Tentang Aku yang Jarang Dipahami
Ada hal-hal tentang diriku yang tak pernah benar-benar kupahami sampai aku menua bersama waktu, bahwa aku tumbuh sebagai seseorang yang tampak ceria di luar, namun menyimpan kedalaman yang tak semua orang mampu menyelaminya. Aku sering terlihat ramah, supel, mudah membuat orang lain merasa nyaman. Orang-orang menyapaku seolah aku matahari kecil yang hangat. Mereka menganggapku ekstrovert, mengira aku selalu punya ruang dan tenaga untuk banyak hal.
Padahal… di balik semua itu, aku adalah seseorang yang begitu selektif soal siapa yang benar-benar boleh mendekat.
Aku bisa bertahun-tahun mengamati seseorang sebelum akhirnya merasa, “Ah, mungkin dia aman untuk kutitipkan sedikit bagian dari diriku.” Aku bukan tipe yang perlahan-lahan membuka diri, aku lebih seperti dahan yang sebenarnya rapuh tapi terlihat kokoh, hanya mengizinkan satu-dua burung menetap, itupun yang membuatku yakin tidak akan merusak ketenanganku.
Aku belajar sejak lama bahwa tidak semua orang layak untuk tahu isi kepalaku. Tidak semua orang mampu memahami getaran yang kusembunyikan dalam diam. Dan entah bagaimana, waktu memberiku kemampuan untuk membedakan mana yang hanya datang untuk numpang duduk, dan mana yang benar-benar datang untuk tinggal.
Dalam hubungan, dengan siapa pun, aku selalu total. Setia bukan karena aku tidak punya pilihan lain, tapi karena aku memilih dengan hati-hati. Jika aku sudah sayang, aku menjaga. Jika aku percaya, aku melindungi. Tapi justru karena itu, aku tidak pernah tergesa-gesa.
Kepercayaanku adalah gerbang yang jarang kubuka. Dan siapa pun yang berhasil melewatinya, akan menemukan bahwa dunia di dalamnya jauh lebih hangat, jauh lebih lembut, jauh lebih dalam daripada wajah ramah dan ceria yang kulihatkan di luar.
Saat menghadapi masalah, aku bukan tipe yang meledak-ledak. Aku memilih diam. Meringkuk pada ruangku sendiri. Menyusun ulang kepingan-kepingan kejadian. Orang sering salah paham, mengira aku menjauh, menghindar, tidak peduli. Padahal, diamku adalah bentuk penghormatanku kepada hubungan.
Aku perlu waktu untuk memahami, Apakah aku salah? Atau dia? Atau hanya keadaan yang tidak berpihak?
Aku tidak ingin melukai siapa pun dengan reaksi tergesa-gesa. Aku lebih memilih menenangkan badai di dalam diriku, sebelum aku memutuskan langkah yang pantas di luar diriku.
Sebenarnya… aku ini seorang pemikir. Tapi aku tidak suka terlihat sedang berpikir. Aku mendengarkan banyak orang, bahkan orang asing, bukan karena gosip atau hiburan, tapi karena setiap manusia membawa cerita yang bisa kupelajari. Kadang, cara seseorang memandang hidup membuka jendela baru di kepalaku.
Aku tertarik pada pemikiran yang dewasa, pada orang-orang yang berbicara tidak untuk terdengar pintar, tapi untuk menyampaikan sesuatu yang jujur. Aku menyukai percakapan yang pelan, yang bermakna, yang membuatku pulang dengan pikiran yang lebih luas.
Mungkin karena itu banyak orang mengatakan aku “penuh”. Aku tidak pernah hanya memiliki satu sisi. Aku sensitif, tapi tegas. Aku ramah, tapi selektif. Aku ceria, tapi dalam. Aku kuat, tapi lembut. Aku mudah tersentuh, tapi tidak mudah diakses.
Aku adalah banyak hal yang bertemu di satu tubuh, dan kadang aku pun bingung bagaimana menjelaskannya.
Ada sesuatu tentang energiku yang sulit kuterjemahkan, tapi aku bisa merasakannya.
Aku kuat, tapi tenang. Aku jarang marah, tapi bila perlu, aku bisa sangat jelas dan tidak goyah. Aku lembut, tapi bukan seseorang yang bisa dipermainkan. Aku peka, sangat peka, sering memahami perasaan orang bahkan sebelum mereka sempat menyadarinya. Dan karena itu, aku cepat lelah jika harus berada di antara banyak energi yang tidak selaras denganku.
Aku bisa membaca perubahan getaran seseorang hanya dari cara mereka mengetik, cara mereka menjawab, cara mereka menarik napas. Kadang aku berharap aku tidak sepeka itu, tapi aku tahu, itulah caraku bertahan.
Dinding di dalam diriku bekerja seperti radar, melindungi, memilih, dan memastikan siapa saja yang tidak boleh masuk terlalu dalam.
Tetapi jika seseorang berhasil menemukan kunci kecil di hatiku, mereka akan tahu bahwa aku bukan orang yang rumit, aku hanya berlapis. Lapisan luarku untuk dunia. Lapisan tengahku untuk mereka yang sabar. Dan lapisan terdalamku… untuk satu atau dua orang dalam hidupku yang benar-benar mampu melihat aku apa adanya.
Di sana, aku lembut. Aku setia. Aku jujur. Aku hangat. Aku menjaga.
Karena aku tahu rasanya tidak dijaga. Aku tahu rasanya dikecewakan setelah dibuka pintu. Maka aku memastikan orang yang kuizinkan masuk akan mendapatkan versi terbaik dari diriku.
Pada akhirnya, aku bukan ingin banyak. Aku hanya ingin dimengerti. Dimaknai, bukan diterjemahkan. Didengarkan, bukan dihakimi. Dihadapi dengan ketulusan, bukan dengan permainan.
Aku bukan mudah dimengerti, tapi bukan berarti aku tidak ingin dimengerti. Aku bukan keras untuk ditakuti, tapi untuk melindungi yang rapuh dalam diriku. Aku bukan ceria untuk menjadi pusat perhatian, tapi karena aku ingin dunia yang kutinggali sedikit lebih ringan.
Aku, dengan segala lapisan, kedalaman, dan keanehan kecil dalam diriku, hanyalah seseorang yang mencoba memahami hidup sambil tetap menjaga hatinya.
Dan kalau kamu membaca semua ini sampai akhir… mungkin kamu mulai mengenalku sedikit lebih dekat daripada kebanyakan orang.