Infaq Baik & Generasi Roti Lapis
Sandwich Generation. Fase yang sebagian orang mengatakan ini seakan-akan adalah lingkaran setan. Terlahir tersebab generasi sebelumnya juga mengalami hal yang sama, dan generasi sebelum-sebelumnya juga mengalaminya. Sehingga keadaan ini menjadi seperti warisan yg menunggu giliran.
Terlihat menyedihkan memang. Ketika seseorang mungkin baru saja sampai pada salah satu pencapaian kemandirian dalam finansial, tapi nyatanya ia harus dipaksa menjadi bagian dari yang menanggung urusan finansial orang tua dan keluarga.
Belum lagi ditambah dengan kondisi presepsi dunia yang cenderung memberikan pemaknaan fase ini pada konotasi negatif, menjadikan mereka seakan manusia yang sedang lara. Tak merasa punya bahagia.
Padahal, tentu saja tidak.
Allah dengan kesempurnaan yang melekat padaNya, tidak sedang menjadikan orang-orang yang berada pada fase ini menjadi orang-orang yang bersedih. Apalagi orang-orang yang terbebani. Tidak akan pernah sedikit pun Allah menempatkan hambaNya yang beriman pada kondisi buruk. Apa-apa yang dipilihkanNya adalah yang terbaik. Lebih baik dari apa-apa yang bahkan kita anggap terbaik.
Kita mungkin tidak sadar, jika mereka yang berada pada generasi tersebut adalah orang-orang istimewa yang Allah mampukan untuk berbagi? Yang Allah mampukan untuk memberi.
Belum lagi tentang ayatNya yang ini,
“Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: "Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan". Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya. (Qs. Al Baqarah: 215)
Sungguh. Allah telah memampukan mereka untuk memberikan infaq kepada orang tua. Berbagi nafkah kepada keluarga. Sebuah kesempatan amal yang berlapis-lapis. Jariyah yang tak akan pernah habis.
Telah kita ketahui, bukan? Ketika Allah menempatkan seseorang pada suatu kondisi, Allah sendiri yang akan membersamai. Maka selayaknya kita yang berada pada fase ini berbahagia, karena Allah selalu bersama kita—memberikan keistimewaan yang mungkin tidak diberikan kepada selain kita.
Banyak orang-orang di luar sana, yang telah diberikan banyak rezeki, namun tidak diberikan hati yang mudah untuk berbagi. Walaupun mereka tengah berlimpah materi.
Maka, tak perlu lagi ada rasa sedih. Tak perlu lagi merasa terbebani. Saatnya menaruh penerimaan yang besar dan rasa ikhlas yang dalam pada hati, lalu menyelimutinya semua dengan kesyukuran yang tinggi.
Dunia boleh mengatakan apa yang kamu lakukan adalah beban kehidupan. Namun, di sisi Allah ia dapat bernilai aktivitas penghambaan. Sebuah amal kebaikan yang tinggal menunggu ganjaran.
Bersabarlah, berbahagialah. Kini kamu bisa menguatkan hati, jika apa yang kamu lakukan saat ini adalah bagian dari infaq yang baik, memberikan kebaikan yang pasti akan berbalik.
Salam hangat untuk kalian yang Allah berikan fase istimewa. Nikmatilah bagaimana Allah menunjukkan rasa sayangNya pada kita. Dan yakinlah, hanya dengan keimanan yang membuat semua akan memiliki rasa yang berbeda.













