Dibalik dinding sebuah lobi hotel
Sebuah esai tentang sosial-ekonomi
Ruangan dengan konsep yang nyaman, duduk dengan beberapa majalah dan surat kabar. Persis dihadapan sebuah lift yang tiap menit pada jam menjelang cek-out sering orang berlalu lalang. Disebelah kanan ruangan berdinding kaca dengan sedikit konsep wooden-touching, indoor dan outdoor yang menyediakan aneka tea and coffee bagi mereka yang berkepentingan nongkrong . Disebelah kiri ada pintu masuk utama dan didepannya adalah meja resepsionis dan customer services, dilengkapi dengan komputer dan handy-talkie.
[diiiiing] sebuah bunyi bersamaan dengan terbukanya pintu lift, adalah beberapa teman (yang sebut saja) seniman, menyapa memecah kesepian, berkumpul bercengkrama khas layaknya saudara yang seakan-akan mati pada tempat, hari, tanggal dan pukul yang sama. [diiiiing] berikutnya ada seorang gadis berambut panjang diurai menutupi dadanya, dengan kepala menunduk meng-utak-atik hape, dibelakangnya seorang pria yang secara lamat-lamat memandangi pahanya yang memang ketika itu hanya menggunakan hotpants. Selasar terawang ruang kaca disebelah kanan, ada sekumpulan orang mengelilingi meja, satu yang berbaju merah berbicara keras pada yang lainnya, menyebut kata-kata samar “harus dibereskan”, “kita main halus”, “kalian bisa kerja tidak”.
Security officer dengan sigap selalu tersenyum dan menyambut setiap orang yang datang,”selamat pagi pak ada yang bisa dibantu?” standar. Berikutnya dari dalam ada langkah cepat yang segera melewati pintu utama tanpa basa-basi, menghampiri mobil yang baru saja parkir, dengan sigap menyelorohkan amplop tebal berwarna cokelat diselipan dalam jaket kulit seorang pria tambun yang keluar dari mobil tersebut. Tepat disebelah kiri dihadapan security officer, meja resepsionis tampak seperti selalu sibuk, ada yang sekedar tanya harga kamar, ada yang reserve, ada yang cek-in, ada yang cek-out, tunai, debit, credit, tampak sibuk. Sedangkan gadis tadi menunggu (sebut saja lelakinya) sambil menyilangkan kaki dan mengibas-ibaskan rambutnya yang memang sedari tadi basah. Jangan tanya mengapa rambutnya bisa basah? Berselang berganti ada gerombolan berpeci, berjilbab, menggunakan seragam yang tampak serasi bersamaan menenteng koper, akan melanjutkan perjalanan ke bandara sebagai jamaah umrah. Kembali selasar pandangan kesebelah kanan makin banyak muda-mudi meneguk kopi sembari menikmati fasilitas wi-fi.
Satu wadah dengan banyak kisah
Ekonomi. Dalam bahasa Yunani keahlian mengurus (nemein) rumahtangga (oikos) secara bijaksana dan teratur disebut oikonomia (Ensiklopedia Populer Politik Pembangunan Pancasila; 1965). Maka dalam pengertian rumahtangga ini bisa berarti menjadi sangat luas, bisa rumahtangga individu, bisa rumahtangga sebuah organisasi atau perusahaan, bisa rumah tangga daerah, provinsi, negara selanjutnya regional bahkan rumahtangga global atau dunia. Berada semua kegiatan kerumahtanggaan dalam wadahnya ekonomi. Dalam sebuah rumahtangga akan ada banyak individu didalamnya yang memiliki peran masing-masing yang berbeda, karena berbeda peran maka berbeda pula keunggulan dan keahliannya. Dalam rumahtangga ekonomi ada yang berperan sebagai pendominasi, pemilik kapital besar yang berorientasi menggemukkan kapitalnya agar semakin kuat pengaruhnya dan cengkramannya kepada rumahtangga lain. Ada yang berperan sebagai juruadil ekonomi, mengupayakan agar setiap rumahtangga mendapatkan hak-haknya sesuai dengan semestinya tanpa ada yang mendominasi. Ada yang berperan sebagai ekonom tertindas, men-support ekonomi besar akan tetapi tidak secara fair menerima apa yang seharusnya mereka terima.
Sama seperti sebuah kisah didalam lobi hotel tadi, satu lobi hotel dengan banyak kepentingan. Satu agenda ekonomi bisa berbunyi banyak sekali kepentingan. Ada yang berkepentingan dalam sarana beribadah, ada yang berkepentingan berkumpul, ada yang berkepentingan nafsu, angkara, dan keculasan-keculasan, ada yang berkepentingan persaudaraan dan pertemanan, banyak kisah dalam ekonomi kita. Kisah besar ekonomi itu bisa dikerucutkan menjadi 3 kisah besar: 1) kisah kiri sosialis; 2) kisah kanan liberalis & kapitalis; 3) kisah ekonomi idealis, jalan lurus (bukan kiri dan bukan kanan).
Apakah ekonomi sebuah hal yang penting?
Alasan apa kita dijajah? Alasan apa mereka disana sejahtera? Alasan apa kamu bisa merasakan hidup enak? Alasan apa kini kamu bingung mau makan, sekolah, bersosialisasi, mau nikah mungkin, yang membuat hidupmu galau atau selalu terjadi kontradiksi didalam hatimu? Dari berbagai alasan yang mungkin anda sebutkan, akan terselip sebuah alasan yang mungkin akan selalu muncul, yaitu alasan Ekonomi. Melihat beberapa tahun mundur kebelakang, kita selalu teringat kisah-kisah perjuangan yang diceritakan oleh guru dan orang tua kita dengan semangatnya, apakah kita pernah berfikir alasan apa kita dijajah? Ekonomi.
Membahas penjajahan tidak terlepas dari kata imperialisme, dan didalam sebuah imperialisme tidak akan terlepas dari kata kapitalisme. Imperialisme menurut Ir. Soekarno adalah suatu nafsu, suatu sistem menguasai atau mempengaruhi ekonomi bangsa lain atau negeri lain. Suatu sistem merajai dan mengendalikan ekonomi suatu negara atau suatu bangsa (Indonesia Menggugat, 1930). Imperialisme tua VOC di abad 17 dan 18 dan Imperialisme modern Belanda di abad ke 19 dan 20 telah mengakibatban Indonesia menjadi jajahan Belanda selama beberapa abad. Akibat penjajahan ini rakyat Indonesia menjadi mundur disegala lapangan penghidupan. Baik dibidang ekonomi, maupun kebudayaan (45 tahun sumpah pemuda, 1974).
Nafsu menguasai ekonomi, dengan cara berdagang atau bertransaksi ekonomi dengan paksaan dan kekerasan inilah yang dinamakan penjajahan, Imperialisme. Muara dari semua kegiatan imperialisme adalah adanya kapitalisme, yaitu sistem pergaulan hidup yang timbul dari cara produksi yang memisahkan kaum buruh dari alat-alat produksi (Soekarno, 1930). Maksudnya disini adalah, ketika alat- alat produksi itu dinilai sebagai sebuah aset, dilakukan perawatan, divaluasi nilai penyusutan setiap bulan sebagai biaya yang harus dibebankan atas sebuah pemakaian dalam sebuah proses produksi, maka kapitalisme yang dimaksud adalah memisahkan buruh dari proses itu. Buruh dinilai sebagai faktor non-ekonomi yang tidak dinilai, padahal buruh adalah lebih dari faktor ekonomi, buruh adalah mitra, nyawa dari setiap proses, sehingga harusnya letaknya adalah diatas setinggi-tingginya, bahkan dibawah Tuhan bahasa kasarnya. Sehingga harapan Ir. Soekarno mengatakan demikian itu adalah agar nilai lebih bukan hanya milik majikan, tetapi milik semua pelaksana. Kapitalisme tidak dapat diterima karena menyebabkan akumulasi kapital, konsentrasi kapital, dan sentralisasi kapital (Indonesia Menggugat,1930).
