🎬 Title: Pangku
A mother’s love is unmatched.
Story: Sartika, a young expectant mother, relocates to a new town to create a brighter future for her unborn child. There, she encounters Maya, the owner of a local coffee shop in Pantura. Maya becomes a nurturing figure for Sartika, assisting her during her pregnancy. However, after Sartika gives birth, Maya coerces her into becoming a “Kopi Pangku”…
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
âś“ Live Streamingâś“ Interactive Chatâś“ Private Showsâś“ HD Qualityâś“ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
(Sebuah Alegori Kemiskinan dan Kebodohan Struktural)
Kisah dimulai ketika Sartika yang diperankan oleh Claresta Taufan sedang hamil tua berkendara bersama dua orang asing di dalam sebuah truk. Tetiba truk berhenti karena terjadi masalah di mesinnya, dua orang itu menurunkan Sartika di sebuah perkampungan warga yang penuh dengan aktifitas dunia malam.
Dari situ Sartika bertemu Bu Maya yang diperankan oleh Kristin Hakim seorang penjaga warung kopi. Sartika tidak punya tujuan, dan Bu Maya ini dengan hati terbuka mau menampungnya. Long short story Sartika sudah melahirkan anaknya, saat itu profesinya sebagai petani nyatanya tidak mencukupi kebutuhan dirinya dan anaknya. Lalu dengan berat hati Sartika memenuhi permintaan Bu Maya untuk menjadi seorang pelayan Kopi Pangku.
Profesi ini menuntutnya menjadi seorang pelayan kopi plus-plus, walau hatinya tidak berkenan namun desakan kebutuhan ekonomi memaksanya untuk melakukan hal tsb. Sartika bertemu dengan salah satu pelanggannya yaitu Hadi yang diperankan oleh Fedi Nuril. Hadi tidak seperti pelanggannya yang lain, dia sangat menghormati Sartika sebagai wanita juga sebagai Ibu. Lambat laun ada benih asrama diantara mereka, dan akhirnya mereka memutuskan menikah secara Agama. Apakah Sartika akhirnya menemukan kebahagiaannya yang dia cari?
Sebuah karya Epik ini dengan penyutradaraan pertama seorang aktor ternama Reza Rahadian, menjadikan film pangku ini menjadi film yang patut diapresiasi. Selain menjadi sutradara, Reza Rahadian pun ikut andil dalam proses kreatif lainnya seperti penulisan dan riset yang dilakukannya pun dengan tim produksinya cukup lama yaitu dari tahun 2018. Menurut saya, filmnya sendiri tidak pretensius, tidak ada tendensi mengarah ke hal berbau pornografi maupun muatan seksualitas, melainkan film ini begitu kaya akan pesan moral. Tidak heran film ini mendapat sambutan dan penghargaan baik dalam negeri seperti film panjang terbaik FFI 2025, dan beberapa penghargaan internasional seperti di Busan Film Festival di Korea Selatan.
Reza Rahadian mendedikasikan film ini untuk ibunya yang seorang ibu tunggal. Dia ingin memproyeksikan perjuangan ibunya kedalam sebuah film, walaupun profesinya berbeda tetapi ada benang merah diantara keduanya, yaitu perjuangan Ibu.
Isu yang diangkat di dalam film ini cukup beragam, isu sosial, ekonomi, politik, isu tentang ketiadaan seorang Ayah (Fatherless), isu pendidikan, demoralisasi, isu keutuhan rumah tangga dan masih ada beberapa isu lainnya. saya cukup takjub bagaimana bidikan kamera memotret sebuah diorama kampung pesisir pantai yang lusuh, kumuh, kotor, tak beraturan, tapi entah kenapa terlihat di film ini begitu indah, mempesona, bukan bermaksud meromantisasi kemiskinan namun memang pada kenyataannya begitu.
Film ini begitu real, believable, it is what it is, sebuah potret pahit bahwa sejak awal kemerdekaan sampai sekarang masih banyak orang yang terjebak dengan kemiskinan struktural. Sosok Sartika adalah salah satunya, dia terjebak didalamnya, tidak punya privilige untuk punya opsi lain selain bertahan hidup. Lebih mengenaskannya lagi ketika Sartika hendak mendaftarkan anaknya sekolah guna untuk memperbaiki masa depan anaknya, ini malah dipersulit dengan beban Administrasi. Sudah terjebak dalam kemiskinan struktural, terjebak dalam kebodohan struktural pula, sebuah gambaran nyata gagalnya negara saat itu dalam memenuhi hak dasar hidup warganya.
