Kota ini tak begitu ramai ketika terik matahari sudah matang di atas kepala. Seperti biasa, aku menyusuri sudut kota berjalan kaki sendirian - mengenang banyak waktu yang pernah kubuang percuma dan waktu yang kutahan perlahan untuk melakukan segala yang berguna. Bulan ini akhirnya berkunjung dengan istimewa.
Di sekitar pertokoan seorang kakek (mungkin) 80 tahun sedang menuntun sepeda tuanya, menunggu jalanan sepi karena hendak menyeberang. Dalam keranjang tasnya hanya ada seikat kangkung dan sepotong tempe berbungkus daun pisang. Kemeja batiknya yang telah memudar tersorot sinar matahari yang lengket oleh kucuran keringatnya.
“Mbah badhe nyeberang?” (Mbah mau menyeberang?) tanya seorang ibu yang baru saja turun dari mobil.
“Nggih” (Iya). Mereka menyeberang bersama. Kemudian dari kejauhan ia memberikan sejumlah uang kepada kakek itu. Matanya sontak berkaca-kaca.
“Maturnuwun, Bu. Mugi Allah paring keberkahan” (Terima kasih, Bu semoga Allah memberi keberkahan)
Hidup mengajarkan banyak hal. Tuhan kita saja selalu memberi apapun kepada Hamba-Nya. Tentu ketika sudah merasa berkecukupan sepantasnya kita memberi kepada mereka yang kekurangan. Ingat kan? lebih baik tangan di atas daripada tangan di bawah.
Adzan dhuhur sudah berkumandang 30 menit lalu, aku menepi ke masjid terdekat. Banyak orang melakukan aktivitas di sana, entah itu tidur, berdiskusi atau mengaji. Aku langsung mengambil air wudhu dan bergegas sholat. Karena lelah, kuputuskan untuk beristirahat di serambi masjid. Tiba-tiba seorang pemuda datang mendekat.
“Mbak masih lama? Boleh nitip tas soalnya saya mau sholat.”
Sesaat ada hal-hal yang kupikikan, “Mengapa orang itu percaya menitipkan barangnya pada orang asing sepertiku? Apakah dia tidak khawatir jika nanti ada yang hilang?”
Setelah kupahami, pemikiran tersebut tak seharusnya. Dan tentu orang harus berpikir bahwa jika ia melakukan sesuatu hal yang tidak baik akan sia-sia puasa dan pahalanya. Tidak berkah.
“Makasih ya, mbak”. Aku hanya mengangguk. Lalu pemuda dengan atasan denim itu mengambil sesuatu di kantong sakunya. Ada Al-Qur’an kecil yang kemudian dia baca perlahan-lahan.