Among
Aku Lana, lihat yang sedang duduk di sofa itu? Dia adalah Era, meskipun memiliki rambut panjang, kaki jenjang serta paras menawan, jangan sampai terkecoh karena dia sedang menyamar menjadi seorang perempuan. Lihat saja kelakuannya, kaki di atas meja, tidak mandi dua hari, memegang semangkuk penuh keripik kentang dan makannya yang tidak rapi, aku pernah meyangka dia sebenarnya pernah punya jakun. Kemudian lihat laki-laki yang tidur dipangkuannya, dia adalah Ezra, tingginya seratus delapan puluh, bobotnya tujuh puluh enam, percaya atau tidak umurnya hari ini baru menginjak delapan belas tahun.
“Nyet, ikut nonton sini! Seru, kepala Si Raja bakal dipenggal sama anaknya sendiri”, teriak perempuan jadi-jadian itu dengan mulut penuh keripik kentang. “Iya, Bang. Seru, buru sini!”, Ezra menambahi.
Banyak bagian dari kehidupan kami yang perlu aku deskripsikan terlebih dahulu pada kalian. Kami memang bukan saudara, masing-masing punya orang tuanya sendiri dan kami hanya sedang merasa nyaman terjebak dalam satu rumah. Lihat apa yang sedang aku kerjakan sekarang, memanggang roti ulang tahun untuk Ezra.
“Berisik kalian, mau aku racun makanan-makanan ini? Biar kalian bisa diam.” Aku berteriak dari dapur dengan tak bersemangat, karena aku tahu yang sedang mereka kerjakan adalah membuat rencana kotor, membuatku menyesal sudah berjanji akan menggelar pesta untuk mereka malam ini. Era beranjak dari sofa dengan senyum yang sudah bisa ditebak, roman-romannya dia bakal kemari mendekati dapur. Entah tubuhnya terbuat dari apa, tiba-tiba saja dia sudah berdiri dibelakangku, ”Hey,monyet. Masak yang enak ya buat malam ini, jangan sampai itu kumis aku potong separo nanti, oke?” suaranya yang berbisik mendesah membuat bulu kuduk merinding. Kebiasaan, setelahnya dia bakal melenggang pergi begitu saja, tak lupa pula dia mencubit pipi kemudian berlari secepat kilat.
“kampret ini anak satu!” gumamku.
“Bang...pokoknya kalau nggak enak, entar itu bukumu yang ada di rak aku obrak-abrik. Nggak mau tahu pokoknya, ya?” Ezra berteriak dari kamar mandi, suaranya yang seperti anak belum akil baligh menggema dari lantai dua, membuat Era tertawa. Agar kalian tahu, Ezra punya langkah kaki yang hampir tidak bisa terdengar dan hawa keberadaan yang bisa menghilang kapan saja, aku sudah terbiasa.
“Berisik!!” aku berteriak karena sekarang mereka benar-benar sangat mengganggu.
Suara flush terdengar dari dalam toilet, derap langkah kaki malas yang muncul dari tangga kayu membuatku semakin ingin segera beranjak dari dapur. Ezra berjalan gontai sambil menggaruk kepalanya menuju lemari es menggambil kotak susu kemudian duduk dekat meja dapur dengan sengaja, aku tahu maksudnya,”Bang, kemarin aku lupa nggak kasih tahu abang, aku ngambil obat di kotak. Nggak apa-apa ya? Udah terlanjur ketelen ini.” Dia tersenyum dengan menampilkan wajah tak bersalah andalanya.
“Jangan dibiasain, Zra. Kalau butuh ngomong, biar gampang aku kontrolnya. Itu piyama mau dipakai sampai kapan? Udah siang kali, Zra. Lagian kamu itu umur berapa sekarang tidur masih pakai piyama?” Aku mencoba tenang, membuat obrolan ini terasa biasa saja dan normal begitu adanya. Meski rasanya aku berbicara seperti ibu-ibu paruhbaya.
