"Ih, ayo cepetaaaan. Assholatu 'ala waktiha, loh."
"Ini lho sist, kalo pake kerudung tuh yang rapi."
"Udah tilawah berapa lembar hari ini?"
"Eh, nanti sore ke kajian aja yuk, daripada main-main nggak jelas."
"Sist, jangan keseringan minum kopi. Kasihan tubuh kamu."
"Makan mie instant itu sekali aja sebulan. Jangan banyak-banyak."
"Besok puasa sunnah, yuk."
"Itu jilbabnya jangan kelupaan, dipake dulu. Masak mau keluar rumah nggak pake jilbab, sih."
"Eh ngegosip itu sama aja makan daging sodaranya tauk. Kamu tega makan daging sodara sendiri?"
"Khusnudzon, bro."
"Ayo ih, bangun dulu. Kamu belum sholat isya' kan?"
"Haduh, bro.. daripada stalking IG mantan, mendingan banyakin baca Qur'an."
Dan maaasih banyak lagi.
Cerewet ya? Iya.
Teman yang shalih memang begitu, sist, bro. Mereka akan senantiasa men-'cereweti' kita untuk senantiasa berada dalam jalan kebaikan. Eh maksudnya, selalu mengingatkan. Semisal tiba-tiba kita males atau melenceng sedikit, mereka-mereka inilah yang kemudian akan menarik kita untuk kembali ke jalan kebaikan. Membenarkan langkah kita, menjauhkan kita dari hal-hal yang tidak Allah sukai.
Beda dengan teman yang kurang begitu mencintai kebaikan. Boro-boro ngingetin orang lain, ngingetin diri sendiri aja masih lupa-lupa. Lihat kita nggak sholat, biasa aja. Lihat teman perempuannya tiba-tiba lepas jilbab, biasa aja. Lihat kita stalking IG mantan, biasa aja (padahal mah gapunya mantan 😝).
Kalau punya teman shalih seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, maka, jaga ia. Jangan pernah lepaskan. Meski 'cerewet', teman yang seperti itu susah loh didapat. Dan hei! Bukankah 'kecerewetannya' itu adalah pertanda bahwa ia sangat peduli pada kita? Ya, ia ingin temannya juga selalu berada dalam jalur kebaikan. Ia ingin temannya menjadi orang yang Allah cintai. Sebab surga terlalu sepi untuk dihuni sendirian, 'kan?
"Jika engkau punya teman yang selalu membantumu dalam rangka ketaatan kepada Allah, maka peganglah erat-erat dia, jangan pernah kau lepaskannya. Karna mencari teman baik itu susah, tetapi melepaskannya sangat mudah sekali.”
(Imam Syafi'i)