Dijodohkan?
“Kalau adik udah ada jodohnya gak apa, dia duluan aja.”
Suara seorang laki-laki terdengar diujung telepon, dia adalah Abangku.
“Emang udah ada?” tanya Ibuku menimpali perkataan Abang.
Aku masih terpaku menggenggam gawai ini, mencoba mencari jawaban untuk mencairkan suasana.
“Ibu mau calon yang bagaimana?” Jawabku dengan pertanyaan balik.
“Yah yang gimana cocok sama kamu lah.” Balas Ibuku.
Aku berusaha menahan tawa, lucu sekali rasanya jika membahas ini. Walaupun aku sering bercanda menanyakan kepada orang tua mengenai kriteria calon menantu yang mereka inginkan, tapi tetap saja aku masih merasa awkward untuk ini.
“Kalau yang pengusaha, gimana?” Tanyaku random, ingin tau bagaimana pendapat orang tua.
“Nggak apa-apa. Ibu jadi keinget anak temen ibu lah kak, sekarang dia jadi pengusaha. Kemarin ibunya minta bantu cariin jodoh untuk anaknya itu, sebaya abang lho tuh. Temen abang sekolah pas SD kalau ibu gak salah. Hm gimana ya kalau ibu bilang sama kamu aja ?”
Seketika tawaku pecah. Ini dijodohkan kah? Pikirku.
Ini ketiga kalinya Ibu bahas hal seperti ini, sudah tiga anak teman Ibu yang diceritakan ke aku. Bahkan salah satu dari ketiga itu, sudah pernah dibahas antar orang tua. Aku hanya menganggap hal itu becanda, tidak pernah ku anggap serius.
Aku belum bisa membayangkan bagaimana nantinya jika benar-benar dijodohkan. Tapi pada dasarnya aku berpikir walaupun dalam perjodohan, tetap harus melakukan proses ta’aruf; membicarakan visi, misi, life plan, life goals nantinya melalui perantara. Tetap adanya batasan antara laki-laki dan perempuan, dan menjalankan segala prosesnya sesuai dengan syariat Islam. Jadi tidak ada yang membedakan proses ketika aku dijodohkan atau bukan.
“Gimana kak?”
“Haha nggak dulu bu, abang aja lah duluan.” Jawabku untuk mengakhiri obrolan dengan topik ini.














