#shadowwork : bola salju bernama amarah
belakangan ini, khususnya sejak postpartum, aku jadi kembali sering berjumpa dengan "shadow" di dalam diri yang kukira sudah jinak; amarah.
rupanya, ada banyak serabut akar pemantik amarah yang belum kupeluk. terlalu banyak, bahkan.
setelah melahirkan dan mulai menjalani peran sebagai ibu (postpartum), tanggung jawab harian yang mesti kupikirkan dan kutangani jauh menjadi lebih banyak. sampai-sampai, aku belum pernah merasakan lelah (fisik) yang seintens ini. begitu letih, ringkih, dan payahnya tubuhku sehingga berimbas kepada jeroan (bathin, psikis, shadow). imbasnya benar-benar intens sehingga "wadah" welasasihku terhadap banyak hal luber. tak mampu menampung lagi.
bertoleransi kemudian menjadi hal sehari-hari yang suliiiit sekali untuk aku bagi kepada orang di sekitar, bahkan kepada diri sendiri.
lantaran letih itu, dari ubun-ubunku jadi tumbuh akar bunga sedih yang semakin menhujam setiap hari. sedih dan marah, dan lelah berbaur menjadi satu kesatuan. seperti diaduk dalam satu cangkir. menyatu. kusut.
aku berusaha peluk diriku sendiri setiap malam erat-erat. agar bisa bertahan untuk kembali bangun esok paginya --sekiranya esok masih diberi hidup.
sekitar lima bulan terakhir, khususnya, aku merasakan letih yang jauuh jauuh lebih intens, pekat, tebal, berat. luar dalam, atas bawah, kanan kiri, depan belakang.
pada saat bersamaan, sukar bukan main untuk mentolerir diri sendiri. aku letih tapi tetap harus kupaksa untuk menjalani laku harian. karena, aku tidak menemukan sesiapapun yang bisa menggantikan seluruh tanggung jawab sakral ini, semisal untuk seminggu saja.
lelah yang begitu pekat di bawah permukaan samudera bathin, lantas memaksa kuat-kuat untuk tampil ke permukaan --agar kuperhatikan dan kudengarkan aspirasinya. dan di permukaan, ia hadir dalam satu wujud emosi yang kunamai amarah. yang sesungguhnya netral. tidak salah, tidak benar. tapi karena belum sempat untuk benar-benar kutenangkan dengan seikhlas, amarah itu justru makin merajalela. reaksiku terhadapnya pun keruh.
aku kewalahan.
akhirnya ku tersadar, shadow work bernama "amarah" itu belumlah pulih. masih bercokol. tinggal menunggu milaiaran pemicu lain, kemudian ia siap mencuat, dan bergulir seperti bola salju. meledak!
ya Gusti. sepertinya tak ada pilihan kabur lagi. aku harus duduk dan menyapa shadow work ini. ya, aku harus lebih ikhlas dan halus kepada diri sendiri; memeluk bayang-bayang "gelap" diri (shadow work) yang terus berkecamuk.
ini dulu, catatan pinggir jurnal #shadowwork Matakuna.
~terima dan beri kasih, dari dan kepada diri sendiri.