“Iya, maaf. Kemarin udah nggak tahan soalnya kambuh dadakan, hehe...kenapa segala pakai piyama dibawa-bawa?” jawabnya sedikit menggerutu. “Abang sendiri tidur pakai kolor doang, apalah maksudnya itu bang? Pamer badan?” dia meledekku.
“Nggak usah sok nyindir-nyindir gitu. Ngomong-ngomong itu susu udah kadaluarsa tiga hari yang lalu.” balasku sambil terkekeh. Cepat-cepat dia memuntahkan susu yang masih ada di dalam mulutnya ke wastafel,“Pantas asam, ku kira ini yogurt.” Aku tertawa terbahak-bahak, Era yang sedari tadi terlihat fokus pada film yang di tontonnya juga ikut tertawa mendengar kepolosan Ezra.
***
Rumah ini terdiri dari dua lantai dan kedua-duanya tidak memiliki sekat ruangan, jadi sekarang aku bisa melihat Era yang sedang duduk di sofa dengan kakinya yang berada di atas meja dan Ezra yang masih betah jongkok di depan kulkas, memilah bahan makanan yang seharusnya sudah dibuang karena tidak layak di konsumsi. Lantai satu rumah ini berisikan dapur yang mengarah langsung ke tempat nonton film, di antara keduanya terdapat meja makan. Di sisi lainnya terdapat rak buku yang bersebelahan dengan mesin cuci dan di sudut paling kanan itu adalah meja kerjaku. Lantai dua berisikan tempat tidur dan kamar mandi saja. Aku menengok jam, ternyata sudah pukul empat sore. Alarm pemanggang berbunyi dan bau butter yang muncul dari pemanggang ketika dibuka menandakan roti sudah matang, sayuran dan daging sudah aku siapkan ketika tadi menunggu roti terpanggan, jadi tinggal masuk ke penggorengan nanti. Mungkin ini faktor usia, punggung serta pinggang mulai menegang apalagi ketika ku coba gerakan kebelakang, seperti ada bunyi benda yang remuk. Sambil menunggu roti mulai dingin untuk bisa di hias aku duduk di sofa bersebelahan dengan Era, belum sampai pantatku menyentuh sofa Era sudah bertanya tidak karuan dengan nada yang cepat, “Kok udahan masaknya? Udah kelar ya? Udah boleh icip dong? Enak nggak? Makan malamnya kita jam berapa entar?ja-“ belum habis dia bertanya aku menutup mulutnya dengan bantal,”Diem nggak?! Bawel!” anehnya dia tetap bersuara meski aku tidak mendengar jelas apa yang Era katakan. Tangannya yang penuh dengan bumbu keripik kentang meraih mukaku tiba-tiba, reflek ku lepaskan bantal yang ada di muka Era dari tanganku,”Nyet! Kalau mau bunuh pake pisau aja sekalian! Jangan nyiksa gini. ”Aku tertawa,”filmnya udah nyampe mana?” Era diam saja.
Aku merasa ada yang aneh dengan keheningan yang mendadak muncul di ruangan ini, iya, aku tidak bisa menemukan Ezra di lantai satu,”Zra... Zra... ke kamar mandi lagi?” aku memanggilnya setengah berteriak dengan membalikan tubuh kebelakang karena tangga lantai dua ada di sana.”Ra, si Ezra tadi habis dari dapur pergi kemana dia?” tanyaku sedikit panik. “Nah, kayak nggak tau si Ezra aja kalo pergi udah kayak jelangkung gitu. Halus....” balasnya tanpa memalingkan mukanya dari arah TV.
“Ra, temenin ke atas bentar. Cek doang si Ezra ada di atas nggak.” Ajakku, dia tetap tidak bergeming. Aku harus mencolek bahunya terlebih dahulu agar dia mau menoleh.
