Ekonomi, pintu kesejahteraan sekaligus penderitaan Alasan apa kita dijajah? Alasan apa mereka disana sejahtera? Alasan apa kamu bisa merasakan hidup enak? Alasan apa kini kamu bingung mau makan, sekolah, bersosialisasi, mau nikah mungkin, yang membuat hidupmu galau atau selalu terjadi kontradiksi didalam hatimu? Dari berbagai alasan yang mungkin anda sebutkan, akan terselip sebuah alasan yang mungkin akan selalu muncul, yaitu alasan Ekonomi. Steven D. Levitt dan Stephen J. Dubner (US Economist 1967 and 1963) menyebutkan economics (ilmu ekonomi) adalah, pada dasarnya ilmu tentang insentif: bagaimana manusia mendapatkan yang mereka inginkan, yang mereka butuhkan, terlebihlagi ketika manusia lain menginginkan atau membutuhkan hal yang sama (The Economics Book;2012). Levitt dan Dubner mendasarkan bahwa ilmu ekonomi itu adalah ilmu tentang insentif, yang berarti bahwa ketika seseorang berbicara mengenai ekonomi, dia akan berbicara tentang bagaimana dia mampu mendapatkan tambahan uang atau barang, untuk dialokasikan memenuhi keinginan dan kebutuhan, semakin banyak nilai tambah yang dihasilkan atau uang dan barang yang dihasilkan, maka semakin besar kemungkinan segala kebutuhan dan keinginan untuk terpenuhi. Hal tersebut merujuk pada arti kata insentif menurut KBBI yaitu tambahan penghasilan (uang, barang, dsb). Jika merujuk pada definisi ini maka, tidaklah heran bahwa sejak dahulu kala setiap kerajaan besar berusaha melakukan penaklukan-penaklukan, agar apa? Agar hegemoni kerajaannya, agar bertambahnya gaya hidup harus bisa diimbangi dengan bertambahnya penghasilan melalui pajak, upeti, atau rampasan dari daerah-daerah taklukan. Pun, demikian adanya dengan pemberontakan, merasa ditindas, merasakan kebutuhannya tidak tercukupi apalagi keinginannya, maka selalu saja ada pemberontakan untuk menuntut hak-haknya, semua karena apa? Karena alasan ekonomi. Sayangnya laju keinginan manusia seakan-akan tidak ada limitnya, maka saling berkompetisi untuk mencapai pencapaian yang lebih akan selalu terjadi. Dalam hal ini bukan saya membenci orang kaya atau punya penghasilan lebih, tapi yang saya soroti adalah kesenjangan dalam ekonomi. Kesenjangan adalah sebuah keniscayaan, karena setiap manusia punya potensi yang berbeda, potensi, latar belakang, dan faktor-faktor lainlah yang menyebabkan seseorang memiliki kapasitas lebih ataupun kurang dalam hal ekonomi, namun jika tidak ada media perekat terhadap kesenjangan ini, selamanya kekacauan pasti akan terjadi. Kita masih ingat, dengan konsep kesetaraan bernama sosialisme, guru Marx memaparkan manifesto komunis yang secara extreme menolak hak-hak privat, pun oleh guru Lenin yang mengakomodir keresahan para buruh, menjadi sebuah pergerakan besar dengan jargon para kaum proletar harus menguasai para bordjuis. Ada 3 hal yang perlu kita cermati: Pertama, bagaimana rumus menghilangkan kesenjangan? Kedua, apakah perlu adanya sebuah hak privat terhadap barang-barang ekonomi? Ketiga, bagaimana menghilangkan perasaan saling sandra atau keinginan saling menguasai antara kaum buruh/proletar dengan kaum bordjuis/pemilik kapital? Jika pertanyaan-pertanyaan ini tidak terjawab, revolusi yang didengung-dengungkan, jihad yang didengung-dengungkan, hanyalah sebuah spirit yang rapuh, meniru bahasa Bung Karno “gumantung tanpo tjentelan”. Kue ekonomi kita untuk siapa? “The first lesson of economics is scarcity: there is never enough of anything to satisfy all those who want it. The first lesson of politics is to disregard the first lesson of economics” (Thomas Sowell;1930). Bolehlah saya terjemahkan secara bebas, bahwa menurut guru Sowell pelajaran pertama dari Ilmu Ekonomi adalah mengenai kelangkaan; dimana semuanya (Sumber Daya Ekonomi) tidak akan mencukupi untuk memuaskan keseluruhan orang yang menginginkannya, sedangkan ilmu politik adalah untuk mengabaikan pelajaran pertama dari Ilmu Ekonomi. Bisa ditangkap secara sederhana disini bahwa pemahaman awam mengenai ekonomi adalah, sumber-sumber daya ekonomi itu