Mr. Pieter Jelles Troelstra menyebutkan bertambah cepatnya bank-bank besar tumbuh, kapitalnya makin besar, aliran modal terpaksa harus keluar, kenegara-negara yang belum maju ekonominya dan miskin akan modal. Celakanya, modal ini digulirkan kepada onderneming-onderneming dinegeri yang terbelakang ekonominya dikarenakan, tenaga murah, bunga, dan keuntungan tidak dibatasi oleh
perundang-undangan. Dilanjutkan oleh H.N Brailsford pada zaman sekarang yang dinamakan kekayaan itu ialah pertama-tama kesempatan menanamkan modal dengan untung yang luar biasa. Imperialisme adalah semata-mata penglahiran politik dari kecenderungan yang bertambah besar dari modal, yang bertimbun-timbun di negeri yang lebih maju industrinya, kepada negeri-negeri yang kurang maju dan kurang penduduk (Indonesia Menggugat, 1930)
Kata kunci adalah proses ekonomi, ekonomi adalah menjadi pintu awal lahirnya penjajahan. Masalahnya ketika tujuan adalah sebesar-besarnya keuntungan, maka yang akan terjadi adalah sumber-sumber daya produksi ataupun ekonomi akan diupayakan dengan nilai seminimal mungkin, akhirnya apakah yang muncul ketika itu adalah, proses tanam paksa, proses perbudakan dengan paksaan tanpa upah, hal ini dilakukan karena apa? Karena para kapitalis menginginkan kapitalnya semakin besar, semakin dapat mendominasi (monopoli), semakin bisa untuk ekspansi dan semakin kuat cakar-cakar imperialismenya ditancapkan didalam dunia. Logika Kompeni yang diuraikan oleh Ir. Soekarno adalah, kompeni atau VOC melakukan kerjasama dagang dengan raja-raja daerah, dimana kompeni menjadi mitra dan menjamin hegemoni kerajaan-kerajaan nusantara tetapi dengan cara diijinkan berdagang di Nusantara, kompeni memberikan kompensasi dan raja-raja juga dibebani kewajiban, dimana kewajiban itu didistribusikan kepada rakyat. Rakyat dipaksa menanggung sesuatu akibat dari sebuah kebijakan, untuk kepentingan perusahaan dagang, bukan kepentingan rakyat. Lalu dalih aturan dan dalih agama digunakan untuk menekan mereka melakukan segala pekerjaan itu, hal dan cara-cara tersebut ditempuh untuk bersaing dengan kapital-kapital lain yang besar di Eropa, sistem pajak yang tidak berimbang, upeti dan sosial cost yang lain ditambah dengan kompensasi atau upah, atau harga-harga akibat monopoli yang akhirnya tidak bisa menutup segala proses produksi, akhirnya untuk memutar roda ekonomi rakyat, rakyat terpaksa berhutang, dan dari hutang inilah muncul berbagai macam penindasan.
Kesenjangan adalah sumber penyakit
Mengulangi apa yang dikatakan oleh guru Brailsford, Imperialisme adalah semata-mata penglahiran politik dari kecenderungan yang bertambah besar dari modal. Maka, secara alamiah setiap orang yang kaya dan mencintai kekayaannya, maka mereka akan berusaha sekuat tenaga semakin kaya, dan semakin mendominasi, dengan menguasai satu sama lain, jika tidak ada nilai etis maka yang terjadi adalah pemaksaan kehendak, penindasan, yang disebabkan karena yang lain tidak mampu mengimbangi atau dengan kata lain adalah telah terjadi kesenjangan.
Dalam sebuah teori yang sangat terkenal A Theory Of Human Motivation, Abraham Maslow menyusun sebuah hierarchy of needs, dimana dalam hipotesisnya pada tahun 1943 yang dimuat dalam papernya beliau mengatakan bahwa motivasi muncul dari kebutuhan (needs). Sehingga setiap orang yang merasa memiliki kebutuhan maka dalam dirinya akan muncul motivasi. Dimana kebutuhan itu pada setiap diri manusia dijelaskan oleh guru Maslow bertingkat bagai sebuah hirarki, dimana ketika kebutuhan pada tingkat dasar sudah terpenuhi maka manusia akan termotivasi atau terdorong untuk melakukan sesuatu hingga sampai pada pemenuhan kebutuhan yang tertinggi.
Hirarki guru Maslow mengawali human needs dari [Kebutuhan Fisik] – [Kebutuhan akan rasa aman] – [Kebutuhan akan rasa cinta dan rasa memiliki] – [Kebutuhan akan rasa diterima dan dihargai] – [Kebutuhan akan aktualisasi (jika dia bisa, saya bisa lebih!)].
Jelas dalam struktur hirarki kebutuhan menurut guru Maslow, dimana hirarki kebutuhan itulah yang ingin dicapai setiap manusia sehingga manusia ter-drive untuk termotivasi, maka seseorang/badan akan memenuhi dulu kebutuhan
fisiknya (ex: cukup sandang pangan), lalu mencari rasa aman (ex: papan, asuransi kesehatan, asuransi keuangan), kemudian termotivasi untuk hidup dalam lingkup sosialisasi, dicintai dan punya perasaan memiliki (ex: membentuk keluarga, gank,dsb), kemudian dia ingin merasa diterima dan dihargai (ex: berorganisasi dan menjabat posisi strategis, baik di perusahaan atau lembaga sosial), pada tahap akhir menurut guru Maslow seseorang/badan akan menunjukkan bahwa dia harus lebih dihargai dan diterima karena dia melakukan lebih dari yang dapat dilakukan oleh orang lain (ex: setelah manajer cabang, menjadi manajer area, menjadi general manajer, dsb).
Secara sederhana konsep guru Maslow menjelaskan, mengapa manusia/seseorang/badan termotivasi untuk melakukan sesuatu? karena ada sebuah kebutuhan yang harus dipenuhi, dan motivasi itu akan terus berlanjut karena hakikatnya menurut guru Maslow kebutuhan itu bagai sebuah hirarki, jika telah dicapai dasarnya, dia akan menuju tingkat selanjutnya hingga puncak.
Materialism-Looked Up vs Spiritualism-Looked Down
Ada dua perspektif yang saya ajukan dalam menilai hipotesa dari guru Maslow, materialism-looked up atau spiritualism-looked down. Anda tidak akan menemukan istilah-istilah terakhir dalam buku literatur manapun ataupun search engine internet manapun, karena dua istilah itu adalah istilah-istilah yang saya buat-buat sendiri. Didalam istilah saya manusia terdiri dari (1)benda-kasar dan (2)benda-halus, pun dengan organisasi, organisasi adalah kumpulan manusia sehingga tumbuh kembang organisasi pun itu tergantung benda-kasar dan benda-halus.
Simple explanation, hampir semua orang pernah mengalami fenomena jatuh cinta, anda berada dalam sebuah kondisi sedang berdua, berpegangan tangan. Tangan anda bersentuhan adalah sebagai aksi
benda-kasar, lalu disekujur tubuh aliran darah berdesir, hormon-hormon aktif, lalu menimbulkan suasana dalam relung hati yang berdebar, sejuk, nyaman luar biasa. Apa yang anda rasakan terakhir itulah reaksi benda-halus. Lalu sebaliknya, tiba-tiba dalam suatu kondisi tertentu ada sebuah sesak didada yang anda namakan kangen atau rindu (aksi benda-halus) memicu keinginan anda untuk meraih telpon selular lalu mengirimkan pesan singkat lewat jemari anda kepada yang tersayang, aktifitas anda meraih telpon selular dan lewat jemari tangan anda mengirimkan pesan itu adalah reaksi benda-kasar dalam diri anda. Sehingga aksi benda-kasar bisa mempengaruhi reaksi benda-halus, begitu juga sebaliknya aksi benda-halus bisa mempengaruhi reaksi benda-kasar. Benda-halus dalam diri manusia saya dekatkan dengan aktifitas spiritual, benda-kasar dalam diri manusia saya dekatkan dengan aktifitas material.
