“S, kamu marah padaku?” A menghampiri S yang sedang duduk di bangku paling pojok, tepat di sebelah jendela yang menghadap ke jalanan.
“Ada apa, A? Marah? Apa maksudmu?” S mengeryitkan dahi.
“Kenapa kau tak bisa dihubungi?” tanya A.
“Oh, itu. Bukankah itu maumu?”
“Aku hanya ingin kita tak ada hubungan special seperti dulu, Aku ingin kita tetap bersahabat, S.”
“Kau tau, A? Kau begitu egois. Setelah kau buat aku berkelulur karena kau putuskan secara sepihak, kini kau mau kembali datang padaku. Sudah cukup A, jangan kau buat aku semakin berkelukur.” S menatap mata A dalam. Ada nada putus asa dalam ucapannya.
“Apa? Aku egois?” Suara A meninggi.
“Iya, A. Harus aku katakan berapa kali bahwa aku sudah cukup tersiksa karena kau memutuskan hubungan ini secara sepihak. Biarlah aku memenuhi inginmu untuk membuktikan bahwa aku memang cinta kamu. Biarlah kelukur ini menjadi penghantar cerita menuju masa depan yang lebih baik, A.” S berujar serius, “Seperti inginmu, A. Biarlah aku juga mengikutimu, berusaha menjadi lebih baik agar kau tak menyesal ketika nanti menerimaku lagi.”
A membalas tatapan S dalam. Tanpa sadar matanya seketika basah.
“Maaf, S. Aku harus pergi.” A ijin pamit dengan S.
“Secepat itukah? Kau selalu saja seperti itu, A. Kenapa kau menghindari sesuatu yang seharusnya kau selesaikan. Mari bicarakan baik-baik. Cukup aku yang berkelukur, jangan sampai kau berkelukur, nanti kau bisa sakit A.” S mencoba menahan A.
A kembali duduk di kursinya. Matanya menoleh ke arah jendela.
“Baiklah A. Mau kau yang memulai atau aku yang memulai?”
“Serius? Bukankah lebih baik engkau yang memulainya?”
“Hmm… Baiklah aku mulai. Aku minta maaf padamu, S. Apa yang kau katakan benar! Aku memang egois. Bantu aku S. Aku memutus hubungan ini bukan karena aku tak lagi sayang padamu. Aku ingin taat, S. Sungguh ketika aku ingin taat, selalu saja ada ujian untukku. Kau sudah tahu bukan bahwa B menghubungiku secara tiba-tiba? Aku terlena ketika membalas pesannya. Tapi tak ada satupun niat untuk memilikinya. Aku pu tengah berusaha untuk tidak selalu membalasnya. Aku tengah mengelola perasaan ini agar aku tidak lagi kembali suka padanya. Karena kau sudah tahu bukan, S? Ketika kita bersahabat dulu dan sebelum rasa ini menghianati persahabatan kita menjadi cinta, aku begitu menggilai B. Dan ketika aku sudah ingin berubah, B datang padaku. Aku akan mencoba sebaik mungkin, S. Doakan. Perihal rasa untukmu pun begitu. Biarlah hati yang akan menuntunnya. Terima kasih, S. Kau sahabat terbaikku. Aku tak menganggapmu mantan karena tidak pernah ada kata jadian, bukan? Aku hanya ingin mengakhiri hubungan tanpa status yang kita miliki. Lebih baik bersahabat, bukan?” A menyampaikan uneg-unegnya panjang lebar. Senyum polosnya mengakhiri apa yang ia katakan. Suasana hatinya menjadi lebih lega dari sebelumnya. “Sekarang giliranmu, S!”
“Aku senang mendengar kejujuranmu. Aku terima keputusanmu. Ya, aku paham bagaimana perasaanmu ketika B menghubungimu. Doakan juga aku bisa benar-benar rela dan menjadi lebih taat.” S menyeruput hot chocolate miliknya. “Sekarang biar aku antar kau pulang, langit di luar tampak mendung. Bisa-bisa kau kehujanan jika kau pulang sendiri.
S bangkit dari kursinya. A mengikuti dari belakang. Mereka berdua menuju basement. 5 menit kemudian, honda jazz merah milik S melaju melewati kemacatan kota.