TERUNTUK WANITA-WANITA PENGHUNI SYURGA
Ada kisah pagi ini, dengan secangkir teh hangat menemani bumi yang kelabu, awan mendung menyelimuti kotaku
Bersama hati yang bertanya, kemana arahnya putaran waktu yang tengah ku susuri ini
Lalu, kisah ini akan bermula :
“kepada para lelaki tua itu aku bertanya, apa yang membuat engkau bangga pada anak perempuan mu wahai bapak? Pekerjaan yang menjanjikan? Pengacara? Manager? Bos besar? Atau seperti orang indonesia kebanyakan? Pegawai negri, di negri yang rasanya akan meledak karna begitu banyaknya pegawai?
Duh bapak, bolehkah aku keluhkan banyak padamu tentang betapa gundahnya hatiku dengan ambisi itu?
Wahai bapak, bolehkan aku mengajarkanmu tentang dunia yang mungkin seumuran denganmu namun tak sejemaripun denganmu.
Kenapa wanita menjadi mulia dalam agama, pak?
Namun kenapa begitu banyak justru dilalap api yang menghanguskan hingga tulang belulang?
Pak, kenapa ketika anak perempuanmu menikah bapak dan ibuk adalah yang ketiga?
Aku belajar dari seorang teman, tentang bapak nya yang begitu ikhlas dalam menerima aturan, aturan kehidupan, tentang anaknya yang pada akhirnya menjadikannya si nomor 3, lalu si nomor 4.
Perempuan itu pak, mulia karna abdinya.
Abdinya dulu kepada ibuk kepada ibuk kepada ibuk yang berbagi darah dan daging setubuh 9 bulan 2 tahun lamanya, kepada bapak yang membesarkannya penuh keringat dan darah, hingga iya beranjak dewasa
Abdinya kepada suami yang kemana pergi butuh untuk selalu di dampingi
Abdinya kepada mertua karna rela berbagi si gagah perkasa
Pada akhirnya waktu berputar, bapak akan menua, yang muda akan tiba
Padanya dititipkan amanah, para mujahid mujahid muda
Dari lisannya akan terujarkan alfatihah, si mujahid muda mengamalkan, hingga mati iya kelak
Meski tak tau berapa umurnya
Dari tubuhnya tergerak sembah sujudnya, si mujahid muda mengikuti, hingga mati iya kelak
Meski tak tau bila waktunya
Dari tangannya si mujahid muda makan, menjadi besar dan kuat, iya berjalan dijalan Sang pencipta
Bertopang pada ibunda tercinta, hingga kuat iya berjalan, iya gandeng sang wanita yang membesarkannya
Lalu bapak, bolehkah aku bertanya?
Adakah bapak temui pekerjaan yang lebih mulia bagi wanita, selain dari kisah yang aku sampaikan?
Tidak kah engkau bangga pada anakmu dengan semua pekerjaan mulia itu?”
Rinai telah turun, hatiku bergemuruh menderu-deru
Ingin sekali kusampaikan pada bapak :
“ini jihatku pak, masa muda ku buruk. Lalu ini jihat ku. Kelak jika wanita setengah tua ini menjadi layu dan mati. Setidaknya aku membawa bekal, untuk kelak mengajakmu bersamaku dan mujahid-mujahid muda ku, ketempat terindah yang selalu kita harapkan.
Kecewalah pada ku, marahlah, aku tak mengapa, bapak masih tetap yang tercinta.
Dan terimakasih untuk pendidikan tinggi yang engkau telah perjuangkan untukku, pada akhirnya inilah abdiku, pak. Pada ‘rumah’ tempat aku bernaung”
Mujahid muda ku memanggil, kami akan melanjutkan ilmu hari kemarin.
Perjalanan indah, untuk bertemu dengan-Nya.