terbatas, maka jika tidak ada sebuah politik untuk mengaturnya, maka kemungkinan untuk terjadi gesekan-gesekan bahkan kebrutalan yang lebih besar akan terjadi. Sayangnya, banyak yang ingin menguasai sumber-sumber daya ekonomi, sehingga akhirnya politik lebih bersifat menyembunyikan atau alasan pembenaran untuk tidak membagi sumber-sumber daya ekonomi. Meskipun dalam konsep ekonomi yang lebih revolusioner, Paul Jane Pilzer mengungkapkan dalam Unlimited Wealth, bahwa sumber-sumber daya ekonomi itu tidak terbatas, tidak ada istilah kelangkaan dalam ekonomi, sehingga tidak ada alasan untuk “sikut-sikutan”. Guru Pilzer mendasarkan pernyataannya pada kenyataan bahwa sudah banyak ekonom klasik yang pesimistis salah meramalkan keberlangsungan ekonomi kita. Sebagai contoh Stanley Jevons ekonom Inggris pada 1865 memicu “the Coal Panic”, dengan tulisannya dimana akan terjadi krisis di Inggris, dikarenakan langkanya pasokan batu-bara. Apakah saat ini terbukti? Thomas Malthus (1766-1834) menyatakan bahwa, semakin tingginya kemakmuran golongan pekerja, akan meningkatkan angka kelahiran, dan akan meningkatkan jumlah penduduk yang membagi kekayaan sehingga masyarakat kedepan seakan ditakdirkan untuk hidup selamanya dalam tingkat yang minimum. Apakah saat ini terbukti? China penduduk terbanyak dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi didunia! David Ricardo (1772-1823) menyatakan bahwa kekayaan sebuah bangsa ditentukan oleh ketersediaan tanah pertanian dan bahwa kelangkaan tanah pertanian pada akhirnya akan menghentikan pertumbuhan ekonomi. Apakah saat ini terbukti? Indonesia tanah pertaniannya lebih luas dari Brunei, Singapura, Malaysia tapi berada pada pertumbuhan ekonomi yang anda semua bisa rasakan sendiri. Banyak faktor banyak penyebab, tapi setidaknya guru Pilzer memberikan gambaran bahwa sebenarnya persoalan kelangkaan ekonomi, jika mau memandang secara positif dan bersikap positif, hal tersebut tidak lah ada. Kuncinya adalah adaptasi dan inovasi, sayangnya adaptasi dan inovasi itu dekat dengan investasi dan peremajaan/update teknologi yang pada ujungnya adalah masalah financial kapital. Jadi apakah penikmat kue ekonomi itu hanya untuk kaum pemilik kapital? Apakah yang punya kapital itu akan selalu kapitalis? Pondasi Ekonomi Jujur, kendati apakah itu kemasan ataukah itu mendasar, saya selalu terkagum dengan petikan kalimat dari pidato Bung Karno yang dia berikan judul “Tjapailah Bintang-Bintang Dilangit (Tahun Berdikari)” dimana dipembukaan beliau berkata,”For a fighting nation, there is no journey’s end”. Bangsa ini dibangun dengan darah, tangis dan airmata seluruh rakyatnya. Dan bangsa ini belum benar-benar berdiri sebelum hilang mana itu darah, tangis dan airmata. Untuk itu sebagai manusia yang berkesadaran kita harus terus berjuang, karena bagi bangsa yang berjuang tidak ada kata perjalanan berakhir. Perbaikan-demi-perbaikan, harus kita lakukan termasuk dalam bidang e k o n o m i. Saya teringat seorang teman yang berujar kepada saya,”bahkan mengapa tentara itu harus ada di Republik Indonesia?” dia melanjutkan,”untuk menjaga nilai mata uang kita!”. Saya bertanya apa hubungannya? Jawab dia,”bayangkan bagaimana jika keamanan tidak terjaga, aturan tidak dapat tegak, bagaimana mungkin ada iklim investasi dan perekonomian yang kondusif!”. Makesense, dan semakin membuat saya sepakat bahwa ekonomi adalah pondasi. Dalam ekonomi ada istilah, pertumbuhan ekonomi, pemerataan ekonomi, dan stabilitas ekonomi. Ini 3 konsep ekonomi yang selalu menjadi target capaian tahunan dan 5 tahunan oleh seluruh pemimpin daerah, provinsi, ataupun nasional. Sayangnya, sampai pada dewasa ini langkah kita masih terhenti di pertumbuhan, yang terbukti tidak tumbuh dengan sehat. Kesenjangan masih menjadi masalah yang serius bahkan sangat serius. Sudah saatnya pemerataan ekonomi menjadi prioritas, dan stabilitas ekonomi harus ditolak. Karena kata stabil berarti mematikan potensi dan kreatifitas, alurnya adalah pemerataan, pertumbuhan bersama, pemerataan, pertumbuhan