.
#CintadariKebaikan #SimpleKindness
.
Setiap pekerjaan selalu menuntut tanggung jawab pekerjanya, salah satunya adalah ketika tanggung jawab tersebut memintaku untuk melakukan pekerjaan dalam ekstra waktu tambahan. Ada pada satu waktu ketika aku dituntut memenuhi tanggung jawab pekerjaan untuk bekerja lembur di kantor yang artinya aku akan mengakhiri rutinitas harianku lebih larut dibandingkan seharusnya pada hari biasanya. Mau tidak mau aku pun patuh untuk memenuhi tanggung jawab itu sebagai seseorang yang terikat pada pekerjaan. Dan konsekuensinya yang harus aku terima adalah menerobos pekat malam untuk tiba di rumah setelah menyelesaikan kerja-ekstra-tak-terduga. Aku akhirnya meninggalkan kantor tempatku bekerja jam sembilan malam. Aku berusaha untuk bekerja cepat menyelesaikan pekerjaan yang diamanatkan padaku untuk segera diselesaikan hari itu juga, agar esok harinya hanya perlu diserahkan saja pada pimpinan. Bekerja cepat, namun juga dengan ketelitian yang tidak diabaikan. Mengejar waktu agar tidak memakan waktu hingga mendekati tengah malam. Pemandangan mengejutkan aku dapati ketika keluar dari kantor dan berjalan menuju halte di depan kantor untuk menunggu taksi yang akan mengantarkanku pulang dengan selamat hingga ke rumah. Beni, rekan kerjaku di kantor namun berbeda divisi, menghampiriku dengan mobil yang dikendarainya. Ia membuka jendela mobilnya dan melongokkan kepalanya keluar. Sedangkan aku yang agak terkaget dengan seseorang yang tiba-tiba menghampiriku seperti itu, tanpa sadar mundur beberapa langkah dari posisiku semula. “Ayo naik, Han..” ujar Beni sambil membukakan pintu mobilnya dari dalam untukku. “Memangnya rumah kamu dimana?” tanyaku yang sebenarnya masih agak heran dengan kebaikan Beni yang menurutku tiba-tiba ini. Wajar jika aku merasa heran, pasalnya meskipun kami saling mengenal, hubungan kami tidaklah sedekat itu untuk pulang bersama. Hubungan kami sebatas Beni yang adalah kakak kelasku semasa SMA yang kembali dipertemukan di tempat kerja yang sama, itu pun di divisi yang berbeda. Bahkan aku sama sekali tidak merasa mengenal bagaimana Beni secara pribadi selain sekedar tahu kami pernah berada di sekolah yang sama dan sekarang pun bernaung di perusahaan tempat bekerja yang sama. “Searah, kok. Bahkan sebenarnya tempat tinggal kita sebelahan gang aja di satu komplek yang sama,” sahut Beni yang terdengar berusaha meyakinkanku. Dan aku tidak tahu, bahkan tidak menyadari jika itu benar. Bahwa kami tinggal di satu komplek perumahan yang sama. “Tenang aja. Aku gak bakal menculik kamu. Aku cuman merasa gak enak lihat cewek yang pulang malam sendirian.” Eh? Kenapa dia harus sebegitu perhatian? Aku lantas mengiyakan ajakan kebaikan tersebut dan masuk naik ke dalam mobilnya. *** Aku sedang menikmati menu santap siangku di kantin kantor ketika Kayla mengusikku dengan mengatakan hal-hal yang menurutku cukup layak diabaikan. Namun Kayla terus memanggil dan memintaku untuk menujukan fokus perhatianku pada sesosok pria yang menurutnya terus melirik ke arah kami. Dan rasa sabarku menghilang saat Kayla tidak hanya merengek, ia bahkan menarik piring yang berisi menu makan siang yang sedang aku nikmati. Aku pun mengangkat kepalaku, menatap Kayla dengan kesal sesaat lalu mengalihkan pandanganku pada sosok yang dimaksudnya. Tepat di meja yang berseberangan dengan kami, dipisahkan satu meja yang tidak ada siapa pun duduk disana, aku mendapati Beni yang tampaknya telah menatap secara intens ke arahku sejak tadi. Namun aku tidak bersedia dikalahkan oleh rasa terlalu percaya diri begitu saja. “Iya, disana ada cowok yang memperhatikan ke kamu. Lalu kenapa?” aku memberikan respon akhirnya kepada Kayla yang mencerewetiku sejak tadi. “Aku?” tanya Kayla sambil menunjuk dirinya sendiri dengan raut ragu. “Lah.. kalau bukan ke kamu, kenapa kamu ribut terus dari tadi?!” sahutku dengan nada agak kesal sambil kemudian merebut kembali piring berisi makan siangku. “Beni fokusnya bukan ke Kayla, tapi ke kamu, Hani.” Tiara yang baru saja bergabung berujar dan berhasil