Materialism-looked up adalah cara pandang terhadap sesuatu, dimana penilaian dan pengambilan keputusan itu didasarkan pada faktor materiil/kebendaan semata, dan condong selalu mendongak keatas dalam pencapaian tujuan. Jadi dalam perspektif ini saya hendak berbicara bahwa hirarki kebutuhan guru Maslow, memaksa seseorang untuk selalu mendongak keatas dalam segala pencapaiannya. Seseorang dalam perspektif saya ini, memiliki perilaku agresif dan kebanggaan terhadap pencapaian dirinya sangat tinggi. Dalam setiap step pencapaian hirarki kebutuhannya, seseorang terus terpacu/termotivasi untuk bisa lebih berdaya, lebih mampu, lebih terlibat, lebih dikenal, dan lebih diakui kemampuannya oleh orang-orang lain disekitarnya bahkan lebih luas dan lebih luas lagi.
Sebagai contoh, seorang karyawan berusaha hidup dengan gaji bulanan, lalu dia bisa menyisihkan gaji bulanannya untuk tabungan/asuransi, berusaha menunjukkan kinerja terbaik pada owner/pimpinan, kemudian dia terpacu untuk berprestasi dan naik promosi, sampai dia berada pada posisi top-level management, ilustrasi disamping adalah gambaran bagaimana kebendaan mempengaruhi pengambilan keputusan seseorang untuk meraih sebuah pencapaian tertinggi. Sukses yang dimaksud adalah tentang berapa besarnya uang hingga mempengaruhi loyalitas dan rasa memiliki dalam perusahaan dan pengakuan dari seluruh orang didalam perusahaan tersebut, ini merupakan contoh bagaimana semua manajer SDM men-drive seluruh jajarannya agar termotivasi untuk berprestasi.
Spiritualism-looked down membawa sebuah pertanyaan besar, ketika seseorang sudah berhasil memenuhi tingkatan tertinggi dalam hirarki kebutuhan guru Maslow, lalu apa lagi kebutuhan yang harus dia penuhi agar tetap termotivasi? (1). Andaikata pun setiap orang termotivasi karena pada ujungnya untuk memenuhi kebutuhan pengakuan dan aktualisasi diri, maka pada akhirnya setiap orang ingin diakui keberadaannya, masing-masing orang ingin diakui kemampuannya dan kehebatannya, maka secara individual tidak mungkin orang akan mengapresiasi kehebatan orang lain, karena yang ada itu hanya akan membuat dia termotivasi untuk lebih diakui, lebih dan lebih. Menjadi pertanyaan, jadi sesungguhnya apakah diakui oleh orang lain itu adalah sebuah pencapaian tertinggi? Padahal jika anda mau jujur pada dasarnya mereka tidak benar-benar mengakui anda, tetapi mereka pun akan meminta dan memaksa anda untuk mengakui mereka (2).
Hipotesa saya, inilah yang menyebabkan mengapa dalam pola komunikasi dan interaksi antar individu/badan/organisasi setiap orang berlomba-lomba untuk menjadi kaum tingkat atas. Sebagai contoh, seorang pengusaha omset 5 Milyar akan berusaha dekat dengan pengusaha omset 100 Milyar dengan harapan diajak kerjasama, dan bisa menyamai omsetnya, lalu berusaha dekat dengan pejabat- pejabat negara, agar proyek, keamanan usaha terjaga agar dia diakui kehebatan bisnisnya lalu menjadi orang dengan golongan omset 1 Trilyiun. Motivasi individu atau badan yang seperti ini hanya akan menjadi ajang perlombaan kaum bordjuis, menjadi semu dan pemicu utama kesenjangan, pintu awal dari ketidak-teraturan dan ketidak-rukunan dalam interaksi sosial. Cara termotivasi seperti ini adalah cara yang menurut perspektif saya perlu disempurnakan, materialism-looked up tidak bisa ditolak sepenuhnya tapi harus disempurnakan.
Spiritualism-looked down adalah cara pandang sesuatu, dimana penilaian dan pengambilan keputusan itu didasarkan pada faktor materiil dan imateriil, dan selalu condong menoleh kebawah dalam pencapaian tujuannya. Dimana kesuksesan yang ingin dicapai bukan semata-mata menekan (push) kesuksesan pribadi individu/badan akan tetapi kesuksesan yang ingin dicapai adalah menarik (pull) kesuksesan kawan-kawan yang masih berada di hirarki kebutuhan guru Maslow tingkat bawah, mencapai titik lebih tinggi, hingga pada akhirnya setara.
Mengapa spiritualism-looked down bisa bekerja secara demikian, bukankah semakin besar akan semakin diakui? jika ujung akhirnya adalah kesetaraan lalu akhirnya siapa yang harus diakui? Bagaimana bisa kesetaraan bisa memunculkan pengakuan?. Menjawab pertanyan (1) dan (2) pada paragraf sebelumnya, pada dasarnya bagi saya manusia/individu satu dengan manusia/individu yang lainnya itu adalah saya analogikan murid sama murid, pekerja sama pekerja, buruh sama buruh, lalu coba kita logika, apa guna kita mencari pengakuan antar sesama murid meskipun murid itu lebih pandai? Apa dia akan memberi rapor nilai kita lebih baik? Lalu apa guna kita beraktualisasi diri dan ingin pengakuan sesama buruh? Apa buruh tersebut akan menaikkan gaji kita? Lalu harusnya kepada siapa kita meminta pengakuan, siapa sebenarnya guru kita yang berhak menilai kita, siapa sebenarnya majikan kita yang berhak menilai hasil kinerja kita?
Filsafat Sistem Ekonomi
Memahami konsep dari sebuah sitem ekonomi, tidak dapat tidak, orang harus mengetahui komponen – komponen yang telah membentuk sistemik nilai sistem ekonomi itu sendiri. Menurut Ahmad M. Saefuddin ada “tiga komponen penting yang menyusun eksistensinya suatu sistem ekonomi yaitu (1) filsafat sistem; (2) nilai dasar sistem, dan (3) nilai instrumental sistem” (Abbas, Anwar; 2010)
Maka secara umum apa filsafat sistem yang paling layak untuk kita gunakan? Bung Hatta yang dikenal sebagai bapak koperasi yang secara tidak langsung juga bapak ekonomi menempatkan sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai fundamen moral perilaku kita. Sebagai umat yang mayoritas beragama kita tidak mungkin menolak konsep bahwa kita ini ciptaan Tuhan, maka hidup kita harus sesuai dengan tujuan penciptaan tersebut. Termasuk dalam berekonomi.
Manusia : Hindu, Nasrani, dan Islam
Banyak agama dan aliran kepercayaan, tapi ketiga agama ini mungkin merupakan poros agama yang ada di Indonesia, sebelum terjadi turunan-turunan agama lain ataupun aliran kepercayaan lain. Dalam konsepsi ajaran Hindu, yang saya peroleh dari penuturan subyek penganut agama tersebut, manusia dalam kehidupannya sebelum menuju nirvana harus menjalankan 3 misi : Pahyangan, Pawongan, dan Palemahan. Menurut guru ajar Hindu, Sang Hyang Widhi menghendaki manusia dalam hidupnya harus menjalankan 3 misi tersebut. Pertama, Pahyangan adalah sebuah misi dimana manusia harus menjaga hubungan baik dengan pencipta, dalam hal ini beribadah kepada Tuhan. Kedua, Pawongan adalah sebuah misi dimana manusia harus dalam kehidupannya menjaga hubungan baik dengan sesama manusia (bahasa jawa: wong = manusia), Ketiga, Palemahan adalah sebuah misi dimana manusia dalam kehidupannya harus menjaga alam sekitarnya (bahasa jawa: lemah = tanah). Sehingga jika saya kembalikan kepada pertanyaan awal kita, dalam konsepsi agama Hindu manusia memiliki kewajiban dalam hidupnya untuk menjaga hubungan baik dengan Tuhan, Manusia lain, Makhluk lain dan Alam sekitar.
Dalam Al-Kitab: perjanjian lama (Kejadian 1;26-29)
Berfirmanlah Allah:”Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan dilaut dan burung-burung diudara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap dibumi (26).” Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia;laki- laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka (27). Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranak cuculah dan bertambah banyak; penuhilah dan taklukkanlah itu; berkuasalah atas ikan-ikan dilaut dan burung-burung diudara dan atas segala binatang yang merayap di bumi (28).” Berfirmanlah Allah: “Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh- tumbuhan yang berbiji diseluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu (29).”
