RTM: Menumbuhkan Kepercayaan
Ada yang mudah, ada yang susah.
Ada yang butuh waktu, ada yang bahkan tak berpikir panjang, namun ada yang butuh berjuta pertimbangan,
Ada yang barangkali bermula dari satu, dua, bahkan berpuluh penolakan, namun ada pula yang bermula dari sebuah penerimaan.
Ada yang memilih untuk mengungkapkan dalam perkataan, ada yang memilih untuk beraksi dalam tindakan.
Namun sejauh ini, yang aku percaya, keduanya pasti memuarakannya dalam doa-doa yang dipanjatkan.
Satu pelajaran penting dalam kehidupan berumah tangga yang masih berusia dini ini adalah tentang kepercayaan kita satu sama lain terhadap pasangan. Tidak ada yang bisa menjamin sekalipun kami pernah mendengar bahwa banyak pasangan yang sudah mengenal bertahun-tahun, bahkan memulainya dengan pacaran, namun tak sedikit yang berakhir dengan ketidakpercayaan satu sama lain.
Terlebih kami, yang barangkali baru mengenal secara intens pasca akad diucapkan. Rasa canggung dan malu bahkan hingga saat ini mungkin masih menghiasi, terlebih pada yang berjiwa introvert. Dari hal-hal kecil mengurus rumah tangga, menyapu, memasak, merapikan kamar, hal-hal yang seringkali kami lakukan bersama agar tumbuh kepercayaan diantara satu sama lain. Hingga hal-hal besar tentang visi, mimpi, tujuan besar yang dulu saat proses ta’aruf pernah didiskusikan dan dimusyawarahkan, tentu saja semua bermula dari kepercayaan satu sama lain yang harus senantiasa ditumbuhkan.
Sebagai seorang yang berjiwa ekstrovert, mungkin bagiku amat mudah mempercayainya, namun barangkali berbeda dengannya. Aku sudah banyak membaca sebelum menikah terkait psikologi perempuan, terlebih seseorang dengan kepribadian yang introvert, maka sejak saat itu aku beranggapan bahwa kelak sekalipun telah menggenggamnya dalam ikatan suci pernikahan, maka meyakinkannya serta mencintainya adalah perjuangan yang takkan pernah berhenti sepanjang kehidupan.
“Seorang lelaki mampu memenangkan perasaan perempuan dengan kesabarannya, sebagaimana seorang perempuan yang mampu memenangkan perasaan laki-laki dengan menghapus rasa malunya”
- Ustadz Salim A. Fillah dalam buku Bahagianya Merayakan Cinta
Pesan di atas akan selalu menjadi pengingat agar pribadi ini menjadi pribadi yang sabar. Terlebih jika ingat kisah bagaimana Rasulullah SAW yang bersabar sekalipun Sayyidah Aisyah membanting piring di rumahnya, Umar bin Khottob yang bahkan hanya diam saat dimarahi istrinya, serta kisah para salafus-shalih dan para sahabat yang betapa luar biasa kesabaran untuk menghadapi istrinya. Belum termasuk kisah nabi dan rasul sebelum Nabi Muhammad yang ditakdirkan memiliki istri yang tidak mempercayai islam, seperti kisah Nabi Nuh, Nabi Luth, rasa-rasanya ketika diri ini membandingkan seharusnya jauh lebih memperbanyak syukur.
Maka benar barangkali jika ada pepatah mengatakan bahwa kepercayaan itu mahal harganya. Mahal mendapatkannya, butuh pengorbanan yang tak sedikit, butuh hati yang senantiasa diluaskan dan dilapangkan, butuh kesabaran yang senantiasa harus dimunajatkan agar tidak terbersit sedikit pun kata-kata bahkan sekedar perasaan suudzon terhadap sesama.
Kepercayaan pula yang katanya jika dikhianati akan menimbulkan luka yang mendalam, yang semoga kami berdua dan kita semua terhindar dari hal-hal seperti ini. Kepercayaan pula yang katanya saat seandainya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, butuh waktu yang tak sedikit untuk sekedar memaafkan bahkan terkadang sulit untuk kembali menerima seperti sedia kala.
Menumbuhkan kepercayaan memang butuh perjuangan, terlebih bagi dua orang yang masih baru memulai kebersamaan dalam mahligai ikatan. Terlebih bagi seorang dengan dua kepribadian yang berbeda (extrovert - introvert) yang ditakdirkan olehNya bersatu dalam satu genggaman. Selalu niatkan untuk ibadah, selalu niatkan untuk menggapai ridhaNya.
Sebab barangkali, dalam perjuangan menumbuhkan kepercayaan, ada percikan-percikan pahala yang Dia hadirkan untuk ditampung sedikti demi sedikit. Ada lapis-lapis keberkahan, yang kian digali memang kian susah, namun di dalamnya ada harta karun yang menantinya. Ada serpihan-serpihan surga yang harus dirangkai bersama dan barangkali akan menjadi rangkaian yang utuh kala kepercaayan satu sama lain telah benar-benar utuh.
Sejenak rehat di tengah deadline yang mengejar
Malang, 27 Januari 2021 , 01.15 a.m.
Mushonnifun Faiz Sugihartanto