Menjadi Cikgu Besar di Usia duapuluhlima
Hai perkenalkan aku adalah mantan mahasiswa Al-Azhar yang sempat ambil pasca sarjana di salah satu universitas islam di Surabaya. Dalam perjalananku menulis tesis aku dititipi amanah untuk membersamai salah satu sekolah Pendidikan Anak Usia DIni di kotaku tinggal. Saat itu umurku baru beranjak 25 tahun. Terbilang sangat muda memang untuk mengemban gelar 'Kepala Sekolah'. Memulai semua benar-benar dari nol, yaa meskipun nggak nol nol banget karna kebantu nama yayasan yang sudah 7 tahun berkiprah mengembangkan madrasah diniyah (sekolah agama pasca TPQ). Menyetujui langkah ini benar-benar terkesan cukup nekat, dengan hanya berbekal pengalaman mengajar di dunia anak-anak yang seadanya dan backingan ridla dan restu orang tua, juga sebuah keyakinan 'ya nggak ada salahnya mencoba, toh ini hal baik, kenapa nggak nyoba maju dulu aja' Yap itu pikiranku saat itu. Dua tahun berselang, perjalannya nggak mudah. Perjalanannya benar-benar membuat aku bertemu dengan banyak hal baru, banyak pengalaman baru, banyak pelajaran baru. Hehe aku ingat betul di hari ke-6 sekolah mulai berjalan, aku didatangi salah satu walimurid yang meminta pertanggung jawaban sebab melihat anaknya terlihat seperti sangat dihiraukan ketika pelajaran sedang berlangsung. yang mana notabene anak ini mengalami Sensory Processing Difficulties. Sayangnya, istilah atau pemahaman-pemahaman seperti ini tidak mudah untuk diterima dan dipahami oleh orang tua pekerja yang pengennya instan-instan saja. Wal hasil ayah tersebut hanya memakiku dengan kalimat-kalimat amarah sebab ia merasa sekolahku bukan ruang yang aman untuk anaknya berkembang. Seketika ia pulang, aku langsung mengambil segelas air putih dan meminumnya sambil meneteskan air mata.
Tidak lama setelahnya, masih di semester yang sama masalah datang silih berganti. Aku sudah tidak begitu mengingat bagaimana sakitnya, namun semua masih terasa tidak begitu enak di hati. Hal yang bisa kusimpulkan saat itu hanyalah 'Oh ternyata sekolah PAUD itu tidak hanya anak-anak nya saja yang perlu diperhatikan, tapi orang tuanya juga' itu oleh-oleh yang kudapati dari tahun pertamaku menjadi Cikgu Besar.
Tahun berikutnya, pola masalah berulang. Masih seputar konflik antar walimurid. Dan PR besarnya tahun ini aku lebih banyak mendapati anak-anak dengan 'catatan' (seperti misalnya: speech delay, adhd, bahkan ada kecenderungan ABK).
Pola seputar penataran itu juga masih aku terima di tahun ini. Kali ini aku akui aku memberi keputusan yang salah dan berakibat aku harus kena tulahnya. Tapi tetap saja, sebagai nama besar yang meberi pelayanan jasa mereka tidak seharusnya memperlakukan kami sebegitunya. Singkatnya, di acara puncak tema transportasi, kami mengadakan acara naik kereta bersama mama dan anak. guna memberi mereka pengalaman menyenangkan untuk bisa naik kereta. Naasnya kami salah memilih stasiun tengah-tengah, dimana meskipun kami sudah mengantongi tiket, kami tetap tidak bisa meminta tempat duduk sesuai tiket kami saking penuhnya kereta saat itu. Walhasil ketika perjalanan pulang, tiba-tiba ada dari salah satu guru yang mengusulkan bagaimana jika kita menambah 2 stasiun untuk pemberhentiannya. Tapi ternyata, kami lupa kalaumembawa 130 orang itu tidak bisa seenaknya nyelonong turun di stasiun suka-suka kita. Walhasil kita dimarahin salah satu security. Tapi emang bapak security ini agak rese juga. dia bener-bener nggak mau kalah debat sama ibu-ibu. Selaku penanggung jawab pun aku sudah minta maaf berulang kali, tapi beliau bener-bener nggak mau kalah dan merasa dikeroyok ibu-ibu. Akhirnya aku ajak bapak itu untuk langsung ketemu saja dg bapak kondektur. Saat bertemu pun beliau masih dengan amarah yang begitu besar dan melempar kertas aturan KAI yang ditempelkan ke papan ujian ke arahku sambil tetap membentak-bentakku. Alhamdulillah masalah itu berakhir setelah dibicarakan dengan bapak kondektur yang lebih bisa diajak ngomong baik-baik.
Nggak berhenti di situ, Allah kirim lagi beberapa ujian untukku. Beselang 1 hari dari kejadian itu, masalah internal sekolahpun mulai berdatangan menyapa. Mereka datang sambil memberi salam pembukaan yang cukup menyesakkan hati. Tapi tidak papa, semua memang sudah seperti prediksiku sebelumnya. Aku sangat sangat amat menyiapkan sebelumnya bahwa masalah ini akan terjadi. ya, ini juga buah dari ketidak siapan yayasan dalam menerima SDM baru. aku akui itu juga bagian dari konsekuensi yang harus diterima.
Mungkin ini dulu yang mau aku bagi tentang bagaimana perjalananku menjadi kepala sekolah karbitan hehe. Ada hal seru lain yang akan aku ceritakan nantinya. hehe