Matius, 5: 43-48
Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu (43). Tetapi aku berkata kepadamu: Kasihilah musuh-musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu (44). Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang benar dan tidak benar (45). Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai pun juga berbuat demikian? (46). Dan apabila kamu memberi salam hanya kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian?(47). Karena itu kamu haruslah sempurna, sama seperti Bapamu yang disorga adalah sempurna (48).
Dalam Al-Quran
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka itu menyembah Aku. (Adz- Dzaariyat: 56)
Ingatlah, ketika Tuhanmu berfiman kepada Malaikat: “Sesungguhnya Aku akan mengangkat Adam (manusia) menjadi khalifah*) dimuka bumi. Para malaikat bertanya: “Mengapa Engkau hendak menempatkan dipermukaan bumi orang yang akan membuat bencana dan menumpahkan darah, sedang kami senantiasa bertasbih memuji dan menyucikan-Mu?” Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa-apa yang tidak kamu ketahui”.(Al-Baqarah: 30).
*) Perkataan Khalifah adalah penghubung atau pemimpin yang diserahi untuk menyampaikan atau memimpin sesuatu (Bachtiar Surin, 1978).
Mengapa dia tidak berjihad untuk menempuh jalan pendakian itu?*) (11). Sejauh mana pengetahuanmu tentang menempuh jalan pendakian itu*) (12). Kesatu, ialah membasmi perbudakan (13). Kedua, memberi makan pada musim kelaparan atau paceklik (14). Kepada yatim piatu dari sanak kerabat (15). Ketiga, memberi makan orang miskin yang “sudah makan tanah”**) (16). Lalu orang yang menempuh jalan pendakian itu hendaklah ia beriman, dan saling berpesan untuk bersabar, dan saling berpesan untuk berkasih sayang (17). (Al-Balad: 11-17)
*) Suatu masyarakat pasti menginginkan masyarakat yang adil dan makmur yang diridhai Allah. Sedangkan masyarakat seperti itu adalah digambarkan seperti berada dipuncak gunung yang tinggi. Untuk sampai kesana orang harus menempuh jalan pendakian yang amat terjal, penuh onak dan duri, banyak halangan dan rintangan. Berusaha sekuat tenaga utuk menempuh jalan pendakian guna mendapatkan “masyarakat yang adil dan makmur yang diridhai Allah SWT” itu termasuk perjuangan. (Bachtiar Surin, 1978)
**) Orang-orang yang sengsara yang tidak dapat berusaha lagi, baik karena lemah maupun karena cacat, disebut”sudah makan tanah”. (Bactiar Surin, 1978)
Ekonomi Pancasila: Sebuah Ekonomi ber-Ketuhanan
Indonesia adalah bangsa ber-Ketuhanan yang sangat majemuk, maka jika ditarik garis lurus tujuan dari semua peri-kehidupan kita adalah untuk menciptakan persatuan, peri-kemanusian, demokrasi dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Tengoklah amanat UUD 1945 dalam bagian akhir pembukaan “... dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial...” kemudian kita tengok pula pasal 33 UUD 1945 yang berbunyi: “...(1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar asas kekeluargaan, (2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara, (3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar- besar kemakmuran rakyat”. Maka, Pancasila dan UUD 1945 sebenarnya adalah disusun dengan spirit Ketuhanan dan kesetaraan sesama manusia, sehingga kita harus melihat secara umum apa yang Tuhan mau dari perekonomian kita.
Bagaimana bisa Tuhan mempengaruhi perekonomian kita, lewat apa Tuhan melakukan peran-peran ekonomi, apakah Tuhan ikut berdagang, masuk pasar, menetapkan harga? Tidak. Tapi Tuhan punya “role of the game”, punya rel-rel nya perekonomian lewat firmannya yang tertuang disetiap kitab suci tiap- tiap agama. Baik didalam Al-Kitab ataupun Al-quran sering kita menemui redaksi yang mungkin serupa seperti “Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada dilangit dan dibumi” atau “Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada diantaranya”, sehingga konsep ekonomi kita yang pertama kali harus kita sepakati adalah 1) Segala macam Kapital adalah milik Tuhan Yang Maha Esa.
Kendati demikian Tuhan tidak mungkin melakukan intervensi langsung, kita sebagai (dalam bahasa saya) Khalifah diberikan kewenangan untuk mengelola kapital tersebut. Dalam konsep ekonomi, ekonomi akan berputar jika kapital itu bergulir dalam sektor-sektor ekonomi, sebagai contoh orang berpendapatan digunakan membeli barang, barang diciptakan oleh produsen, produsen memperkerjakan orang, orang berpenghasilan membeli barang, dan seterusnya. Seperti firman Allah dalam surat At-Taubah 34:”........ dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak, dan tidak menafkahkannya dijalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka siksa yang pedih” menyambung seperti yang dikatakan dalam Al-Kitab, lebih mudah keledai masuk lubang jarum daripada orang kaya yang tidak menafkahkan hartanya masuk surga. Maka aturan 2) Kapital harus digulirkan, bukan dikapitalisasi.
Pasti akan muncul pertanyaan bahwa, berarti Tuhan menghendaki kita untuk malas dan menunggu orang-orang yang kaya menafkahi kita? Sebuah kesalahan fatal dan bagi saya berarti jika ada yang merasa demikian, dia sudah menjadi manusia yang lupa fungsi dia diciptakan. Kita sebagai wakil dan pengatur, artinya kita itu harus berusaha menjadi Subjek pengelola bukan Objek yang dikelola, dalam rentang berapapun atau sekecil apapun. Bukannya Tuhan tidak menghargai hasil kerja keras kita, tetapi Allah menghendaki itu digulirkan untuk memberdayakan, dan bukan meniadakan hak-hak atau kepemilikan privat seperti sistem sosialis, dimana semuanya apapun untuk bersama, tidak. Ekonomi tidak akan berjalan jika seperti itu. Bahkan Tuhan sangat menghargai hak privat dimana seperti disebut dalam QS. Al-Maa’idah: 38 “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangannya sebagai pembalasan dari yang mereka kerjakan.....” sebegitunya Tuhan menghormati hak privat, maka peraturan ke- 3) Bekerjalah dengan cara yang patut.
Pembangunan Ekonomi Indonesia
Dawam Rahardjo dalam esai politik ekonomi yang diberi judul Pembangunan Pascamodernis menyatakan bahwa, ada tiga pola negara dalam kaitannya dengan pembangunan, yaitu negara aktif (active state), negara liberal (liberal state), dan negara republik (republican state). Pola pertama, negara banyak melakukan regulasi, intervensi, dan perencanaan. Pola kedua memberikan kebebasan kepada masyarakat dengan meminimalkan peranan negara. Pola ketiga mengarahkan fungsi negara kepada pelayanan publik yang efisien.
Indonesia sudah berpengalaman dengan dua pola yang pertama, tetapi banyak menimbulkan masalah. Pola pertama menimbulkan ketergantungan rakyat kepada negara. Pola kedua mendorong anarki ekonomi. Dengan begitu yang perlu dicoba adalah pola ketiga, dengan catatan pelayanan publik tidak hanya dilakukan oleh negara, tapi juga oleh warga masyarakat dan perusahaan-perusahaan melalui prinsip tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility) (Rahardjo, Dawam;2012).
Pembangunan Indonesia sampai saat ini masih ditunjang oleh pinjaman dan modal asing. Tanpa perlu kita katakan jumlahnya, itu artinya pembangunan kita adalah pembangunan yang berketergantungan. Harapannya ketika kita melakukan pinjaman asing, diharapkan dana segar tersebut bisa kita gunakan untuk membangun infrastruktur, menstimulasi ekonomi sehingga kemudian kita bisa mendapat hasil yang pada akhirnya cukup untuk membayar hutang dan melanjutkan pembangunan, layaknya logika bisnis secara umum. Tapi pada kenyataannya tidak sesederhana itu.
