“Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang bertanya kenapa.
Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk memecahkan cermin membakar tempat tidur. Ia hanya ingin menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi.”
- Pada Suatu Pagi Hari, Sapardi Djoko Damono
Saya mengenal Eyang SDD melalui puisi ini dari koran Kompas di hari Minggu ketika saya SMA. Puisi ini sendiri ditulis beliau pada 1973. Saya langsung jatuh cinta pada gaya puisi dan tema yang dibawakannya. Begitu liris membicarakan bentuk emosi paling raw dan underrated manusia: sedih, karena jelas ia di puisi tersebut bukan sedang ingin menangis bahagia.
Sedih selalu jadi emosi manusia yang dianggap tabu, kurang baik, bahkan kalau bisa disembunyikan agar orang lain tidak ada yang tahu. Padahal merasa sedih, sama juga dengan merasa bahagia, adalah salah satu bentuk emosi manusia yang paling dasar. SDD bisa begitu nyata menggambarkan perasaan dan keadaan yang, saya yakin, banyak dari kita pernah merasakannya.
Sejak saat itu, saya selalu mengagumi karya-karya SDD hingga berburu buku puisi dan tanda tangannya ke rumahnya di Kompleks Dosen UI di Ciputat. Sayang, saya kurang beruntung tidak bisa bertemu dengan beliau. Dari beliau, saya juga belajar mengenali, memahami, dan menerima perasaan saya sendiri lalu menuangkannya ke dalam bentuk tulisan sebagai salah satu coping mechanism.
Yang fana adalah waktu, karyamu abadi.
Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali.