Bukan tentang aku, ini tentang sepasang kekasih gelap yang sedang duduk bersisian di tepi selokan. Bermesraan, mungkin. Â
Namun kemesraan itu malah membuatku yang sedang memperhatikan mereka menjadi iba. Karena aku sadar, kemewahan menatap purnama di langit tidak mampu dirasakan oleh pasangan kekasih gelap. Terlalu terang. Terlalu terang-terangan. Mereka harus memuaskan diri dengan hanya menatap purnama di selokan.
Perlahan gadis itu mencelupkan kakinya ke selokan. Riak air timbul bersamaan dengan pertanyaanku. Gadis itu lalu hanya terdiam, tersenyum pada kekasihnya. Senyumnya begitu tenang sehingga mampu memukul mundur segala pertanyaanku kembali ke dalam benak. Hilang, layaknya riak air yang juga segera hilang.
“Kau sedang berterima kasih? atau malah sedang mencoba menapak di atas bulan?” Suara kekasih lelakinya samar-sama terdengar sampai ke tempatku berada. Sementara sang gadis hanya terkikik pelan, sambil mengangguk. Entah mengangguk untuk jawaban yang mana.
Aku menghela napas. Malu. Bayangkan! Gadis itu kini sedang berterima kasih dengan mencoba mewujudkan mimpi sang selokan. Meredakan sedikit rasa cemburu selokan itu pada selokan-selokan bersih di desa atau negeri lain. Dimana orang-orang dengan senang hati mencelupkan kakinya ke dalam. Merasakan gelitikan ikan-ikan kecil memakan kulit mati mereka. Sementara gadis itu harus merelakan kuman-kuman menggelitik memakan sel-sel hidup di kakinya.Â
Dan aku? Semenjak selokan itu dibuat, setelah jutaan tetes air hujan ia tampung, ratusan banjir ia hindarkan, hanya mampu memaki, mencela, dan mengeluh. Tanpa berterima kasih, tanpa membantu.
“Masih lama?” Gadis itu bertanya kepada kekasihnya. Kekasihnya lalu melihat ke atas. Aku juga. Awan masih bergumpal kelabu menuju ungu, langit tak berbintang seperti biasa, dan purnama masih sembunyi di balik selimutnya, menyembulkan sedikit pipi kirinya, mendengkur.
“Sebentar lagi,” Jawab kekasihnya itu, “ Maaf ya, aku tak bisa melihat purnama di langit bersama mu.”
“Tak apa, terlalu terang. Aku tahu siapa aku.” Senyum sendu tergulir di bibir gadis itu. “ Dan lagi, kita tak perlu bertingkah layaknya pasangan jarak jauh. Tak perlu menatap purnama agar merasa dekat dengan kekasihnya.”
Purnama lalu menggeliat dari balik selimutnya. Pipi tembamnya terlihat sempurna. Cantik. Keruhnya air selokan juga sampah-sampah yang mengalir tak mengurangi kecantikannya.
Kuperhatikan lagi pasangan kekasih gelap itu. Mesra. Dua pasang mata menatap purnama di selokan. Kotor memang. Gelap. Namun itu tak mengurangi kemesraan tersebut. Karena bagaimanapun, seseorang akan berkorban lebih, menyanyangi lebih kepada pasangan gelap mereka dibanding kepada kekasihnya sendiri.