Kita banyak tertinggal, sebagai negara yang dahulu disebut agraris, selama masa kolonial pernah mencapai kejayaan karena melakukan perdagangan ekspor dari hasil pengolahan tanah kita, tapi mengapa saat ini untuk kebutuhan pokok seperti beras, gula, tepung dan lain-lain kita masih harus import? Maka sebenarnya ada yang salah, atau sesuatu telah terjadi dan merubah wajah ekonomi kita sekaligus wajah negara dan bangsa kita. Sekali lagi ekonomi adalah sektor fundamental, ekonomi adalah sebuah pondasi. Ketika secara ekonomi kita tidak kuat, maka secara tidak langsung politik kita terancam tidak berdaulat dan kebudayaan kita pun dianggap sebagai budaya yang rendahan karena apa, karena budaya kita harusnya mencerminkan wajah kehidupan kita tapi pada kenyataannya ketika ekonomi kita lemah maka budaya kita adalah budaya rendahan karena lahir dari bangsa yang miskin. Kompleks.
Pilot Project
Kelinci percobaan, sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan aktifitas riset, percobaan atau biasa disebut pilot project. Pada sebuah area tertentu, seperti pada kasus pertanian kita kenal istilah demonstration plot atau biasa disingkat demplot. Demplot ini berfungsi sebagai area riset dengan lahan yang dibatasi, melakukan uji coba terhadap teknik, material, metode, dsb dari sebuah aktifitas pertanian, yang nantinya ketika terjadi kesuksesan akan diterapkan pada lahan pertanian yang lebih luas
secara keseluruhan. Maka, kompleksitas permasalahan sosial-ekonomi Indonesia harus pula dicarikan solusi dengan melakukan riset pada area yang lebih kecil. Area yang lebih kecil atau tempat yang bisa dijadikan pilot project dalam hal ini adalah daerah kota/kabupaten. Maka mari kita bicara Trenggalek sebagai National Issues and Indonesian Demplot of Sosial-Economics.
Trenggalek sebuah kabupaten yang mencerminkan Indonesia, mengapa demikian? Indonesia negara maritim dan kepulauan, Trenggalek punya garis pantai dan laut yang cukup panjang di daerah selatan, beserta gugusan-gugusan pulau, meskipun saat ini tidak padat penduduk. Trenggalek daratan, mewakili udara panas khas kota-kota lain yang beriklim tropis, tapi Trenggalek juga punya hawa dingin, khas kota- kota wisata layaknya puncak Bogor ataupun batu Malang. Aktifitas padat industri juga ada disini, persawahan membentang cukup luas, daratan yang sebagian besar hutan juga masih sangat menghijau, potensi untuk maju cukup besar, karenanya Trenggalek adalah salah satu kabupaten yang bisa kita jadikan demplot untuk membentuk sosial-ekonomi Indonesia yang lebih baik.
Kemana kita akan mendarat?
Berbicara perkara ekonomi, titik lepas landas kita adalah kemiskinan. Kemudian, dari kemiskinan ini kita akan mendarat dimana? Mau kita terbangkan kemana masyarakat? Kembali pada amanat pembukaan UUD 1945 “... dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial...” disinilah kiranya kita harus mendaratkan masyarakat kita termasuk didalamnya dalam perspektif ekonomi. Selaras dengan apa yang dikenal sebagai jargon atau tag line dari Trenggalek, Jwalita Praja Karana yang berarti Bersinar Karena Rakyatnya, maka sangat tidak masuk akal rakyat bersinar tanpa adanya sebuah kesejahteraan. Kesejahteraan yang dimaksud adalah kesejahteraan hakiki, kesejahteraan yang merata, yang didapat dari hasil jerih payah sendiri.
Maka dalam mendarat pun harus jelas kondisi pendaratan yang aman, selamat sampai tujuan. Pendaratan tersebut adalah Kesejahteraan Umum. Kata umum adalah berarti masyarakat secara luas, maka harus ada prioritas untuk kabupaten Trenggalek 1) siapa masyarakat yang saat ini paling tidak sejahtera? 2) pesawat ekonomi kita harus terbang dengan konsep pemerataan-pertumbuhan simultan 3) masyarakat sektor ekonomi mana yang harus kita bawa terbang terlebih dahulu?
Prediksi cuaca ekonomi Trenggalek
Cuaca ekonomi disini diambil dari data BPS, mungkin juga tidak 100% merepresentasikan kondisi riil perekonomian, tapi toh namanya juga prediksi cuaca, sekalipun pada suatu tempat dan waktu diprediksi akan turun hujan, belum tentu pada kenyataannya benar-benar akan turun hujan. Tapi paling tidak kita sudah ancang-ancang membawa payung, sehingga walaupun memang hujan dalam kondisi siap. Sama dalam analogi penerbangan, rute mana pada ketinggian berapa yang akan ditempuh sudah bisa direncanakan sedari awal, dan dapat diinformasikan kepada seluruh penumpang bahwa penerbangan sedikit akan terjadi goncangan, harap bersiap, jadi secara psikis tidak akan terjadi shock selama masa penerbangan.
Ekonomi makro memang selalu memprediksikan perekonomian lewat penetapan tingkat suku bunga, tingkat pertumbuhan ekonomi, penetapan target pendapatan daerah baik melalui badan usaha ataupun pajak, dsb. Tapi itu semua tidak secara langsung juga mempengaruhi atmosfer bisnis riil dibawah sehingga terkadang perekonomian dibawah ini mendapatkan shock yang kadang tidak jelas
penyebabnya, karena memprediksi secara akurat itu juga bukan perkara mudah, apalagi menyiapkan antisipasinya, ketika salah prediksi ketika tidak tepat sudut pandangnya, maka persiapan yang akan kita lakukan pun akan menjadi keliru.
Pelaku ekonomi adalah orang/perseorang atau badan. Menurut data BPS tahun 2012, jumlah penduduk Trenggalek adalah 827.873 jiwa, dimana jumlah penduduk usia kerja secara total (baik angkatan kerja maupun bukan angkatan kerja) adalah 526.626 jiwa (63,6% dari total jumlah penduduk) sedangkan yang berada pada usia angkatan kerja adalah 407.184 jiwa (49,2% dari total jumlah penduduk). Adapun jumlah penduduk yang bekerja menurut lapangan pekerjaan utama pada tahun 2012 adalah pada sektor pertanian 56,05%, industri pengolahan 14,54%, perdagangan 12,62%, jasa-jasa 7,84%, dan lainnya adalah 8,95%.
Dimana pada sektor pertanian 45,5% adalah rumah tangga petani gurem (atau kepemilikan lahan <0,5Ha) dengan 26,67% pada sektor tanaman pangan, dan sisanya sektor lain seperti hortikultur 15%, perkebunan 17%, 22% peternakan, 1% perikanan, dan 17% sektor kehutanan (diambil dari resume sensus pertanian 2013). Pada sektor industri 1,36% adalah industri kecil lalu 97,32% adalah industri kerajinan rakyat dan sisanya baru industri menengah hingga besar. Industri genting mendominasi jumlah dari keseluruhan industri kecil dengan 54,2% sedangkan pada industri kerajinan rakyat didominasi oleh industri anyaman bambu/tikar 28,3%, industri batu merah 21,9%, dan industri kerajinan lain-lain 25,2%. Jumlah TKI asal Trenggalek adalah 0,3% dari jumlah Angkatan Kerja. Menurut data PPLS rumah tangga miskin tahun 2011 adalah 87.938 rumah tangga, jika diasumsikan dalam 1 rumah tangga terdapat 4 anggota keluarga terdiri dari suami, istri, dan 2 orang anak, maka jumlah penduduk miskin adalah 351.752 penduduk atau sama dengan 42,5% dari jumlah keseluruhan penduduk. Dimana dari 42,5% penduduk miskin Trenggalek tersebut 10% berstatus sangat miskin; 15,6% berstatus miskin; 30,8% berstatus hampir miskin; dan 43,5% berstatus rentan miskin. Pada sektor perikanan, didominasi oleh sektor penangkapan ikan yaitu 67,65% sedangkan sektor budidaya sekitar 32,35%.
