Obrolan Sore
Sebagaimana yang telah tertulis di dalam kitab suci, Tuhan menciptakan segala sesuatunya secara berpasang-pasangan. Konsep polaritas ini sudah ada sejak lama, jauh sebelum Tuhan menciptakan Adam dan Hawa. Berbagai macam hal yang ada di sekitar kita, mulai dari cahaya dan kegelapan, siang dan malam, dunia dan akhirat, hidup dan mati, baik dan buruk, laki-laki dan perempuan, hingga malaikat dan iblis, adalah beberapa contoh sederhana dari dualisme yang begitu kentara. Dalam sistem yang sedemikian dinamis, keduanya akan saling bersinergi, menjaga dan menghubungkan satu sama lain, secara strategis memanifestasikan keseimbangan duniawi; sebuah bukti nyata dari kekuasaan Sang Pencipta.
Sore itu, di pinggir langit ketiga yang terletak tidak jauh dari gerbang Surga di suatu dunia yang tak mungkin ada, Iblis dan Malaikat sedang bercengkrama. Ditemani penganan ringan dan minuman anggur merah di atas meja, dua makhluk itu sedang terlibat dalam perbincangan yang sungguh seru mengenai berbagai macam hal yang ada dan mungkin tiada.
Suara mereka terdengar lantang memenuhi pelataran langit Selatan sambil sesekali diiringi tawa renyah dari sang Iblis serta kekehan kecil dari sang Malaikat. Alis mereka bertaut, dahi mereka berkerut bagaikan sekumpulan benang kusut. Keduanya terlihat sangat serius dan terhanyut menikmati obrolan, menghabiskan sisa-sisa hari sebelum matahari kembali mengumpat ke dalam peraduan.
“Sejujurnya aku masih tidak mengerti mengapa makhluk itu diciptakan.”
Iblis memulai topik pembicaraan baru sembari meneguk anggur dari cangkir di tangannya untuk menghilangkan dahaga. Sudah sejak siang tadi mereka menghabiskan waktu di sana bersama, jelas saja tenggorokannya terasa kering.
Malaikat memutar bola matanya. “Oh, jangan mulai.”
“Maksudku, ada beberapa alasan yang patut dipertimbangkan.”
Malaikat menghela nafas dan memangku tangannya ke dagu, sedikit jengah dengan Iblis yang entah mengapa selalu membahas hal yang sama setiap kali mereka bertemu.
“Kau lelah ya menjerumuskan mereka ke dalam Neraka?” tanya Malaikat tiba-tiba.
Iblis menaikkan alisnya yang lebat, terlihat heran dengan pertanyaan makhluk di depannya. “Tidak, tuh.”
“Ah, yang benar?”
“Serius.” jawab Iblis sambil menggeleng pelan.
“Masa, sih?” Malaikat menyahut tidak yakin.
“Sungguh,” kata Iblis. ”Semakin kesini, manusialah yang menjerumuskan, bahkan, mengorbankan diri mereka sendiri ke dalam Neraka. Aku tidak perlu bersusah payah seperti waktu laki-laki dan perempuan pertama dulu diciptakan.” Iblis memejamkan matanya mengingat masa lalu yang menurutnya sangat tidak masuk akal itu.
“Menyamar jadi ular hanya agar mereka memakan buah dari pohon? Yang benar saja.”
“Berarti kau gabut dong, sekarang?”
“Semacam itu.” Iblis berkata sambil lalu melirik ke arah Malaikat dengan tatapan sedikit menghina.
“Kau kan malaikat, masa tidak tahu?”
Merasa tersindir, makhluk bersayap itu seketika membela diri. “Bangsaku itu ada ratusan juta—tidak—miliaran jumlahnya.”
Ia menyilangkan tangannya ke dada, menghiraukan Iblis yang tersenyum seolah mengejek. “Aku yang sudah sejak lama dipindahtugaskan ke langit mana tahu tentang hal ini.”
Iblis mendengus, menyandarkan tubuhnya ke sofa dan mendongakkan kepala, memperhatikan awan-awan tipis yang terbawa angin di sekelilingnya. “Tapi aku masih penasaran kenapa mereka diciptakan.”
Malaikat terdiam, dengan seksama mendengarkan makhluk bertanduk di depannya itu bicara.
“Mereka berasal dari tanah, lebih rendah dari kita yang berasal dari api dan cahaya. Mereka bau, lengket dan berkeringat.”
“Makanya ‘kan mereka mandi.”
“Iya, aku tahu. Dan mereka tetap yang paling lemah di antara kita, bahkan jika dibandingkan dengan segala yang ada.”
