Aku beruntung sedang mencintaimu. Aku beruntung pernah dicintai olehmu, entah itu sampai sekarang atau tidak, aku tak tahu, dan entah, suatu saat aku akan tahu atau bahkan tak pernah tahu, kenyataan tentang perasaanmu saat ini, masih samakah atau tidak.
Diriku yang kering kerontang akan keimanan, basah kuyup akan kemaksiatan, pernah menjadi bagian kecil di lubuk perasaanmu. Yang kutahu sekarang, kenyataan bahwa, menyatakan perasaanku saat ini sama saja dengan menawarkan diri untuk kau tolak. Keimananmu yang menolakku, tutur kata lembut dan kasih sayangmu yang menolakku, kedewasaanmu dan akhlakmu yang menolakku. Aku, yang tak pantas disandingkan dengan segala yang kau punya.
Kau meminta kepastian? Inilah kepastianku. Ya, untuk saat ini. Untuk saat ini lebih baik kuberbenah diri. Berbenah diri sampai suatu saat, aku pantas bersanding denganmu. Bersanding denganmu secara utuh. Bersanding dengan akhlakmu dan segala kesempurnaan yang kau miliki. Aku hanya butuh waktu. Mau kah kau berkompromi dengan waktu? Yah setidaknya sampai aku mulai sadar bahwa berbenahku sudah sampai saatnya. Sampai suatu saat Allah tahu, bahwa aku telah pantas ada di sandingmu, bahwa aku pantas memohon pada-Nya untuk menumpahkan semua perasaan ini padamu.
Kau pikir aku belum berani? Kuyakinkan kau bahwa inilah bentuk keberanianku, untuk saat ini. Kau masih belum sabar? Kuyakinkan kau bahwa waktu yang akan menjawabnya. Kalimat klise yang biasa diucapkan oleh hampir semua lelaki, akhirnya kukatakan juga, meski kau pikir bahwa semua lelaki sama saja, tapi inilah aku, dengan segala kehinaanku saat ini, dengan segala keberanianku untuk mengubah hinaku, menjadi muliaku, agar pantas bersanding dengan muliamu. Mulia akhlakmu, mulia imanmu, kuyakin suatu saat juga ada pada diriku. Sesegara mungkin, secepat mungkin, dengan tempo jang sesingkat-singkatnja.
Kumohon maukah kau berkompromi dengan waktu? Atau mungkin tidak? Tak jadi masalah bagiku karena dirimu bukanlah tujuan akhirku. Aku tak akan bunuh diri hanya karena usahaku tak membuahkan hasil. Hanya demi Allah lah semua ini aku berikhtiar. Demi syurga Allah, yang ingin aku tempati kelak, dan kuharap itu bersamamu. Atau bersama salah seorang wanita di dunia ini yang mungkin, kelak lebih sanggup berkompromi dengan waktu untuk berbenahku. Meski kau tak menyesal, namun bagian kecil dari diriku yang rapuh ini pun tak bisa berbohong, bahwa ku kan menyesal ketika bukan kau yang saat ini sedang kucinta, yang kelak bersanding denganku di majelis ikatan suci di sudut masjid di kota ini, kota kita berdua saling bertemu untuk pertama kalinya.
Entah itu kapan, tapi aku yakin akan ada saatnya, secepat mungkin, demi-Nya, untukmu, untuk kita, hingga kelak di syurga-Nya nanti.
Maukah kau mengajakku bersama masuk syurga-Nya?
-unstable author-









