Pertama kali ketika saya mendengar lagu “Who You Say I Am?” dari Hillsong, langsung menyentuh hati mendengar lirik pertamanya "Who am I that the highest King would welcome me?" dan detik itu hati saya langsung terenyuh dan merenung dalam keheningan bertanya kepada Tuhan ‘Who Am I’, mengapa aku diciptakan?’
Who am I that the highest King would welcome me?
I was lost, but He brought me in
Oh His love for me
Who the Son sets free
Oh, is free indeed
I'm a child of God, yes, I am
Free at last, He has ransomed me
His grace runs deep
While I was a slave to sin, Jesus died for me
Yes, He died for me
In my Father's house
There's a place for me
I am chosen, not forsaken
I am who You say I am
You are for me, not against me
Kadang ketika orang bertanya “who are you”, mayoritas biasa menjawab nama, profesi, pekerjaan ataupun asal usul keluarga kita, suatu pertanyaan yang terdengar naif dan sangat mudah dijawab dan rasanya konyol. Pertanyaan ini bukan masalah nama atau identitas kita, tapi masalah cara kita melihat diri kita dan apa tujuan hidup kita.
Dalam Kej 1;26 Allah berfirman 'Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi”. Sebelum kita bertobat dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, kita sesungguhnya berada di dalam cengkeraman kuasa kegelapan, "Dahulu memang kamu hamba dosa," (Roma 6:17).
Allah mengenal setiap kita, sejak kita masih dalam kandung ibu kita, karena Allah yang membentuk kita, Yesus meminta kita untuk merenungkan pertanyaan yang sama Ia ajukan ke Simon Petrus "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini? “Free at last, He has ransomed me, While I was a slave to sin, Jesus died for me” hanya karena kasih-Nya…Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." (Yohanes 3:16). Saat kita mau membuka hati kepada Tuhan untuk hadir dalam hidup kita, Ia meminta kita untuk merenungkan betapa besar kasih-Nya dan membiarkan Roh Kudus bekerja menyentuh hati kita dan menjawab panggilan-Nya “I am chosen, not forsaken, I am who You say I am”.
Allah “memberi kuasa” berdasarkan kemurahanNya. “Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah,” (1 Yoh 3:1). Kasih dan pengampunan Tuhan ditawarkan kepada setiap umat manusia. Tuhan mengasihi kita bukan hanya saat kita bertobat dan mengakui dosa kita, Tuhan mengasihi bahkan saat kita masih berdosa seperti tertulis di Rom 5 : 8 “Akan tetapi Allah telah menunjukkan kasih-Nya kepada kita oleh karena Kristus telah mati untuk kita ketika kita masih berdosa”. Allah berjanji untuk untuk menerima siapapun yang datang kepada-Nya (Yoh 6:37). Tuhan berjanji untuk mengampuni segala dosa dan menyucikan kita dari segala kejahatan (I Yoh 1:9). Tuhan mengampuni dan memulihkan kita secara total.
Kasih Allah tanpa batas. Ia mengasihi manusia bahkan ketika mereka berulang kali melukai hati-Nya melawan Allah. “He keep giving second chances, Far above what I deserve”. Ia mengasihi manusia yang tidak layak dikasihi. “He keep telling me I'm worth it”, yang seharusnya mendapatkan murka-Nya, justru memperoleh kasih-Nya. Puncak kasih Allah dinyatakan-Nya melalui pengorbanan Putra Tunggal-Nya, seperti tertulis dalam Yoh 3;16 “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”
Dipanggil untuk melayani Tuhan adalah kasih karunia yang luar biasa! Sebagaimana Kristus datang ke dunia bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani, orang percaya juga dipanggil untuk melayani. Kita sudah dibebaskan dari belenggu dosa berarti kita tidak lagi menjadi hamba dosa, melainkan "...aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku" (Galatia 2:20a).
Saat kita mengizinkan Tuhan untuk mengubah hati dan menerima esensi tentang hidup, kita akan mengetahui siapa diri kita sebenarnya dan kita pun melayani Dia di manapun kita berada dengan meneladani kasih Yesus dalam hidup kita sehari-hari “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” Yoh. 14:9 b
Marilah mulai hari ini kita berusaha untuk menjadi saluran kasih Tuhan bagi orang lain dengan menjadi pewarta kabar kasih-Nya. Saya telah di utus membawa Amanat Injil-Nya dan merasakan sukacita kehadiranNya, kapan giliran anda????
Berkah Dalem













