Pertama atau Terakhir?
Menjadi yang pertama pasti ada bedanya dengan menjadi yang terakhir. Banyak hal tidak bisa disamakan, masing-masing memiliki beban dan ujian masing-masing. Terutama dalam kehidupan sebagai anak.
Menjadi anak pertama mungkin tidak mudah untuk sebagian orang. Yang terlahir dalam keluarga berada mungkin bisa jadi sebuah priviledge dan kemudahan untuk anak pertama. Diahanya perlu fokus pada usaha dan pencapaian sendiri dengan tentunya mendapat dukungan penuh dari keluarga. Bagaimana jika berasal dari keluarga biasa saja? atau bahkan kekurangan?
Anak pertama dari keluarga ‘kurang’ pasti sebagian besar akan menjadi sandwich generation. Si Sulung pasti akan ikut menopang beban tulang punggung keluarga, membantu adik-adiknya untuk ‘berdiri sendiri’. Bahkan tak jarang, para anak sulung ini tidak memikirkan kepentingan pribadinya. Segala sesuatunya terfokus untuk keluarga, bukan untuk dirinya sendiri. Tak sedikit pada akhirnya mereka tidak memikirkan untuk memiliki keluarga kecilnya sendiri hingga adik-adiknya bisa berumah tangga lebih dulu.
Di sisi lain, ada si anak terakhir yang terkesan ‘manja’. Tapi pernahkah kita melihat sudut pandang lain dari si Bungsu? Untuk si Bungsu yang terlahir di keluarga berada, keluarga harmonis dan masih ‘utuh’ kedua orang tuanya, akan sangat memudahkan dirinya dalam menggapai semua cita-citanya. Namun, hal itu tidak terjadi pada si Bungsu yang memiliki PR-PR besar dari kakak-kakaknya. Si Bungsu selalu menjadi opsi terakhir dari setiap kegagalan kakak-kakaknya atau bahkan kegagalan orang tuanya. Hal apa saja yang belum tercapai dari terdahulu pasti secara tak disadari akan menjadi ‘harapan’ atau bahkan beban tugas buat si Bungsu. Tidak hanya tentang pencapaian, Si Bungsu kerap kali menjadi opsi terakhir untuk mengemban tanggung jawab mengurus orang tuanya yang menuju lansia. Apalagi jika hanya tinggal salah satu orang tuanya saja yang masih hidup. Kakak-kakaknya pasti sudah memiliki kehidupannya masing-masing. Pada akhirnya tidak sedikit yang lebih memprioritaskan perasaan orang tuanya dan memilih untuk melajang menemani orang tuanya yang sendirian pula.
Baik menjadi yang pertama atau yang terakhir pasti memiliki porsi ‘beban’nya masing-masing, tinggal bagaimana cara mereka dalam menyikapinya...














