Lautan Kehidupan
Lautan yang luas itu penuh dengan kejutan, sehingga tiap hal yang akan disebrangi perlu perhitungan serta intuisi.
Kapalku terombang ambing, setelah semalam hampir karam diterjang buruknya ombak kehidupan. Apa yang salah saat itu? Aku yang percaya bahwa kemampuanku, ditambah kekuatan kapalku cukup mempuni sehingga aku merasa akan baik-baik saja. Namun itu semua bagai menguap tak tersisa. Sehingga kelamaan, pikiran itu terlintas seputar apa benar bahwa aku ini memang baik-baik saja.
Satu purnama lalu aku mendaftarkan diri untuk mengikuti pelatihan itu, pelatihan seputar lautan kehidupan yang sudah mahsyur di berbagai kalangan. Sebab utama aku ikut pelatihan ini, karena sepintas pikiran itu yang berpikir apa benar baik-baik saja diri ini.
Malam sebelum berangkat kondisi hati sama buruknya dengan kondisi kapal ini, seseorang itu memberi kabar tentang perpisahan yang mengisyaratkan bahwa cinta itu bukan cuma butuh usaha untuk meyakinkan namun harus berusaha berupa tindakan. Selepas itu aku mencoba mengiklaskan dan mungkin menyesalkan tentang penilaian itu. Sebab mana pantas seorang pria menyombongkan pencapaiannya, begitu pikirku. Aku tertegun, meski nyatanya hati ini belum juga kembali terbangun.
Berangkat seorang diri menuju tempat pelatihan itu, hanya berbekal hasil observasi dari kabar sesama pelaut negeri ini. Aku hanya ingin pergi dari tempat ini, meski tidak untuk selamanya, harapku agar itu cukup untuk memperbaiki bingkai harapan hati ini.
2 Januari 2020|
(c) adikurniawan