“Kau tidak lihat bagaimana mereka bertahan setelah diturunkan ke bumi?”
Iblis menghiraukan perkataan Malaikat. “Mereka tidak sabaran dan penuh nafsu. Tidak ada bedanya seperti binatang.“
“Itu kan karena bangsamu.”
“Iya, sih.” Iblis berdehem. “Tapi mereka sering sekali datang hanya kalau ada perlu. Mereka hanya akan tunduk jika sedang menderita. Selebihnya, mereka pasti lupa.”
Malaikat terkekeh, “Jadi, kau sakit hati?”
“Mau melawak, ya?”
Malaikat berdiri dari tempat duduknya. Berjalan mengitari pelataran yang beralaskan pualam dan beratapkan berlian itu, memperhatikan pemandangan langit di sekitarnya.
“Kau tahu,” kata Malaikat. “Mereka itu tidak bodoh.”
Dua makhluk tak kasat mata itu sudah beranjak dari pelataran langit dan kini sedang berjalan-jalan memandangi pemandangan sore dari dekat gerbang Surga di langit ketiga.
“Kau masih ingat ‘kan waktu Adam pertama diciptakan?”
“Melupakan hari di mana aku diusir dari Surga? Kau sudah gila?”
Malaikat tertawa kecil. “Aku menangis, lho, waktu itu.”
“Memangnya siapa yang yang tidak?” sahut Iblis. Malaikat tergelak, tawanya semakin menjadi-jadi.
”Mereka mampu mempelajari dan mengingat apa yang Tuhan ajarkan dalam waktu singkat.” ujar Malaikat melanjutkan pembicaraan, “Maksudku, aku saja tidak dapat melakukannya.”
“Kemampuan semacam itu ‘kan bisa dilatih.”
“Betul.” Malaikat menghentikan langkahnya. Ia menundukkan kepala, mengamati alas kaki berwarna emas yang ia kenakan menapak pada lantai awan yang tampak seperti kapas.
“Tapi memiliki kehendak bebas.. Aku rasa tidak semua makhluk memilikinya.”
Iblis berseloroh, “Makanya mereka gampang ditipu.” dan Malaikat pun terkekeh lagi.
“Rasa-rasanya aku semakin mengerti kenapa kau diusir.”
“Sialan.” Kali ini gantian Iblis yang terbahak.
Matahari sudah hampir terbenam ketika semburat jingga mulai memenuhi angkasa maupun panca indera. Diselingi dengan cicit-cicit kecil yang samar terdengar dari kejauhan, cahaya senja yang hangat mengenai wajah Malaikat dan Iblis, menyoroti putih pualam dan coklat kemerahan, menunjukkan betapa kontrasnya warna kulit mereka.
“Ada banyak hal yang tidak kita ketahui.” Malaikat menggumam tiba-tiba, memecah keheningan yang tahu-tahu sudah mengisi di antara mereka. Ia tersenyum tipis. Pandangannya beralih pada makhluk bertanduk yang ada di sampingnya.
“Karena memang kita tidak perlu tahu.”
Malaikat mendekati Iblis dan mengecup bibirnya. Singkat, namun dalam sepersekian detik itu, mata mereka bertemu, mengantarkan kuning keemasan dan hitamnya obsidian pada kilat-kilat kecil yang entah berasal dari mana. Saat naluri hampir mengambil alih dalam serangkaian gelombang ketidaksadaran, Malaikat membentangkan sayap, mengepakkannya beberapa kali sebelum lalu terbang tinggi menuju langit ke tujuh tanpa mengucapkan apa-apa. Dalam sekejap, sosoknya sudah hilang dari peredaran, tersembunyi di balik kumpulan awan yang kini telah berubah menjadi keabuan, berhiaskan bulan dan kerlap-kerlip bintang temaram.
Iblis terdiam selama beberapa menit setelah sosok itu pergi, mencoba mencari penjelasan yang mungkin dapat dimengerti, meski nyatanya ia tidak butuh jawaban pasti sama sekali. Tidak perlu waktu lama hingga makhluk itu melakukan hal yang sama, mengepakkan keempat sayap dan menghempaskan tubuhnya dengan bebas ke bawah, membelah langit malam dengan kecepatan yang hampir sama seperti cahaya.
Sudah waktunya kembali.
***
Another one I did for Popular Writing class back in college with a little editing on the intro. Reading it again after a long while and I’m now even more convinced this is indeed way too corny for my own good, lmao. Nevertheless, among the three that I’ve posted here, this is by far my most favorite.













