54. Kamu dan Perasaan
Ini bukan tentang hati yang tengah jatuh, tapi tentang hati yang tak sepenuhnya kita menguasai dan tak bisa kita kendalikan sendiri.
Perkara sakit, bangkit.
Patah, rekat.
Jatuh, sembuh.
Menyerah, pasrah.
Merelakan, bertahan.
Dan perkara sulit rumit namun sederhana.
Kamu tahu? Mengendalikan diri untuk menerima apa yang tengah terjadi butuh waktu. Kamu juga tahu? Berusaha lari saat yang kamu kejar ternyata tengah jauh butuh tenaga.
Seperti katamu, tentang sembuh yang sementara. Luka bisa saja kembali, namun pilihanmu ada disana, membiarkannya tetap terbuka atau menutup supaya tak terasa lagi sakitnya?
Lagi-lagi tentang kamu.
Yang tiba-tiba saja melarut dalam gelap, ikut menyeru pertanyaan, "kamu benar-benar melangkah atau diam menanti?"
Saat yang lain tengah selesai dengan dirinya, kamu tidak berhenti bertanya "kemana kamu akan melanjutkan berlari?"
Saat yang lain tengah bertemu, kamu tidak berhenti bertanya "bagaimana bila ternyata waktumu telah salah digunakan?"
Saat yang lain tengah berupaya, kamu tidak berhenti bertanya "apa hanya sampai disini kamu bisa melakukannya?"
Perkara tanding dan banding hanya berbeda saat kita menyetujui bahwa ada garis yang dilalui bersama dan juga masing-masing langkahnya. Perkara yang jelas-jelas tak bisa dicapai dalam tanda sambung, justru kita erat-eratkan dengan yang tak sepantasnya rekat.
Meskipun ditahan mencoba tidak pernah merasakan demikian, tetap saja, hati dan kamu terus bertanya, kapan lembaran itu terbuka dan kapan bisa menulis cerita selanjutnya. :"(
9 September aku terluka