Sengaja hanya data-data fundamental ekonomi yang kami paparkan disini, karena ini adalah salah satu representasi yang paling mendekati kondisi riil masyarakat Trenggalek, mengapa seperti itu? Apa kira- kira yang dipikirkan petani ketika mereka mengetahui berapa tingkat suku bunga sekarang? Apakah mereka akan bertani menunggu suku bunga kita ada diangka berapa dan apakah mereka menunggu pula pada tingkat berapa nilai tukar matauang kita yang pas untuk melakukan penanaman dan pemupukan sawahnya. Berbeda dengan investor atau pengusaha, mereka memiliki opsi ketika suku bunga tinggi mereka cenderung berinvestasi dalam bentuk surat-surat berharga deposito, dan ketika suku bunga rendah mereka mengambil langkah pembiayaan, dengan bunga rendah, dan ketika nilai matauang rupiah melemah terhadap asing malah jadi peluang mereka menggenjot pasaran ekspor dan ketika nilai mata uang menguat, mereka fokus pada pasar domestik dan membeli valas atau uang asing dalam jumlah besar dengan berharap dimasa datang nilai tukar kita melemah sehingga bisa ditukar dengan nilai rupiah yang lebih besar. Konsep gambling dan penggelembungan nilai-nilai aset inilah yang menyebabkan krisis adalah bagian dari siklus perekonomian kita. Fundamental ekonomi adalah kunci.
Terbang dengan fokus pada fundamental ekonomi
Berbekal prediksi cuaca ekonomi Trenggalek, maka ada gambaran bagaimana kita harus menerbangkan masyarakat sosial Trenggalek. Perekonomian sebenarnya adalah sebuah lingkaran, ada tiga tipe lingkaran. Lingkaran kesejahteraan, lingkaran kemiskinan, dan lingkaran lompatan. Setiap orang yang kaya atau berdaya punya kesempatan memiliki lingkaran kesejahteraan, mengapa demikian? karena ketika mereka punya cukup uang mereka mampu mendidik anaknya dengan pengetahuan yang lebih baik, dengan media sekolah dan fasilitas pendidikan lain, punya kesempatan lebih beruntung dalam mendapatkan penanganan kesehatan yang terbaik karena punya modal, punya akses informasi yang lebih baik karena mampu bersosialisasi dengan kalangan yang baik, sehingga memungkinkan anak-anak keturunannya meneruskan hegemoni lingkaran kesejahteraan ini lebih baik. Begitu sebaliknya masyarakat yang serba kekurangan, harus putus sekolah, pengobatan menjadi susah, tidak mendapat perlakuan yang baik, terdiskriminasi oleh pergaulan menjadi inferior dan tetap berada pada lingkaran kemiskinan. Tapi ada juga kasus lingkaran lompatan dari yang sejahtera mendadak miskin dari yang miskin mendadak sejahtera.
Dengan demikian konsep ekonomi kerakyatan adalah konsep yang perlu dikaji kembali. Kata rakyat dalam alam bawah sadar kita adalah bagian dari masyarakat yang paling tidak berdaya, sering kita menyebut mereka dengan rakyat, maka sesungguhnya ekonomi kerakyatan adalah sebuah sistem ekonomi yang berorientasi pada pemberdayaan kalangan “rakyat” tersebut. Ekonomi adalah suatu ilmu yang meletakkan tanggungjawab yang sungguh-sungguh pada mereka yang mempelajarinya (Hatta Mohammad; 1953)
Mengangkat golongan yang masih belum berdaya. Dengan mayoritas masyarakat Trenggalek adalah bergelut dibidang Pertanian dan Industri Kerajinan, maka inilah fokus ekonomi kerakyatan, ini fokus lepas landas ekonomi Trenggalek. Konsep kerakyatan sering didekatkan secara ekonomi dengan badan usaha koperasi, yang dengan lazim memiliki jargon dari anggota untuk anggota. Maksudnya adalah sesuai amanat undang-undang dimana cabang-cabang produksi diolah dengan cara bersama-sama. Kita tidak akan urai semua permasalahan, kita ambil hal kecil bagaimana mengangkat taraf hidup masyarakat atau rakyat kelompok tani, yang secara gambaran umum dari data BPS dan Sensus Tani, 45,5% rumah tangga tani adalah petani gurem dengan status menjadi bagian dari 42,5% dari penduduk miskin Trenggalek.
Koperasi apakah solusi?
Konsep bisnis konvensional, yang dianut oleh golongan ekonomi kanan, liberalis-kapitalis ada sebuah jargon make-money-from-money, menciptakan uang dari uang. Logikanya seperti tanam benih padi atau jagung lalu kita panen, sama seperti itu kita menanam uang maka kita akan memanen uang.
Medici Family Concept (1397-1494); The Economics Book (2012)
Rumus umum dari konsep berbisnis golongan kanan adalah seperti flowchart disamping, yang disusun berdasarkan konsep yang dikembangkan Medici. Secara umum [gunakanlah kekayaanmu untuk menemui bank] – [lakukan deposit untuk menjaga pengambilan uang kas] – [disamping juga lakukanlah pinjaman secara bijak] – [bagilah deposit anda dan pinjaman anda pada investasi yang berbeda untuk mengurangi resiko] – [seperti halnya bank tumbuh dan biaya rata-rata turun, sehingga keuntungan berlipat] – [dari sinilah uang terbuat dari uang].
Jika kita semua memahami dan mau merasakan, jika konsep ini yang sekarang banyak di-imani oleh semua pelaku ekonomi, lalu maka mengapa konsep make-money-from-money ini kadang sering diterpa krisis? Lalu jika sudah demikian, apakah kisah indah yang diharapkan bisa berlanjut, atau ujung-ujungnya adalah kebangkrutan. Medici sendiri menjawab ada 3 hal yang menjadi tantangan, yaitu poor information, financial incentives, and risk (The Economics Books;page 28). Artinya apa? Bahwa bank sebenarnya menerapkan konsep economies of scale, dimana asumsinya dengan mengelola banyak hal yang sejenis dalam satu waktu itu meringankan biaya, itu halnya menjelaskan secara sederhananya mengapa beli grosir lebih murah daripada beli ecer, karena jika beli grosir satu penjual cukup berbicara dengan satu pembeli yang menginginkan satu lusin sendok. Tapi berbeda jika penjual harus menjual sendok secara ecer, dia harus bertransaksi meluangkan waktu dan tenaga untuk 12 orang pembeli. Itulah mengapa konsep economies of scale ini ada.
Dengan demikian diasumsikan bank bisa mengontrol segala transaksi, pada kenyataannya bisnis riil yang harus diawasi oleh bank, dengan berbagai macam jenis debitur, itu bukanlah satu jenis, maka selalu ada kemungkinan kurangnya informasi dan pengawasan. Lalu, untuk mendapatkan keuntungan, kadang bank tidak melihat kondisi kesehatan bisnis riil, dia tetapkan suku bunga flat, sehingga fluktuasi bisnis tidak dimasukkan dalam logika bank secara umum, sehingga ketika terjadi resiko baik eksternal internal inilah yang menyebabkan kepailitan. Bagi bank dia terganggu cashflow-nya tapi mendapat aset jaminan, sedangkan debitur kehilangan asetnya juga gagal dalam bisnisnya. Maka dongeng make-money-from- money tidak terjadi.
Kedua, jika anda rasakan konsep yang diajukan oleh Medici, bahwa diawal gunakanlah kekayaanmu untuk menemui bank. Kembali pada kisah Trenggalek dalam hal ini petani, petani gurem memiliki lahan kurang dari 0,5 hektar bahkan tidak punya lahan atau buruh tani, kira-kira bagaimana cara dia akan mengawali make-money-from-money? Maka selamanya mereka tetap berada pada kuadran paling tidak berdaya.
Stimulan ekonomi kepada KOPERTA
Mengapa harus muncul istilah stimulan? Hal ini akan menjawab pertanyaan muara ketika petani tidak memiliki kekayaan untuk dia bawa ke bank dalam kaitannya melakukan deposito ataupun pinjaman. Adalah konsep sederhana dimana dalam istilah saya Stimulor (pemberi stimulan) menjamin modal kerja dan investasi produksi Stimulee (penerima stimulan) yang dalam pembinaan, pengawasan, dan pengelolaan sumber dan hasil produksi dibantu kegiatannya oleh Regulator (dalam hal ini KOPERTA). KOPERTA disini adalah istilah atau singkatan dari Koperasi Pertanian. Sehingga dalam skema main stimulan ekonomi kepada koperta ini harus menjawab pertanyaan; 1) Mengapa stimulor mau memberikan stimulan kepada stimulee? 2) Apa yang dijaminkan oleh stimulee kepada stimulor, ketika dia dalam kuadran masyarakat tidak berdaya? 3) Apa yang dilakukan oleh regulator? 4) Apa perbedaan Bank, Koperasi dan Koperasi yang berbasis stimulan ekonomi? 5) Lalu siapakah person/badan yang kita sebut sebagai stimulor, stimulee, dan regulator?
