Mendaki gunung secara intelektual, hingga spiritual
Dalam sejarah filsafat, gunung memiliki kedudukan yang penting. Beberapa filsuf sengaja menyisihkan sebagian waktunya untuk berkontemplasi di daerah pegunungan, sebutlah Lao Tzu ,Martin Heidegger, Ludwig Wittgensten dan Richard Sylvan.
Gunung telah menjadi semacam tempat pengasingan diri yang tepat untuk melakukan berbagai aktivitas filosofis. Dimensi pengasingan itu juga terbentuk dalam proses pengembaraan, seperti yang terjadi dalam "Grand tour", suatu aktivitas intelektual yang berkembang di Eropa pada abad ke-18 dan menjadi nenek moyang dari kegiatan-kegiatan pariwisata hari ini.
Dari sini jelaslah bahwa pariwisata mulanya adalah merupakan suatu kegiatan intelektual dan perjalanan mendaki gunung pun berakar pada basis filosofis yang sama. Jika ditilik dari prespek spiritual, mendaki gunung merupakan media mendekatkan diri pada Allah SWT. Mendaki gunung juga berarti mentadabburi manifestasi ilahi yang ada di bumi.
Sebagai seorang muslim kita berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Al-Hadits, Firman Allah SWT di dalam Al Quran ada yang berupa qauliyah (tersurat) dan kauniyah (tersirat). Salah satu bentuk ayat-ayat kauniyah-Nya ialah gunung. Gunung merupakan salah satu makhluk Allah yang patut untuk kita perhatikan.
Jika kita menelusuri rekam jejak Rasulullah beliau telah melakukan beberapa kali pendakian. Sebelum diangkat jadi Rasul, Nabi Muhammad SAW memiliki kebiasaan naik-turun Jabal Nur untuk 'uzlah (mengisolasi diri) di gua Hira. Kebiasaan Rasulullah mengisolasi diri di Jabal Nur ini dalam rangka berkontemplasi, me-refresh jiwa dan pikiran dari hiruk-pikuk peradaban kota Makkah.
Sejarah juga mencatat ada tiga gunung lain yang juga pernah didaki oleh Rasulullah. Diantaranya adalah Jabal Tsur, Jabal Uhud dan Jabal Rahmah di Arafah yang menjadi tempat Rasulullah menerima wahyu yang terakhir.
Ada catatan yang menarik menurut saya dari Jabal Rahmah, gunung atau bukit ini merupakan tempat dipertemukannya Adam dan Hawa setelah ratusan tahun berpisah. Saya jadi berpikir, beruntung sekali orang-orang yang menemukan pasangan ketika mendaki gunung, sungguh definisi paripurna dari kisah cinta di jalan kenabian...
Wallahu a'lam bisshowaab...