Izin menurut KBBI artinya pernyataan mengabulkan; tidak melarang; persetujuan; membolehkan.
Aku adalah tipe manusia yang sensitif dengan izin. Bagiku permintaan izin adalah satu hal yang penting untuk menunjang kehidupan, apalagi dalam urusan bermuamalah.
Permintaan izin yang aku maksud bukanlah permintaan izin yang tertulis atau formal melalui surat, tapi permohonan izin secara verbal. Cukup diucapkan dengan kata atau kalau memang tak bisa langsung menemui orangnya, minimal bisa dengan pesan singkat.
Bagiku izin ini penting. Aku adalah tipe-tipe manusia yang paling tidak suka jika ada orang lain yang mau meminjam atau memakai barang-barang aku tanpa seizin aku. Bukannya aku tak mau meminjamkan apa yang aku miliki, hanya saja aku ingin orang lain yang akan meminjam kepunyaan aku itu punya tata krama dan etika sebelum meminjam barang orang lain. Lagian kalau meminta izin ke yang empunya barang, setidaknya diri ini tahu kalau yang punya barang tersebut juga tidak atau akan memakai barang yang akan dipinjam dalam waktu yang bersamaan.
Aku akan kesal dan sedikit menggerutu jika aku tahu ada orang yang telah memakai barang-barang aku tanpa terlebih dulu izin padaku. Entah itu orangtua, saudara, keluarga, sahabat, teman ataupun orang yang baru dikenal, I think you need permission from me. Gak usah panjang lebar izinnya, cukup dengan "In, boleh gak aku pinjem ini?" or "In, kalau ini lagi gak dipake boleh dipinjam?". So simple kan?
Aku menulis tentang izin ini karena aku sedang kesal pada orangtuaku. Ketika aku mempercayakan pada mereka untuk membantu menyimpankan salah satu barang yang aku beli dari hasil jerih payahku, tapi kemarin aku baru tahu, mereka meminjam dan menjual barang tesebut tanpa seizin aku. Bahkan sampe sekarang meskipun aku sudah tahu, tidak ada satu patah kata permohonan izin atau penyesalan yang mereka keluarkan. Mereka hanya berucap nanti juga diganti lagi kok.
Ada perasaan kecewa dan sedih. Bukan karena barang tersebut telah dijual, tapi lebih karena rasa percayaku yang hilang untuk mereka. Aku merasa orangtua aku tak bisa amanah pada apa yang aku percayakan sebelumnya pada mereka.
Aku tak mau menjadi anak yang durhaka, tapi sungguh aku sekarang merasa begitu kecewa dan tidak ikhlas atas tindakan mereka. Sejujurnya aku tak pernah masalah jika orangtua aku meminjam bahkan menjual titipan aku tersebut, hanya saja yang aku perlukan dari mereka adalah izin dariku sebelum menjualnya.
Kini rasanya hatiku tak bisa kembali percaya pada mereka. Masih ada perasaan tidak ikhlas dan kecewa yang bercampur sedih. Allah, harus bagaimanakah aku mengondisikan hatiku sekarang?