Mirisnya, sekarang pun sedang terjadi bencana di Sumatera yang sudah merengkut ribuan nyawa, tapi pemerintah sendiri terkesan begitu lamban dalam meresponnya. Tidak perlu ditetapkan sebagai bencana nasional, setidaknya respon cepat tanggap yang diperlukan oleh masyarakat terkait penanggulangan bencana ini. Padahal seminggu sebelum terjadi bencana, pihak BMKG sudah memberikan notifikasi ke pusat akan terjadi badai, tapi respon dari pusat malah menyepelekan peringatan tsb. (https://www.bmkg.go.id/siaran-pers/siklon-tropis-senyar-terbentuk-bmkg-minta-siaga-cuaca-ekstrem-di-aceh-dan-sumut)
Menurut beberapa pakar politik dan budaya bahwa apa yang terjadi saat ini, itu karena semakin lunturnya meritokrasi, akhirnya muncullah pemimpin yang inkompeten akibat terlalu dinormalisasikannya praktik-praktik KKN (Korupsi, Kolusi, & Nepotisme), bahkan Presidennya sendiri mengakuinya bahwa dia juga punya orang titipan di lembaga pemerintahannya sendiri.
Bukti kegagalan sebuah negara paling konkrit adalah ketika banyak dan maraknya pekerja seks komersial di masyarakat, trend-nya saat ini sudah beragam bahkan sudah melalui jejaring sosial bukan lagi cara konvensional seperti di Film Pangku ini. Saya sih tidak berharap banyak terjadi perubahan signifikan di pemerintahan saat ini yang diisi oleh generasi baby boomers dan X. Hal yang ditakutkan apabila ini terus menerus dibiarkan, tidak menutup kemungkinan apa yang dialami seperti negara Bulgaria ketika warganya yang di dominasi oleh GenZ melakukan demonstrasi besar-besaran untuk menggulingkan pemerintahannya yang korup.
Sudah beberapa bulan aku menjauh dari isu-isu perempuan. Bukan karena aku tidak peduli lagi—justru karena terlalu peduli sampai rasanya setiap kata bisa membuka luka yang belum benar-benar mengering. Terakhir kali aku berani menulis atau membaca tentang perempuan adalah saat menyelesaikan tesis, dan setelah sebuah kejadian beberapa waktu lalu, aku merasa tidak punya tenaga untuk kembali ke ruang itu.
Bagi sebagian orang, isu perempuan mungkin hanya wacana. Tapi bagiku, ia selalu seperti teman lama: tempat pulang, tempat di mana aku bisa melihat diriku apa adanya. Karena itu, sempat ada rasa takut untuk kembali. Takut kalau aku menemukan bahwa aku tidak sekuat yang dulu. Takut kalau aku tidak lagi layak bicara soal kemandirian perempuan ketika diriku sendiri terasa rapuh.
Tapi menonton Pangku membuatku sadar bahwa ketakutan itu tidak sepenuhnya benar. Masih ada perih yang muncul, masih ada bagian yang menusuk, tapi film ini justru seperti tangan yang mengulurkan keberanian. Pelan, hangat, tanpa memaksa.
Reza Rahadian dan Felix K. Nesi menghadirkan perempuan—ibu tunggal, perempuan marjinal, perempuan yang sering tak terdengar—tanpa perlu mengumbar kesedihan. Tidak ada eksploitasi air mata. Tidak ada dramatisasi yang murahan. Yang ada justru sunyi: tatapan yang berat, gerak tubuh yang tertahan, ruangan sempit yang berbicara lebih banyak daripada dialog panjang. Semua itu terasa seperti cara film ini mengatakan, “Aku mendengarmu.”
Dan di tengah itu semua, aku merasa dirangkul. Bukan sebagai penonton, tapi sebagai seseorang yang pernah terluka oleh dunia yang sama.
Ternyata, kembali ke isu perempuan tidak membuatku runtuh seperti yang kutakutkan. Justru membuatku ingat bahwa kemenangan tidak selalu tampak seperti apa yang digambarkan banyak orang.
Kadang, kemenangan itu sesederhana keberanian untuk masuk kembali ke ruang yang pernah membuatmu berhenti.
Film Debut Reza Rahadian “Pangku” Sabet 4 Penghargaan Bergengsi di Busan
hainews.co.id – Film debut penyutradaraan Reza Rahadian bertajuk Pangku mencatatkan prestasi gemilang di kancah internasional. Dalam ajang Busan International Film Festival (BIFF) 2025, film ini berhasil menyabet empat penghargaan bergengsi, menandai awal karier Reza di balik layar dengan capaian luar biasa.
Empat penghargaan yang diraih Pangku adalah:
KB Vision Audience Award
FIPRESCI…