Bersiap untuk Lebih Baik
Cerita terinspirasi dari kajian Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, Lc berjudul Bisa Jadi ini Ramadhan Terakhirmu
Di sebuah kampus di Indonesia, tepatnya di kota yang ramai dan penuh semangat, tinggal lah seorang mahasiswa yang bernama Dika. Dika adalah mahasiswa semester akhir yang telah menghabiskan beberapa Ramadhan di masa kuliahnya. Namun, tahun ini, dia merasa perlu melakukan persiapan yang lebih matang untuk menyambut bulan suci Ramadhan.
Pada Ramadhan tahun lalu, Dika mengalami tantangan besar. Dia merasa tidak bisa fokus sepenuhnya pada ibadahnya karena terjebak dalam rutinitas dunia yang sibuk. Saat itu, dia sering terlambat untuk sahur karena tugas-tugas kuliah yang menumpuk dan aktivitas organisasi yang padat. Waktu berbuka juga menjadi momen yang terburu-buru, tanpa kekhidmatan yang seharusnya dia rasakan. Waktu luangnya pun sering dihabiskan untuk bersantai daripada mengingat Allah.
Setelah Ramadhan berakhir, Dika merenungkan pengalamannya. Dia menyadari bahwa Thulul Amal telah menguasai dirinya, membuatnya merasa bahwa masih ada banyak waktu untuk melakukan ibadah di masa mendatang. Peristiwa tersebut menjadi pukulan keras baginya, membuatnya bertekad untuk tidak mengulanginya lagi di Ramadhan berikutnya.
Maka, Dika memulai persiapannya untuk Ramadhan yang akan datang. Dia mulai dengan mengevaluasi dirinya sendiri, mengenali kelemahan-kelemahan yang pernah membuatnya gagal menjalani Ramadhan dengan baik. Dia mengingat pesan Firman Allah dan ajaran Rasulullah tentang pentingnya memfokuskan diri pada ibadah dan meninggalkan kesia-siaan.
Dika memutuskan untuk mengubah sikapnya dan menjalani Ramadhan dengan lebih baik. Dia merenungkan setiap tahun Ramadhan sebelumnya, mencoba mencari tahu mengapa ibadahnya tidak selalu maksimal. Dan dari renungannya itu, Dika menyadari bahwa salah satu penyebab utama adalah Thulul Amal, panjang angan-angan yang membuatnya terlena dan menunda-nunda ibadah. Dia merasa bahwa fokus ibadah Ramadhan nanti saja ketika 10 hari terakhir bukan mulai dari awal Ramadhan. Padahal bisa jadi dia tidak mencapai 10 hari tersebut.
Ketika Ramadhan tiba, Dika melangkah maju dengan tekad yang bulat. Dia tidak lagi terjebak dalam rutinitas dunia yang menyibukkan, tetapi dengan tekun menjalankan ibadah dan memperbaiki akhlaknya. Meski godaan Thulul Amal dan Taswif tak pernah lepas dari pandangannya, Dika terus berusaha menghadapi tantangan itu dengan penuh kesabaran.
Dan di sepanjang bulan Ramadhan yang penuh berkah, Dika berusaha meminimalisir godaan-godaan tersebut. Dia mengurangi pembicaraan tentang rencana mudik, mengurangi membicarakan tentang lailatul qadr di awal Ramadhan, dan menghindari obrolan-obrolan yang tidak bermanfaat. Dia fokus pada setiap ibadah yang dilakukannya, menghadirkannya dengan perasaan bahwa itu adalah ibadah terakhirnya.
Ketika hari raya tiba, Dika merayakannya dengan penuh syukur dan kebahagiaan bersama keluarga dan teman-temannya. Namun, di balik kebahagiaan itu, ia tidak lupa untuk berdoa kepada Allah agar diberi kesempatan untuk menyambut Ramadhan berikutnya dengan lebih baik lagi.
Dan begitulah kisah Dika, seorang mahasiswa yang mempersiapkan dirinya dengan sungguh-sungguh untuk menyambut bulan Ramadhan, mengatasi Thulul Amal dan Taswif, serta menjalani setiap ibadahnya dengan penuh kesungguhan. Dengan tekad dan keikhlasan, kita bisa menghadapi setiap ujian dengan baik, termasuk ujian bulan Ramadhan.

















