Suka geli sendiri lihat orang, terutama ibu - ibu, pada pilih pilihannya sendiri tapi terus menyalahkan mereka yang nggak memilih pilihannya itu. Lucunya lagi, ini yang menyalahkan sama yang disalahkan sama aja. Udah macem telur saya ayam kagak tau mana yang duluan. Seakan - akan pilihan mereka paling benar, seakan - akan gak ada orang lain yang lebih benar dari mereka dan golongannya itu. Yeah.. Netijen maha benar, sebutannya.
Kemarin kebetulan, sepupu habis lahiran. Waktu itu aku gak sengaja lagi ada keperluan isi polling di akun sosmed sebelah yang udah lama gak pernah buka. Sekalinya buka, akun sepupu muncul di "timeline" dan isinya, yaaah...terlalu mudah ditebak. Bukan dia sih yang posting tapi dia share postingan orang. Lahiran SC vs Normal.
Yang bikin tambah lucu adalah kalimat terakhir dari yang punya tulisan itu (entah sepupuku setuju atau ndak, semoga sih ndak). Jadi di sana dia menulis resiko jangka panjang operasi SC, rasa sakit yang diderita, ejekan dari ibu - ibu yang lahiran normal dan endebra endebre seakan mereka orang paling menderita di dunia. Belum selesai sampai situ, eh dia ngajakin ibu - ibu yang belum pernah SC buat nyobain biar bisa merasakan. Eh, eh, eh... Lucu amat ya dunia ini!
Secara, Ibu - ibu itu sebenernya pada sadar apa ndak ya kalau proses yang mereka debatkan itu sama - sama beresiko. Nggak tanggung - tanggung, 2 nyawa lho ini taruhannya. Mereka perang argumen gitu kok macem persalinan itu hal yang enteng, ajang sakit - sakitan, ajang sok paling sempurna. Duh... Kelahiran, kematian dan Rizqi itu sudah digariskan, Buk! Ibu - ibu semua ni ndak mau pada melawan ketetapan Allah kan.. Na'udzubillaah.
Dilihat dari kesakitannya aja udah beda, dari kategori kejadian yang satu normal yang satu abnormal udah beda jauh kan, makanya dibantu tindakan. Iyah, saya paham. Poinnya bukan pada kejadiannya tapi pada orang yang suka seenaknya komentar itu. Lah kenapa gak coba bales pakai komentar yang lebih positif gitu, bisa kan harusnya? Kalau ibu sama marahnya, apa bedanya dong sama si dia? Astghfirullah.. Mungkin ini salah satu efek penyakit ain itu ya. Ya Allah, lindungi hamba đĨ
Melahirkan itu baru tahap awal menjadi ibu lho. Belum nanti masalah ASI vs Sufor, Spoonfeeding vs BLW, dan seterusnya seterusnya lama lama habis juga tu waktu buat bahagia sama si anak, sama keluarga. Habis buat perang doang di sosmed. Padahal tanggung jawab masih jauuuuh dari sekedar itu semua. Duh, jangan sampai lalai deh.. Tar ditanya sama malaikat mau jawab apa coba?
Dulu, saya sempat juga mengucap seperti itu walaupun beda kasus dan poin saya bukan di kejadiannya tapi untuk nambah info si ibu kalau masih banyak yang sebenernya bisa dia lakukan dan masih banyak orang yang belum tau. Saya tau karena saya baca dan menekuni, eh sama orang yang baru tau sekilas juga masih dianggap mustahil. Yah begitulah kalau belajarnya setengah - setengah, sudah beda point of view dulu.
Bagiku, melahirkan normal itu hak perempuan yang harus diperjuangkan apalagi di masa masa seperti ini. Dimana lifestyle udah sangat memanjakan manusia didukung provider yang masih banyak menganggap keputusannya adalah yang terbaik bagi pasien. Pasien dan provider beda kasta. Provider maha benar (dah macem netijen, dih.. Mau situ disamain?). Padahal pasien punya hak atas dirinya, punya hak meminta alternatif, punya hak menolak bahkan menuntut balik secara hukum bila permintaan atau kata - katanya tidak diindahkan. Ini kalo pasien yang pinter kan..
Lewat beberapa akun pro gentle birth (yang sering disalah artikan lahiran normal garis keras), saya belajar lagi tentang ilmu yang 3 tahun saya tuntut di bangku perkuliahan tapi selulusnya saya masih merasa buta. Lewat gentle birth, saya kembali mengartikan ulang persalinan sebagai proses kompleks yang bahkan unsur spiritual sangat kuat di sini. Lewat gentle birth, saya belajar mengapa lulusan bidan dan dokter makin banyak, tempat layanan kesehatan makin banyak, makin bagus, tapi kasus persalinan bermasalah bahkan sampai kematian masih saja terjadi. Lebih banyak. How come? Itu yang harus direnungkan. Salah siapa? Salah provider? Salah kebijakan? Salah nenek moyang? Atau salah ibu - ibu sendiri yang sudah kehilangan kepercayaan sama tubuhnya? Padahal itu ciptaan Tuhan yang sempurna.. Hayolhooo, salah siapa coba?
Kehamilan adalah 9 bulan waktu yang diberikan Tuhan kepada kita, para calon orang tua, untuk mempersiapkan kedatangan malaikat kecil nanti. Bukan hanya soal pendidikan, pakaian tapi juga hak lain yang dia bawa, kesehatan, stimulasi, kasih sayang.. Dan lain - lain. Jangan cuma minta dimanja aja waktu hamil, jangan cuma merasa hebat mau jadi ayah. Itu pola makan udah diatur belum? Olah tubuh sudah belum? Pertumbuhan di dalam rahim itu tidak akan pernah terganti dan terulang dan yang bisa kita usahakan paling banyak adalah jaga makan. Gak mau kan anaknya tumbuh atau dilahirkan secara sembarangan? Udah banyak yang menulis soal birth trauma and i believe it's real. Itulah pentingnya belajar gentle birth.
Bersalin normal itu harus diperjuangkan, harus diupayakan sampai maksimal. Kalau sudah ikhtiar semua dilakukan mentog persalinan masih saja stuck, di situlah peran magic world sebelum eksekusi SC. Dan itu belum saya ucapkan dulu, walaupun saya mengambil keputusan dengan sadar. Lalu, apa gunanya saingan normal atau SC? GAK ADA! Semua diciptakan pasti sudah ada porsinya masing - masing, janganlah melewati batas.
Last but not least, saya tau semua pasti maunya lahiran normal. Tapi apa sudah berusaha maksimal? Apa sudah belajar? Apa sudah bikin rencana a, b dan seterusnya? Usahakanlah.. Dan jangan benci SC karena dengan operasi ini banyak nyawa diselamatkan. Hanya saja, pesan saya bagi provider dan konsumen, bijaklah mengambil keputusan.
Kamu itu manusia, lakukan hal - hal kemanusiaan biar kamu benar - benar jadi manusia!