Pertama, sudah dijelaskan diawal bahwa konsep pandang spiritualism-looked down memaksa kita beraktualisasi, mencari muka kepada Pencipta, dan menarik orang dalam kuadran bawah untuk setara dengan kita dalam lapangan penghidupannya. Seperti yang dikatakan oleh Bryan Turner bahwa setiap orang yang menerima hak atau dalam hal ini adalah berkelebihan, secara automatically dia akan memiliki sense of duty atau perasaan bertanggung jawab. Dalam rujukan filsafat kehidupan yang saya imani, tertuang dalam kitab Al-Quran surat al-Maa’idah ayat 2,”.... bertolong-tolonglah kamu dalam berbuat kebajikan... kemudian ,”.... supaya harta itu jangan beredar diantara orang-orang kaya saja diantara kamu.... (al-Hasyr ayat 7). Kemudian saya mengutip tentang kritikan DN. Aidit kepada Moh. Hatta bahwa dikatakan bohong jika Hatta mengatakan koperasi adalah solusi terhadap permasalahan ekonomi rakyat, selama para kapitalis masih merajalela dibumi ini. Sepintas lalu saya akan sepakat kepada Aidit, karena sangat logis, ketika koperasi yang beranggotakan rakyat yang tidak mampu, mengumpulkan iuran anggota untuk berproduksi yang manfaatnya untuk mereka, berapa rupiah mereka bisa kumpulkan? Lalu mampukah mereka bersaing dengan para pemilik kapital besar yang berorientasi kapitalis, imperialis? Untuk itu dari pemaparan singkat sederhana ini jelaslah, petinju kelas berat harus dihadapkan petinju kelas berat, jangan dengan kelas bulu. Maka kapital harus dilawan dengan kapital, dan orang-orang yang memiliki kesadaran terhadap Tuhan, Bangsa dan Negaralah yang akan merealisasikan ini semua. Untuk itu penting adanya Stimulor dalam sistem ekonomi berbasis stimulan ekonomi (kerakyatan).
Kedua, satu-satunya jaminan yang bisa diberikan stimulee kepada stimulor adalah integritas. Jaminan kepercayaan dan keseriusan dalam mengelola sumber daya stimulan ekonomi tersebut. Bagaimana cukup integritas itu dijadikan jaminan? Apa akan ada stimulor yang mau kehilangan dana-nya? Secara prinsip tidak ada yang mau, sekalipun tidak akan yang ada. Untuk itulah mengapa sistem ekonomi ini harus dijalankan oleh badan yang berbasis kebersamaan anggota layaknya koperasi, bukan dari person to person, dan bukan dari person to badan. Jika dilakukan dari person to person, jelas akan mudah adanya pelanggaran dari stimulee, karena stimulor tidak punya kaitan bisnis dengan usaha stimulee, dan tidak cukup punya waktu. Jika person to badan akan mudah terjadi disorientasi menjadi ajang kapitalis saja, bukan menjadi stimulan. Idealnya memang konsep dari anggota untuk anggota tetap dijalankan, dalam hal ini baik stimulor maupun stimulee dan regulator merupakan bagian dari anggota itu.
Dalam surat al-Baqarah ayat 282 dijelaskan,”Hai orang-orang yang beriman! Apabila kamu mengadakan hutang-piutang dalam waktu yang ditentukan, tuliskanlah! Hendaklah ada diantaramu penulis yang akan menulisnya dengan jujur. Dan janganlah penulis itu enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkan kepadanya hendaklah dituliskannya! Hendaklah orang yang bersangkutan membacakan apa yang hendak dituliskan itu, dan hendaklah bertakwa kepada Allah Tuhannya dan janganlah bertindak mengurangi sedikitpun dari jumlahnya. Jika orang yang bersangkutan itu lemah keadaan rohani dan jasmaninya, atau dia tidak mampu membacakannya, hendaklah dibacakan oleh walinya dengan jujur. Dan hendaklah disaksikan oleh dua orang saksi. Jika tidak ada dua orang saksi laki-laki, boleh juga seorang laki-laki dan dua orang perempuan, dari orang yang kamu sukai sebagai saksi, supaya yang satu dapat mengingatkan yang lainnya apabila terjadi kekeliruan diantara keduanya. Para saksi itu janganlah enggan memberikan keterangannya apabila mereka dipanggil. Janganlah kamu merasa bosan menuliskan hutang-piutang itu baik kecil maupun besar sampai batas jangka waktunya, cara demikian, lebih jujur dalam pandangan Allah, lebih kuat dalam hal persaksian dan satu-satunya jalan yang terdekat untuk tidak menimbulkan keraguan, kecuali dalam hal perdagangan tunai yang kamu jalankan diantaramu, tidak mengapa jika tidak secara tertulis. Pakailah saksi jika kamu mengadakan jual beli. Penulis dan saksi janganlah mempersulit dan dipersulit. Jika hal ini kamu lakukan, maka itu merupakan suatu kefasikan bagimu. Hendaklah kamu bertakwa kepada Allah. Allah memberikan pelajaran kepadamu. Dan Allah Maha Mengetahui akan segala-galanya.”
Untuk itu, usaha bersama ini harus terorganisir dan melakukan spesifikasi dalam proses bisnis satu usaha, memang harus dilakukan dalam kelompok dan spesifik pada satu bisnis. Inilah yang bisa dijadikan jaminan, karena jika hal tersebut dilakukan secara berkelompok, ini berarti adanya satu sama lain saling mempersaksikan diantara mereka. Kemudian katakanlah KOPERTA, berarti dalam satu daerah tertentu harus disepakati proses bisnis yang sama, terkait masa tanam, jenis tanaman, lalu pola perawatan seperti apa, hal ini akan menjadi jaminan bagi stimulor lewat regulator untuk mengukur keberhasilan dari suatu unit bisnis yang dijalankan oleh stimulee.
Ketiga, regulator adalah jembatan komunikasi antara stimulor dengan stimulee. Regulator perlu dikarenakan agar terjadi independensi antara kepentingan stimulor ataupun stimulee, maka yang duduk sebagai regulator haruslah orang-orang profesional dan ahli yang amanah, baik dari pihak stimulor, stimulee, atau profesional. Poin penting regulator adalah proses administratif, tetapi poin terpenting lagi adalah dia harus menjadi pihak yang paling bertanggungjawab terhadap perkembangan bisnis stimulee, dengan melakukan pendampingan baik dalam sudut pandang perhitungan bisnis, juga dalam hal keahlian teknik pada unit bisnis (dalam hal ini teknik pertaniannya). Maka, regulator adalah menghimpun seluruh aspirasi anggota, melakukan eksekusi kepada kemajuan anggota, dan mempertanggungjawabkan kepada semua anggota. Terkait didalamnya penjadwalan, pelatihan, pendampingan, menyiapkan buyer atau market, melakukan konsinyasi atau MoU dengan supplier, penyusunan laporan keuangan, dan pembagian surplus kepada semua anggota. Jika terjadi keterbatasan tenaga, selain dalam domain administratif bisa juga melakukan kerjasama dalam hal pelatihan lapangan dan pendampingannya dengan badan-badan terkait, dalam hal ini apakah swasta, LSM, atau Bapeluh Tani, asalkan tidak melakukan bisnis tersendiri didalam aktifitasnya.
Keempat, sistem stimulan ekonomi ini sebenarnya pola umum sama dengan kinerja perbankan. Lalu mengapa disebut sistem ekonomi kerakyatan berbasis stimulan? Apa istimewanya? Alur berfikirnya adalah kelompok kuadran ekonomi kurang berdaya dikelompokkan dalam satu wadah unit bisnis yang sama, karena untuk memerangi kapital besar, kapital yang gurem-gurem ini juga harus dikumpulkan agar setara dengan kapital besar, bukankah yang sedikit-sedikit lama-lama bisa menjadi bukit? Kemudian mereka melakukan kegiatan tanpa jaminan atas modal kerja untuk usaha produksi mereka, dalam hal ini produksi pertanian. Modal itu lalu didapatkan dari dana stimulan yang diberikan oleh stimulor. Ketika terjadi hasil dari bisnis, stimulor tidak akan mendapatkan tambahan nilai dari dana yang digulirkannya, mereka dan anggota mendapatkan pembagian surplus atau keuntungan sesuai proporsi yang disepakati bersama.
