Tanggal 31 Mei 2015, FIFA menjatuhkan sanksi kepada Indonesia berupa larangan bertanding pada pertandingan dan turnamen di bawah naungan FIFA. Hal itu menyebabkan timnas Indonesia mengalami vakum untuk ajang-ajang internasional termasuk kualifikasi Piala Dunia 2018. Hal itu juga menyebabkan liga nasional pun berhenti. Akibatnya, banyak bermunculan turnamen-turnamen tidak resmi yang berlangsung dalam jangka pendek. Nyaris setahun setelahnya, 16 Mei 2016 Indonesia resmi bebas dari sanksi FIFA setelah Kemenpora mencabut pembekuan PSSI. Indonesia pun memulai babak baru dalam dunia sepakbolanya.
Jadwal PSSI setelahnya adalah memilih pengurus baru dengan mengadakan Kongres Luar Biasa. Hal itu telah dilaksanakan dengan menghasilkan Ketua PSSI yang berlatar belakang jauh dari dunia sepakbola. Mari berharap siapa pun yang menjadi pemimpin, akan melaksanakan tugasnya dengan baik. Menyelesaikan masalah yang ada di dunia sepakbola Indonesia, tanpa membuat masalah baru. Selamat bertugas Pak Edy Rahmayadi.
Kesampingkan dulu masalah kelembagaan, masyarakat Indonesia tentunya sangat antusias dengan kembalinya timnas Indonesia. Para supporter tentunya rindu untuk mengumandangkan yel-yel untuk mendukung timnas ketika bermain di lapangan hijau, termasuk saya. Menyaksikan timnas bermain dari televisi saja sudah luar biasa menyenangkan, apalagi datang ke stadion, berteriak untuk mereka, terlebih ditambah dengan timnas yang memenangkan pertandingan. Ya, hal tersebut sudah bisa kita nikmati lagi.
Timnas pun mulai berbenah untuk bersiap-siap menghadapi Piala AFF 2016 di Bulan Nopember. Pencarian pelatih pun dimulai. Beberapa nama masuk bursa, seperti Jacksen F. Tiago, Rahmad Darmawan, hingga Indra Sjafri yang sukses saat membesut timnas U-19 beberapa tahun lalu. Namun, pilihan jatuh kepada mantan pelatih Indonesia asal Austria, Alfred Riedl. Banyak pihak yang menyayangkan penunjukkan Riedl karena dianggap banyak nama yang lebih cocok dibandingkan dengannya. Namun, Riedl telah ditunjuk dan mulai bekerja untuk timnas.
Ujian pertama untuk Riedl adalah laga ujicoba melawan Malaysia (6/9/16). Antusiasme penduduk Indonesia menyambut laga ini luar biasa. Bahkan, Stadion Manahan, Solo, penuh sesak dan para supporter telah menyiapkan sejumlah koreografi dengan luar biasa. Hasilnya, negara yang baru dibebaskan dari sanksi FIFA ini menang 3-0 lewat dua gol Boaz Solossa dan Irfan Bachdim. Hasil bagus didapat Riedl dan anak asuhnya, dan Indonesia tentunya mulai menaruh harapan lebih tinggi pada timnasnya.
Selanjutnya, Indonesia melakukan uji coba melawan Vietnam (kandang-tandang), serta Myanmar. Indonesia meraih hasil imbang 0-0 melawan Myanmar, dan 2-2 saat menjamu Vietnam, namun kalah 2-3 saat bertamu ke Vietnam. Total, dalam empat uji coba ini, Indonesia menang sekali, imbang dua kali dan kalah sekali, mencetak tujuh gol dan kemasukan lima gol.
Mari kita bahas lini per lini Indonesia dari pertandingan ke pertandingan. Di posisi penjaga gawang, Riedl memainkan Andritany Ardiansyah sebanyak tiga kali dan Kurnia Meiga pada laga terakhir kontra Vietnam. Menurut saya pribadi, Andritany lebih cocok mengisi pos utama. Ia lebih mampu ‘mengomandoi’ empat pemain belakang, lebih tegas dan memiliki penempatan posisi yang baik. Namun, ia lemah dalam hal ketanggapan (baca: refleks). Meiga, di sisi lain tidak dalam performa terbaiknya melawan Vietnam. Namun, dengan baru pulihnya ia dari cedera, dan Piala AFF sudah di depan mata, saya menyarankan Riedl memainkan Andritany di pos ini.
Masuk ke lini belakang, Riedl akan menggunakan empat bek dalam skemanya. Ia sepertinya sudah memberikan tempat pada Fachrudin dan Yanto Basna untuk mengisi pos bek tengah. Keduanya cukup bermain lugas dan sudah klop. Untuk sisi sayap, Riedl masih beberapa kali mengotak-atik pemain. Namun, Benny Wahyudi dan Abdul Lestaluhu sepertinya sudah cukup layak mengisi pos ini.