bersama, pemerataan, pertumbuhan bersama, terus berulang (kesejahteraan simultan). Kesejahteraan yang bergulir dari generasi ke generasi dengan adanya kondisi kondusif karena semua sadar membidangi sektor ekonomi yang sama pentingnya, sehingga merekapun bersaing dalam rangka saling menyehatkan dan memberi contoh, saling melebarkan sayap tanpa meninggalkan satu-sama-lain, dan terus bergulir dari generasi ke generasi, dari hulu dan hilir, hilir menjadi hulu kepada hilir yang lebih besar, besar dan besar bersama. Maka saya akan menjawab pertanyaan pada sub-bab pertama, tiga pertanyaan mengenai: (1) Bagaimanakah rumus menghilangkan kesenjangan? (2) Apakah perlu adanya hak privat terhadap suatu barang ekonomi? (3) Bagaimana menghilangkan perasaan saling sandra/menguasai antara kaum proletar dan bordjuis? Saya akan menjawab (2) dan (3) hingga akhirnya menemukan jawaban untuk (1). Saya sepakat kepada guru Aristoteles, yang menyebutkan memang lebih baik property (sumber daya ekonomi) itu dimiliki secara privat. Karena menurut guru Aristoteles, ketika property itu dimiliki secara umum, maka hal tersebut akan menyebabkan tidak akan ada yang mau merawat property tersebut, dengan anggapan “ah, nanti juga ada yang merawat”, bayangkan antara kamar mandi pribadi dengan kamar mandi umum? Bayangkan bagaimana kondisi buku diperpustakaan dengan buku pribadi? Bagaimana kondisi kendaraan umum dengan kendaraan pribadi? Mana yang lebih terawat? Secara umum milik pribadi akan lebih terawat, karena sense of belonging yang tinggi menyebabkan responsibility yang tinggi. Selain itu jika properti dimiliki secara umum/common maka akan kecil sekali bergulirnya incentives atau pendapatan dari hasil sewa atau penjualan, sedikitnya insentif berarti akan sedikitnya investasi, yang berarti pula sedikitnya lapangan kerja, minimnya pendapatan, lesunya perekonomian. Akan tetapi “the special business” itu diciptakan oleh pemerintah untuk dikelola oleh seseorang untuk kepentingan bersama, dengan mekanisme bersama. Jika setiap orang sudah mengerti milik pribadi dan milik umum maka secara tidak langsung orang harus belajar untuk mengetahui etik/etika pergaulan ekonomi yang baik. Tidak benar merebut secara paksa yang bukan miliknya, tidak benar mengambil sesuatu yang bukan hak-nya. Dengan demikian perasaan etik yang muncul ini menghidupkan hubungan transaksional yang berkesadaran, maka tidak akan ada cerita siapa ingin menguasai siapa, karena pada setiap individu itu ada hak yang harus dipenuhi, dan hak-hak tersebut harus dibicarakan dulu diawal sebelum memulai sebuah hubungan ekonomi, segala kondisi diutarakan secara transparan, sehingga tidak ada miss persepsi, yang ada adalah perasaan saling “freely accept”. Abdurahman bin Auf, salah seorang sahabat nabi pernah mempraktekanya. Ketika pertama kali berhijrah, Abdurahman dalam kondisi jatuh miskin, ada seorang sahabat nabi yang lain yang menawarkan hartanya dan istrinya kepada Abdurahman, tetapi apa jawabnya? Abdurahman malah menolak dengan halus, dengan cara didoakan sahabatnya yang bernama Sa’ad agar kebaikannya diberi balasan, dan dia lebih memilih ditunjukkan jalan kepasar, dan ingin berdagang. Bisa jadi Abdurahman bin Auf sangat menghargai hak-hak ataupun properti ataupun sumber daya ekonomi ataupun kekayaan pribadi sahabatnya Sa’ad, Abdurahman tahu itu semua adalah hasil kerja kerasa Sa’ad, dan dia tidak ingin menjadi lemah karena mendapatkan sesuatu dengan mudah, sehingga khawatir tidak dapat dengan sungguh-sungguh menjaganya, yang pada akhirnya mengecewakan sahabatnya tersebut. Dan dalam persahabatan itu kendati Sa’ad sebelumnya amat kaya dan Abdurahman tidak, tidak ada kesenjangan karena apa? Karena Sa’ad mau melihat kebawah, dan melakukan mentoring, sedangkan Abdurahman sendiri berusaha mencari kemandiriannya, tanpa perasaan minder ataupun ingin mengalahkan. Semua ini masalah nilai etik, ataupun nilai moral. Konsep Bekerja & Membangun Maka, jika boleh saya peras semua konsep diatas, dengan