mengalihkan fokus perhatian kami padanya, terutama Kayla yang tampak sangat ingin tahu. “Dengar-dengar malam tadi ada yang diantar pulang sama Beni,” ujar Tiara lagi yang kali ini berhasil mengundang kernyitan heranku. “Oh ya? Kamu, Han?” Kayla menebak tepat sasaran. Aku yang merasa keduanya sedang berusaha menggodaku pun mencoba tidak peduli dengan melanjutkan makan siangku. “Kayaknya kamu tahu banget tentang dia, Ra. Cerita dong gimana dia, karakternya. Apa dia sebenarnya cocok atau gak untuk sahabat kita satu ini?” tanya Kayla mencari tahu. Sambil tetap menikmati santap siangku, telingaku tetap menajam, diam-diam ikut mendengarkan. Dari kriteria yang dijabarkan secara gamblang oleh Tiara, secara keseluruhan Beni sebenarnya memiliki kepribadian yang baik. Hanya saja.. ada satu hal minus yang dimiliki Beni, ah mungkin dua. Beni adalah perokok aktif, serta ketika luang, Beni pun tidak ragu untuk menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang di klub malam. Dan –terserah orang mau bilang apa- aku sama sekali tidak suka pada kebudayaan barat satu itu. Itu hanyalah kegiatan senang-senang yang sama sekali tidak berguna dan merusak diri sendiri dengan minuman yang disediakan. “Tapi, Han. Sebenarnya bohong besar kalau dia bilang kalau kalian tinggal di komplek perumahan yang sama, apalagi sebelahan gang. Sangat jelas bahwa arah rumah kalian sebenarnya berlawanan,” ungkap Tiara mengejutkan. Untuk apa dia berbohong? Apa itu alasan yang digunakannya agar aku bersedia diantar pulang olehnya? Jika itu benar, maka jangan-jangan..? Ternyata tidak hanya itu, ada satu lagi kebenaran tentang Beni yang kini aku ketahui dari Tiara. “Dia kemarin pulang malam barengan sama kamu bukan karena dia juga lembur, tapi dia memang sengaja menunggu kamu. Dan itu sebenarnya yang ia selalu lakukan, yaitu pulang ketika memastikan kamu sudah benar-benar pulang dengan selamat ke rumah.” Dan kemudian, entah kenapa ketertarikanku mendadak timbul untuk lelaki itu. Ketertarikan yang berubah menjadi rasa perhatian dan ingin mengenal lebih dalam. *** “Hani?” Jelas sekali raut heran yang tergambar pada wajah Beni ketika ia mendapatiku berdiri di samping mobilnya pada jam pulang kantor. Aku lantas tersenyum menyambut kedatanganya. “Aku mau ngasih ini ke kamu.” Aku menyodorkan paper bag berukuran kecil padanya. “Apa ini?” “Yang jelas itu adalah hal yang sangat kamu perlukan. Silahkan lihat sendiri,” ujarku mempersilahkan Beni melihat isi dari paper bag yang aku sodorkan padanya. Beni membuka paper bag dan mengeluarkan isinya dengan lagi-lagi raut heran pada wajahnya. Ia mengeluarkan sebuah buku dengan cover depan adalah gambar sepuntung pokok yang menyala dengan asapnya. “Itu buku yang cocok untuk seseorang yang ingin memberikan paru-paru yang sehat untuk dirinya sendiri, juga untuk orang lain,” ujarku. Aku kemudian menambahkan alasanku memberikan buku itu padanya, “itu hadiahku karena kemarin malam kamu berbaik hati mengantarkanku dengan selamat tiba di rumah. Kamu harus terima buku itu.” “Kamu gak suka cowok perokok?” Aku mengangguk. “Dan harusnya kamu cari tahu lebih banyak tentang aku sebelum berani memutuskan untuk menyukaiku. Karena jika kamu menolak untuk berhenti merokok, maka kamu harus berpikir dua kali untuk memutuskan menyukaiku.” “Itu artinya kamu bersedia untuk–” Aku segera menggeleng. “Aku lihat dulu perkembangan diri kamu dalam berubah dari kebiasaan buruk merokok. Lalu aku juga akan melihat usaha terang-terangan dari kamu mendapatkan hatiku. Bukan kah selama ini kamu hanya menyukaiku diam-diam?” Beni mengangguk sambil tersenyum. Mengatakan secara tidak langsung bahwa ia setuju denganku untuk memperlihatkan usahanya. Dan aku pun ikut tersenyum membayangkan kisah kami selanjutnya. Siapa sangka. Hanya berawal dari sebuah ajakan tumpangan untuk pulang tiba di rumah dengan selama, ternyata dapat membawa kami pada kisah seperti ini. *** °°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
.
#cintapadapandanganpertama #cintapertama #cintasejati #cintasampaimati #cintaabadi