangun aku langsung ambil air wudhu. Sambil berwudhu dan bersiap sholat jamaah, aku memikirkan mimpi tadi. Apa maksudnya?
Ya Allah, apa keluarga kami ini sespesial itu di mata simbah?
Ih, manusia sukanya besar kepala duluan kan yang keluar.
Lalu aku kilas balik kenangan - kenangan bersama mbah putri sepanjang yang kuingat sampai beliau dipanggil Allah.
Waktu masih di bangku madrasah ibtidaiyah, tiap libur semester kami sekeluarga besar ngumpul di rumah simbah. Dan di suatu liburan panjang, aku punya liburan yang lebih panjang dari yang lain. Jadi liburan itu aku nginep di wonogiri sendiri, sama simbah, sama bulik dan budhe yang rumahnya sebelahan sama simbah di sana.
Aku ini punya alergi sama makanan berprotein tinggi, kalau pas kambuh kayak exzema gitu. Dan kebetulan waktu itu kambuh. Aku nggak berani matur simbah, aku sembunyikan aja. Tapi yang nyuci bajuku simbah jadi tetep ketahuan.
Memang kalau pas di wonogiri alergi ini suka kambuh karena di sana panas dan lembab, ditambah makan yang enak - enak nggak pernah ketinggalan kan kalo pas kumpul keluarga gitu.
Simbah waktu tau kalau alergiku kambuh terus introgasi aku.
“Gatel to, Ndhuk? Kok ra matur, kalo kayak gini tu matur sama simbah. Udah mulai kapan gatelnya, sini tak obati!”
Waktu itu aku jawab sambil malu dan merasa bersalah, ah campur aduk. Terus simbah telpun ke rumah tetangga, minta tolong kirim kabar ke bapak kalau aku kambuh gatelnya. Bapak langsung deh sorenya jemput, padahal aku masih pingin liburan di sana, waktu itu.
Ada lagi pas suatu momen, tiba - tiba simbah manggil aku suruh masuk kamarnya. Pas dah sampe dalam, ternyata aku dibelikan baby doll. Putih ada motif bunga dan boneka nya. Hihi, seneng banget waktu. Sekarang dah entah kemana itu baby doll.
Lalu ingat juga waktu simbah dah mulai gerah, biasanya kami, budhe pakdhe dan bulik om langsung ngumpul di rumah simbah. Terus simbah mendadak sehat, mau makan dan cerita - cerita lucu jaman dulu dengan riang. Lalu waktu semuanya dah bersiap pulang, simbah mulai nggak bergairah lagi, lemes gitu, terus pasti pingin ikut ke salah satu rumah anaknya. Pernah waktu itu simbah sampe ngikut kami ke solo karena nggak mau ditinggal. Tapi akhirnya dibawa pulang karena waktu itu kami sekeluarga akan kebingungan kalau simbah sama kami.
Mengingat itu semua, dalam sholat aku nggak bisa nggak nangis. Haru, kangen, bersyukur dan sedih campur aduk jadi satu.
Simbah... apa yang coba simbah sampaikan ke kami?