Ia selalu duduk ditempat yang sama. Tempat yang sudah ia anggap paling sakral untuk menikmati semburat jingga pukul lima. Ia adalah laki-laki biasa, laki-laki sederhana, laki-laki yang sampai sekarang masih meraba-raba akan cintanya.
“Maaf, saya bisa duduk di sini, mas?” Suara perempuan itu berhasil menghentikan jemari laki-laki tersebut memainkan laptopnya. “Boleh silahkan, mbak.” Tanpa pikir panjang lebar, laki-laki itu langsung membereskan tempat duduk yang ada disampingnya. Ah, lagi-lagi ia selalu bersikap kaku ketika dihadapkan dengan perempuan. Payah.
“Mas puasa?” Tanya perempuan itu setelah keheningan menyelimuti mereka berdua. “Iya saya puasa, mbak.” Singkat saja jawabnya. “Sunset diawal bulan ramadhan yang indah, ya, mas?” Kalau boleh jujur, senyuman perempuan itu lebih memukau daripada sunset kala itu. “Masnya sudah lama kerja di sini? Di lantai berapa kalau boleh saya tahu?” Lagi-lagi ia bertanya kepada laki-laki itu, kalau ditebak-tebak sepertinya ia bekerja sebagai PR di sini, terlihat dari nada bicaranya yang lugas. “Saya karyawan baru di sini, mbak. Kantor saya di lantai tuju.” Lagi-lagi hening setelah itu, entah apa yang ada dalam pikiran laki-laki itu, sepertinya sedang banyak masalah.
Sementara itu senja semakin terlihat indah namun perlahan warna jingganya mulai memudar. Dua pasang tatap saling memperhatikan keagungan Tuhan dari balik jendela lantai 4. “Kalau ada masalah pekerjaan itu mbok ya jangan dipendam sendiri, mas, nanti cepet stres, akhirnya pekerjaan yang lainnya nanti malah semakin berantakan.” Darimana ia tahu kalau laki-laki itu sedang ada masalah pekerjaan? Sok tahu, lagi pula dari tadi percakapan mereka berdua tak menyinggung sedikitpun tentang masalah pekerjaan. “Mas… banyak teman saya yang seperti kamu, kebanyakan karena masalah pekerjaan, sering murung, tiba-tiba menjadi pendiam, ya seperti apa yang saya lihat pada diri kamu sekarang ini.” Laki-laki itu tersenyum sembari tersipu malu, entah malu karena apa. Namun yang pasti setidaknya perempuan itu berhasil mencairkan suasana hati laki-laki tersebut.
Adzan magrib mulai berkumandang. Semesta sudah memperbolehkan mereka berbuka bagi yang menjalankan ibadah puasa. “Sudah adzan magrib, mas, saya ada acara buka bersama di devisi saya. Kalau nggak keberata, mas bisa main-main ke kantor saya lantai lima.” Ujar perempuan itu sembari memberikan karu nama pada laki-laki tersebut. “Siapa tahu saya bisa bantu kamu, mas. Dan siapa tahu juga mas bisa memberikan pengalaman baru pada saya.” Lagi-lagi senyuman perempuan itu berhasil mencairkan suasana hati laki-laki tersebut. Dan tanpa mereka sadari, sebenarnya Tuhan sedang mempersiapkan pertemuan selanjutnya untuk mereka berdua, entah dengan cerita apa, semesta sulit untuk ditebak, bukan?
Anggap saja ini tabarak ramadhan, anggap saja ini awal mula tabarak untuk laki-laki yang hatinya masih saja meraba-raba akan cintanya.
“Kalau ada masalah pekerjaan itu mbok ya jangan dipendam sendiri, mas, nanti cepet stres, akhirnya pekerjaan yang lainnya nanti malah semakin berantakan.” Perkataan dan senyuman perempuan itu selalu terngiang didalam kepala laki-laki tersebut. Awal mula adanya perasaan cinta itu sederhana. Semoga laki-laki tersebut pandai menyikapinya. Semoga.
Dari percakapan dua pasang tatap kala senja diawal bulan ramadhan.