Gerhana Bulan
Dulu, seusai berdebat dengan nenek bahwa tidak ada rasaksa pemakan bulan, aku berlari ke luar rumah, mencari tempat lapang di mana bulan dengan sempurna dapat kulihat. Aku duduk menunggu, demi pembuktian kecil bahwa rasaksa itu hanya omong kosong, untuk menakut-nakutiku supaya tidak keluar malam-malam. Sambil menunggu, aku ketuk-ketukkan kuku jempol tangan kanan dan kiri. Konon rasaksa takut dengan bunyinya, sehingga dia tidak akan memakan manusia juga. Ya, seyakin-yakinnya aku bahwa tidak ada rasaksa pemakan bulan, aku tetap percaya ada hantu rasaksa yang suka menakuti manusia, terutama anak-anak. Bulan mulai terlihat hitam di salah satu sisinya. Perlahan warna hitam itu memenuhi permukaannya, dan lihat, tidak ada rasaksa yang muncul! Aku menang, aku benar bahwa tak pernah ada rasaksa pemakan bulan!
Aku berlari ke dalam rumah. "Nek, Nek... Aku benar, tidak ada rasaksa yang datang. Bulan itu cuma menghitam, kemudian muncul lagi. Tak ada rasaksa pemakan bulan!". Nenek tak berekspresi. Dia hanya, "Kau ini bodoh. Memang tak pernah ada manusia yang bisa melihatnya."
Aku diam. Ajaib sekali.