meminjam istilah dari seseorang yang sangat saya kagumi, kesetaraan akan dicapai dan kesenjangan akan terhindari jika setiap manusia punya kesadaran berkeTuhanan, dan memiliki nilai moral/etik b e k e r j a dan m e m b a n g u n. Mengapa? Karena omong kosong dia mengaku orang baik jika dia mati-matian “bekerja” tapi tidak untuk “membangun”. Dan omongkosong jika seseorang berjanji atau mengatakan hidupnya untuk “membangun” tapi dia tidak “bekerja”. Lebih omong kosong lagi jika orang mengaku baik tanpa “bekerja” dan tanpa “membangun”, saya tidak sebut anda peminta tapi anda perampok. Karena anda merampok kebaikan Tuhan, yang masih memberikan anda segala potensi untuk mengembangkan akal dan pikiran untuk bisa berdaya dan upaya. Maka ini rumusan saya, mari kita mencapai kesejahteraan ekonomi dengan bersama “bekerja” sehingga dengan bersama bisa “membangun”, atau kita mari bersama-sama “membangun” dengan bersama-sama kita “bekerja”. Sekalilagi, rumus yang saya tawarkan adalah b e k e r j a & m e m b a n g u n, sebuah nilai etik yang harus ditanamkan sehingga menjadi sebuah kesadaran, bahkan menjadi aksi luhur dibawah alam sadar kita. Partisipasi pembangunan holistik Sebuah pertanyaan besar apa yang hendak kita bangun? Akan saya simpan pertanyaan itu untuk lembar berikutnya. Tapi saya sekarang akan memberikan gambaran yang akan bisa diterima oleh semua umat beragama tentang bagaimana perilaku umat manusia itu sesungguhnya amatlah destruktif dalam sebuah pembangunan. Sebuah teori yang saya namakan “PARADOKS UMAT MUSA”. Ingatkah anda penganut Yahudi, Nasrani, dan Islam bahwa telah disepakati Musa/Moses memperjuangkan umat yang ketika itu sebut saja bani israil, berada dalam kondisi perbudakan yang parah yang dilakukan oleh Fir’aun, Raja Mesir. Setiap bayi laki-laki dibunuh, dan setiap laki-laki diperbudak tanpa ampun. Ketika Musa menantang Fir’aun dan bermaksud membawa bani israil itu, Fir’aun mengancam dan dengan sombong menantang kemampuan Musa, hingga akhirnya mukjizat demi mukjizat membuktikan, dan membuat sebagian besar dari mereka beriman kepada Tauhid yang diimani Musa. Bahkan niat buruk Fir’aun dan bala tentaranya ingin membunuh Musa dan pengikutnya, berhenti ketika tiba-tiba laut merah yang dibelah Musa atas ijin Allah, menutup ketika pasukan Fir’aun melewatinya. Sesampainya dinegeri seberang, apa yang terjadi? Umat Musa melihat para penyembah berhala, dan meminta Musa membuatkan berhala yang lebih baik dari itu kepada Musa. Musa berkata,”Kalian amatlah bodoh, apakah tidak cukup Allah sebagai Tuhanmu?!” Inilah yang terjadi pada sebagian besar masyarakat kita, paradoks. Antitesa, ketika setiap niat baik itu sudah digariskan, sering terjadi pembiasan dengan dalih kesenangan-kesenangan yang tidak bersandar pada nilai-nilai yang seharusnya. Untuk itu sebelum saya uraikan kedepan mengenai apa yang harus kita bangun, penyakit “Paradoks Umat Musa” ini harus kita pahami dulu, dan harus kita kikis sehabis-habisnya. Jangan sampai kita menjadi umat yang mengemis-ngemis kepada Musa untuk dikeluarkan dari perbudakan dan menyatakan beriman, tetapi karena senang dengan apa yang kamu lihat, merasa aman, merasa semuanya cukup, lalu sombong dan ingkar, dan lari dari jalan-jalan yang telah disepakati dan diimani. Pemuda adalah kunci Revolusi Kita akan membangun Ekonomi, kita akan membangun Negeri, untuk masa depan. Maka tidak akan saya jelaskan mengapa pemuda menjadi kunci revolusi, bayangkan saja jika berbicara masadepan tapi pelakunya adalah orang-orang yang sudah dipenghujung masa? Berapa lama dia bisa menemani mewujudkan masa depan, tapi tidak menutup kemungkinan. Tapi logika sederhananya demikian. Jika anda ingin tanaman yang tumbuh subur berbuah manis dan lezat, maka tanamlah bibit-bibit yang baik, dan rawatlah bibit-bibit itu. Maka, dalam Indonesia yang merdeka yang ingin merasakan ke-merdekaan-nya yang menyeluruh, tanamlah para Pemuda dan pupuklah dengan semangat revolusi, semangat revolusi: Bekerja dan Membangun. [berlanjut....]