Hal yang harus diperhatikan Riedl adalah koordinasi bek tengah dan bek sayap saat mengantisipasi serangan dari sisi sayap. Kerap kali, lini belakang Indonesia tidak mampu menjaga kedalaman. Misal pada laga kandang melawan Vietnam. Gol kedua Vietnam dimulai dari sisi kanan pertahanan Indonesia, pemain Vietnam saat itu mengirimkan umpan silang yang kemudian disambut dari pemain yang datang dari sisi kiri. Tidak ada satupun pemain Indonesia yang menjaga pemain yang datang ini. Koordinasi dan transisi menjadi PR untuk kedua bek sayap Indonesia.
Maju sedikit ke depan, Indonesia akan memakai empat pemain di lini tengah dengan dua pemain beroperasi di tengah dan dua lainnya berada di sayap. Evan Dimas diprediksi akan mendapat satu tempat di lini tengah. Kreativitasnya dan daya jelajahnya yang cukup bagus mengharuskan Riedl menempatkan satu holding midfielder yang mampu menjaga kedalaman saat Evan Dimas membantu penyerangan.
Bayu Pradana cukup mampu memainkan peran tersebut. Namun, dalam laga terakhir melawan Vietnam, Riedl menggunakan Stefano Lilipaly sebagai duet Evan Dimas. Lilipaly memiliki karakter yang hampir sama dengan Evan Dimas. Jika keduanya jadi diduetkan, mereka benar-benar harus disiplin untuk mengisi pos yang ditinggalkan ketika Indonesia kehilangan bola.
Untuk sektor sayap, Indonesia memiliki pemain yang cepat dalam diri Andik Vermansyah dan Zulham Zamrun. Namun, dalam setiap pertandingan, mereka terlihat kurang efektif dalam melakukan pergerakan. Seringkali mereka terlihat terlalu lama memainkan bola, dan terlambat melakukan umpan silang. Di samping itu, sebenarnya Riedl memiliki alternatif pada seorang Septian David Maulana. Namun, ia dicoret dari timnas dengan alasan tertentu.
Maju untuk dua pemain depan Indonesia. Riedl saat ini tengah dipusingkan dengan cederanya Irfan Bachdim. Padahal, duetnya dengan Boaz saat ini sedang bagus-bagusnya. Namun sayang, cedera engkel yang dialaminya ketika latihan harus memaksanya absen di gelaran AFF kali ini. Riedl pun memanggil Yosua Pahabol sebagai penggantinya.
PR besar untuk Riedl mencari teman duet Boaz di lini depan karena menurut saya, Ferdinand Sinaga, Lerby Eliandry dan Yosua Pahabol belum bisa menggantikan peran Irfan Bachdim yang pintar mengisi ruang kosong dan bekerja keras untuk mengganggu penguasaan bola dari daerah musuh. Alternatifnya, Lilipaly mungkin mampu ditempatkan di belakang Boaz menjadi second striker.
Pada AFF 2016, Indonesia berada di grup B bersama tuan rumah Filipina, Thailand dan Singapura. Indonesia akan mengawali kiprahnya dengan menghadapi Thailand (19/11), kemudian Filipina (22/11) dan terakhir adalah Singapura (25/11).
JAUHKAN TIMNAS DARI EKSPEKTASI BERLEBIH! Biarkan mereka menikmati sepakbolanya. Biarkan mereka menikmati indahnya berkompetisi. Biarkan mereka menikmati bangganya mengenakan seragam merah-putih. Biarkan mereka menikmati lagu Indonesia Raya yang berkumandang tiap awal laga.
Indonesia punya peluang untuk mengejutkan seluruh Asia Tenggara, namun biarkan orang-orang terpilih itu yang melakukannya. Kita hanya perlu mendukung dan berdoa agar para pemain Indonesia mampu bermain dengan semangat dan sepenuh hati. Karena itulah yang kita butuhkan sekarang. Jadikan AFF 2016 ini sebagai batu loncatan untuk kiprah timnas ke depannya. Jika mereka berprestasi (baca: juara), mari rayakan. Apabila mereka gagal, mari evaluasi agar setiap sistem yang salah dari pembinaan, pemilihan pemain hingga persiapan timnas terus membaik.
Selamat berjuang Timnas Indonesia.
Kami rindu untuk menyaksikan merah putih kami berjuang,
kami rindu untuk mendengar Indonesia Raya berkumandang,
dan kami rindu untuk melihat Merah Putih Juara.