“Ngapain sih, entar juga anaknya bakalan turun sendiri.” Sahut Era dengan mulut penuh kripik kentang, sikapnya yang tak acuh ini sering membuatku kesal.
***
Sudah pukul enam sekarang, langit mulai gelap dan lampu rumah mulai dinyalakan tapi aku masih belum melihat atau merasakan kehadiran Ezra. Ada kekhawatiran di dalam hatiku saat ini karena tidak biasanya dia begini, beberapa saat ketika mengingat keusilan dan kepolosannya aku malah jadi berpikir hari ini kan ulang tahunnya kenapa jadi aku yang merasa akan mendapatkan suprise. Roti ulang tahun yang sedang aku hias saat ini adalah roti jenis cheesecake, membuatnya gampang karena kuncinya hanya di pemilihan krim cheesenya. Aku memotongnya menjadi tiga lapis agar nanti bisa aku masukan berbagai macam buah berry kesukaan kami serta krim yang khusus aku buat dari tahu sutra, iya, ini adalah resep rahasia kelezatannya. Di meja makan sudah duduk Era dengan pakain rapi karena dia memutuskan untuk mandi hari ini demi pesta kecil untuk Ezra, wajahnya dirias meski tipis dan untuk kesekian kali dalam hidupnya dia mau memakai rok hanya untuk Ezra. Di atas meja makan sudah tersaji makanan kesukaan kami bertiga, mulai dari kwetiaw goreng seafood, cap cay, kepiting saus tiram dan tidak ketinggalan favorit Ezra, ayam goreng. Ruangan berubah menjadi serba merah, penuh dengan hiasan kertas pita dan origami buatan Era, balon-balon juga terpasang di beberapa sudut. Sudah pukul tujuh, ruangan masih sepi, hanya terdengar suara garpu yang dimainkan oleh Era di atas piringnya. Bahkan sesekali suara tetesan air dari kran juga terdengar nyaring sekali. Aku mulai gugup dengan keadaan yang tidak biasa ini, keringat mulai keluar membasahi pelipis dan dahiku. Kaki kanan ku gerakan naik turun tak beraturan, aku benar-benar merasa khawatir apalagi aku melihat ekpresi datar dari Era yang seakan mengatakan jika Ezra akan kembali jika sudah waktunya, jadi tenang saja.
“Aku harus mencarinya sekarang...” aku mulai bergumam.
Era menatapku lekat-lakat dari ujung meja,”Nyet...kamu nggak apa-apa kan? Hey...”
Aku terus bergumam, pandanganku mulai kabur seakan-akan seisi ruangan ini akan menelanku utuh, bersamaan dengan itu muncul perasaan menggantung ketika semuanya menjadi gelap total. Kakiku berhenti bergerak, aku mulai merasa seperti kehilangan seluruh tulang di dalam badanku, kendali otakku atas semua otot-otot juga ikut melemah. Jadilah aku sekarang tersungkur ke samping menyentuh lantai.
***
Aku mencintai Ezra sebagaimana Era mencintaiku, kami hidup dalam kebagiaan serta ke-absurd-an masing-masing. Kami belum bisa menerima kehilangan, aku mulai bermimpi buruk setiap malam dan berteriak memohon untuk kebahagiaanku dikembalikan. Begitu pun dengan Era yang sering kali tertawa keras untuk menyembunyikan perasaannya, bahwa sebenarnya dialah orang yang paling merasakan kesedihan di antara kami, ketika disinggung tentang kehilangan bahkan kadang Era bisa diam saja lengkap dengan raut wajah yang mengisyaratkan ”pergi sana, aku sedang tidak ingin diajak bicara.” Aku Lana, seorang ayah yang kehilangan. Lihat yang sedang duduk sofa dengan pandangan kosong, itu Era, dia adalah Ibu yang juga kehilangan. Kalian lihat, bahkan setelah delapan belas tahun berlalu aku masih dengan bahagia membuatkan roti ulang tahun untuknya. Ezra.















