Kualitas Pemimpin dan Rakyatnya
Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah mengatakan: “Sesungguhnya di antara hikmah Allah Ta’ala dalam keputusan-Nya memilih para raja, pemimpin dan pelindung umat manusia adalah sama dengan amalan rakyatnya bahkan perbuatan rakyat seakan-akan adalah cerminan dari pemimpin dan penguasa mereka. Jika rakyat lurus, maka akan lurus juga penguasa mereka. Jika rakyat adil, maka akan adil pula penguasa mereka. Namun, jika rakyat berbuat zholim, maka penguasa mereka akan ikut berbuat zholim …”
Kualitas pemimpin itu gambaran mayoritas kualitas masyarakatnya. Saya mencoba menggambarkannya dalam perspektif sistem. Panah yang ditandai dengan huruf A tandanya positif yang berarti sebab akibat yang semakna atau searah, artinya kalau kualitas rakyatnya baik maka kualitas pemimpinnya juga baik.
Saya juga menggambarkan ada dua versi kepemimpinan. Pada “versi ideal” gambar sebelah kiri, panah B yang berwarna merah tandanya positif, artinya pemimpin yang baik akan berusaha memperbaiki kualitas masyarakatnya. Loop yang terbentuk adalah loop positif yang bermakna growth (tumbuh). Apa artinya, baik kualitas masyarakat maupun kualitas pemimpin kedepan akan semakin baik.
Pada gambar sebelah kanan, “versi aristokrasi, oligarki, teknokrasi, dan semisalnya” yang berarti kekuasaan berada pada golongan tertentu saja, panah yang ditandai huruf B tandanya negatif. Artinya, pemimpinnya akan membuat masyarakatnya tetap pada kualitas yang sekarang atau bahkan dibuat makin buruk, dibuat makin bodoh, dst. Biar apa? Coba lihat loop yang terbentuk, loop-nya negatif. Loop negatif itu artinya goal seeking, atau keadaan suatu negara tetap pada keadaan tertentu. Bahasa di dunia nyatanya, biar kekuasannya langgeng terus. Tapi sisi lain juga bermakna, masyarakatnya dibuat agar kualitasnya seperti itu-itu saja. Jadi seperti lingkaran setan lah.
Jadi, bagaimana cara memperbaikinya? Di dalam strategi/kebijakan dikenal istilah leverage point atau titik pengungkit. Yakni, dimana intervensi strategi/kebijakan harus ditempatkan agar keadaan suatu sistem berubah. Sebenarnya bisa dua, (1) ubah kualitas pemimpinannya atau (2) ubah kualitas masyarakatnya. Kalau mengubah kualitas pemimpin, tapi kan pemimpin dipilih oleh masyarakat. Kembali ke panah A, ya pemimpin yang terpilih bergantung kepada kualitas masyarakatnya. Atau pilihan strategi yang kedua, ubah kualitas masyarakatnya. Saya kira ini yang paling tepat dalam mengubah keadaan sistem. Ini relevan dengan firman Allah SWT. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri…” (Q.S Ar-Rad: 11) Walloohu a’lam



