Pada bank berlaku hukum pasar bebas, dimana siapapun berhak menempatkan dananya dan siapapun berhak melakukan pinjaman dengan jaminan untuk keperluan apapun. Sehingga inilah yang dikatakan lemahnya informasi terjadi, meskipun resiko bisnis didiversifikasi lewat pemberian pinjaman kepada banyak sektor bisnis. Acuan pendapatan dan tarif masing-masing pihak didasarkan pada tingkat suku bunga dan fee jasa. Sehingga siapapun yang menempatkan dananya dalam bentuk deposit, maka setiap nilai uang yang ditanamkan dalam jangka waktu tertentu akan memiliki tambahan nilai. Sedangkan bagi peminjam (borrower) dia akan menerima dana segar akibat agunannya, tetapi dia dibebani tambahan nilai atas uang yang dia pinjam, maka diharapkan keuntungan yang dia peroleh adalah ketika ada selisih antara hasil pendapatan bisnis dikurangi pokok, bunga, dan fee jasa. Sedangkan dari perbankan akan mendapat laba dari selisih antara tingkat sukubunga deposito dan pinjaman ditambah fee jasa yang lain. Ini diluar skenario penempatan dana pada investasi-investasi lain yang dilakukan bank untuk memaksimalkan labanya.
Sedangkan pada koperasi, anggota dibatasi, lender adalah borrower, artinya dari anggota untuk anggota. Pada koperasi simpan pinjam yang diterapkan juga sistem bunga atau tambahan nilai atas pinjaman suatu dana, dimana nanti hasil bunga itu dibagi kepada anggota sesuai dengan jumlah proporsi peminjam yang terbanyak. Sedangkan pada koperasi berbasis stimulan, lender adalah stimulor dan stimulee, atau bisa stimulor saja. Lalu tambahan nilai dari dana yang ditempatkan bukan dari bunga, artinya bukan mengenakan prosentase dari nilai rupiah yang ditanamkan, melainkan stimulor harus melakukan pinjaman tanpa bunga atau dalam istilah ekonomi islamnya adalah qardh. Lalu bagaimana caranya stimulor mendapatkan keuntungan? Keuntungan itu didapatkan baik stimulor ataupun stimulee lewat bagi hasil pendapatan akibat proses bisnis.
Sebagai contoh, harus disepakati dulu lingkup proses bisnis-nya dari hulu dan hilir seperti apa? Katakanlah stimulor memfasilitasi stimulan untuk bibit padi, pupuk, dan pestisida kemudian itu diberikan kepada petani dengan cara dijual dengan margin keuntungan yang disepakati, kemudian ketika terjadi panen hasil panen dibeli oleh koperasi dan dijual, selisih keuntungan itulah yang nanti juga dibagi. Jika petani berorientasi tidak menjual, karena memang butuh pangan untuk keluarga, maka bisa dipola kepada pertanian 100% organik, sehingga nanti petani jual padi harga organik dan untuk kebutuhannya dia membeli padi biasa untuk konsumsi, sehingga mereka juga memiliki selisih keuntungan tersendiri. Jadi disini keuntungan anggota didasarkan dari selisih harga jual dan beli dari setiap proses bisnis. Tinggal disepakati berapa prosentase bagi hasil stimulor dan stimulee setelah dikurangi biaya biaya operasional dan administratif regulator.
Kelima, siapakah yang akan terlibat dalam sistem ini, apakah sistem ini hanya berpihak pada golongan ekonomi tidak berdaya? Bagaimana dengan golongan menengah dan atas yang juga sudah melakukan bisnis pada bidang usaha pertanian? Bagaimanakah status tuan tanah? Bagaimanakah status buruh tani? Pada intinya adalah karena ini adalah sistem stimulan ekonomi, maka perlu adanya kapital cukup untuk melakukan stimulasi pada anggota koperasi. Kapital yang cukup itu bisa didapatkan dari pelaku bisnis pertanian yang ada di wilayah sekitar, bisa juga dari dana stimulan pemerintah, bisa juga aset dari tuan tanah, bisa juga dana dari perbankan yang pro dengan kebijakan dan sistem bagi hasil (seperti bank syariah).
Sebagai ilustrasinya kita misalkan, butuh permodalan 1M rupiah untuk modal kerja seluruh areal persawahan yang digarap oleh petani pada satu desa dalam satu kali masa panen. Modal kerja 1M itu terbagi untuk bibit 300juta, untuk pupuk 400juta dan untuk pestisida 200 juta untuk pestisida dan 100
juta untuk biaya operasional selama 3 bulan sampai masa panen. Maka disini kita harus mencari pihak yang berkenan sebagai stimulor, katakanlah pada periode sebelumnya petani memiliki cadangan dana senilai 100juta (10%), kemudian tuan tanah yang tidak menggarap sendiri sawahnya menjaminkan asetnya dan bernilai 400juta (40%), sisanya dibiayai oleh bank 500juta (50%). Sehingga antara kebutuhan pelaksana dan stimulan modal dari stimulor sudah mencukupi selanjutnya melakukan transaksi dengan supplier, dimana dana tadi dibelanjakan secara bertahap untuk kebutuhan modal kerja petani dalam satu kali masa panen.
Dalam kasus ini mengapa pebisnis usaha pertanian dan tuan tanah diberikan andil, agar mereka tidak menguasai cabang hidup orang banyak, dan bisa mendapatkan manfaat pula secara proporsional, sehingga seperti dalam kasus tuan tanah, otomatis tidak ada lagi hitungan paron kepada buruh tani, mekanismenya sudah masuk include dalam mekanisme bagi hasil koperasi. Selanjutnya katakanlah pembelian modal kerja berupa bibit, pupuk, dan pestisida yang bernilai 1M tadi diakad jual dengan total nilai penjualan kepada petani 1,2M. Lalu ketika masa panen, koperasi menjadi badan yang mengambil hasil tani dan mendistribusikan kepada pasar, ketika terjadi penjualan mendapatkan keuntungan 500juta. Sehingga total keuntungan yang akan dibagikan surplusnya adalah 700juta. Kemudian diawal disepakati bahwa bagi hasil antara stimulor dan stimulee adalah 35:65 (35% untuk stimulor dan 65% untuk petani).
Dari illustrasi diatas maka 245 juta adalah bagi hasil surplus untuk stimulor sehingga untuk petani bagi hasilnya 455 juta. Kemudian dari bagi hasil surplus inilah dibagi kembali kepada anggota, bagi stimulor dibagi berdasarkan kontribusi stimulan atau pendanaannya. Sehingga seperti ilustrasi diatas 24,5 juta kembali pada petani, kemudian bagi tuan tanah mendapatkan 98 juta, dan sisanya 122,5 juta adalah bagi hasil perbankan. Kemudian bagi stimulee pembagian didasarkan pada kontribusi pekerjaannya, atau produktifitasnya. Jika dimisalkan ada 200 petani dan memiliki kontribusi yang sama, misalkan maka per petani akan mendapatkan bagi hasil (455 juta + 24,5 juta)/200 adalah sama dengan 2,39 juta per petani. Beginilah alur secara umum, sehingga ada sebuah keadilan sistem dan proporsionalitas pembagian keuntungan, bukan berdasarkan bunga yang tidak mau tau, tetapi based on kondisi riil bisnis. Sekali lagi ini illustrasi bukan menggambarkan angka-angka yang sebenarnya. Kuncinya adalah di proporsi bagi hasil,harus disepakati semua anggota pada saat akad, bisa bervariasi sesuai perkiraan bisnis plan yang dibuat.
Dan penerbangan kita masih jauh.
Sudah bukan waktunya lagi berada dibalik lobi hotel. Saatnya melangkah keluar Bekerja & Membangun.















